Bojonegoro Bisa Memulai Buah Sukun Jadi Superfood, Desa Pajeng Gondang, Jadi Sentra

DIKUKUS: Pedagang buah sukun di tempat penampungan Pasar Kota Bojonegoro. Berjualan setiap pagi. Pembeli semakin bertambah. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya).

BOJONEGORORAYA – Buah sukun yang banyak tumbuh di Bojonegoro, berpeluang menjadi pangan masa depan atau superfood. Kaya karbohidrat dan beragam kandungan kesehatan. Alami.

Ahli gizi hingga ragam literatur dan riset memastikan kandungan sukun yang bermanfaat untuk kesehatan. Edukasi manfaat dan kandungan sukun perlu menjalar ke semua generasi. Sejak dini.

Kampanye sukun sebagai pangan masa depan perlu dimulai dari Bojonegoro. Dan, Bojonegoro bisa memulai edukasi sukun sebagai superfood. Potensi pohon sukun banyak tersebar di kawasan perbukitan Kecamatan Gondang, Bojonegoro, terutama di Desa Pajeng.

Pohon dengan daun besar lebar tersebut kebanyakan tumbuh di kawasan bantaran sungai atau kali. Bahkan, di bantaran Sungai Bengawan, cukup banyak tumbuh pohon sukun.

‘’Desa Pajeng itu kawasan sentra buah sukun. Banyak pohon sukun tumbuh. Sejak dulu,’’ kata Camat Gondang Rachmat Sholeh Farokhi, Minggu (30/8/2026).

Menurut Farokhi, sapaannya, ada tujuh desa di Kecamatan Gondang. Ada persebaran pohon sukun. Hanya, di Desa Pajeng, memiliki sentra pohon sukun. Pohonnya terawat. Petani dan warga masyarakat turun-temurun menanam dan merawat pohon sukun.

‘’Sentra buah sukun di Desa Pajeng. Sudah berbuah,’’ tutur pria pernah menjabat kabid di bakesbangpol setempat.

KAYA SERAT: konsumsi sukun. Sukun matang layak konsumsi ini banyak dijual di pasar tradisional di Bojonegoro. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya).

Sukun untuk Konsumsi hingga Dijual Lagi

Farokhi mengatakan, di Desa Pajeng, perkebunan buah sukun tersebar di tiga dusun. Tersebar. Meliputi Dusun Dodol dengan terdapat 63 pohon sukun. Di Dusun Dodol ini penanaman pohon sejak tahun 1960.

Pohon sukun di Dusun Dodol, masih terjaga sampai saat ini. Terawat. Distribusi buah sukun sudah mendatangkan ekonomi. Petani sukun ada yang sudah menjual. Ada juga buah sukun untuk konsumsi sendiri.

Sedangkan, di Dusun Pajeng, terdapat 6 pohon sukun. Pohon sukun di Dusun Pajeng, sejak tahun 1970. Petani memanfaatkan untuk konsumsi sendiri.

Baca Juga :  Disdik Siapkan Sekolah Responsif Gender, Kurikulum hingga Sarpras

‘’Di Dusun Panjeng (panen sukun) juga dijual,’’ tutur Farokhi.

Sementara, satu lagi di Dusun Bulu Jiwo, terdapat 17 pohon sukun. Petani setempat atau warga yang bertanam pohon sukun, sudah berbuah. Baik untuk konsumsi sendiri, hingga sudah mendatangkan ekonomi, dengan penjualan.

‘’Semua pohon sukun, kebanyakan tumbuh di bantaran sungai atau kali,’’ tutur pejabat pernah bertugas di badan pendapatan daerah (bapenda) tersebut.

Ahli  Gizi: Sukun Kaya Karbohidrat dan Serat

Beragam penelitian dan riset memastikan bahwa sukun (Artocarpus altilis) sebagai pangan masa depan. Kaya karbohidrat dan berpotensi sebagai pengganti beras.

Penelitian dari National Institute of Healt (NIH) menuturkan, sukun mengandung karbohidrat tinggi. Setara atau melebihi nasi dan kentang. Kaya serat. Rendah lemak, vitamin C, kalium, hingga asam amini esensial.

Sri Widowati dalam Jurnal Pangan, menyebutkan sukun memiliki 80 persen karbohidrat dan 302 kalori/100 gram. Pangan alternatif pendamping beras, terutama bermanfaat untuk yang menjalani diet.

Nove Zain Wisuda, ahli gizi dan nutrisi Bojonegoro mengatakan, kelebihan sukun tentu memiliki serat. Sejajar dengan nasi dan kentang sebagai karbohidrat, namun serat pada sukun bermanfaat untuk pencernaan.

Menurut Nove Zain, mengonsumsi sukun tentu meningkatkan jumlah bakteri baik dalam usus besar. Semakin beragam konsumsi karbohidrat, tentu semakin baik.

‘’Kampanye sukun lebih sebagai pilihan sumber karbohidrat yang kaya serat,’’ tutur pria bertugas di RSUD Padangan.

Pria tuntas menempuh Nutrition and Health dari Wageningen University & Research (WUR) Belanda mengatakan, kandungan sukun dengan serat cocok bagi masyarakat yang mengalami kegemukan hingga hipertensi.

‘’Tapi perlu diingat, konsumsinya sukun kukus, bukan digoreng,’’ tutur Nove Zain. (kza)