Harga Kedelai Melambung Tinggi, Produsen Tahu Bojonegoro Minta Pemerintah Intervensi

HADAPI PERSOALAN: Salah satu penggoreng tahu Bojonegoro di pabrik tahu turut Kelurahan Ledok Kulon. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA — Siti Kusnaini mengenyitkan dahi. Tahu dijajakan pedagang di Pasar Wisata Bojonegoro, Senin (1/9/2026) malam, ukurannya mengecil. Tidak seperti biasanya.

Saat si pedagang menerangkan alasan, barulah Siti Kusnaini mafhum. Kata si pedagang, harga kedelai sedang mahal. Ukuran tahu terpaksa disusutkan. Agar tetap ada keuntungan.

Pranyoto membenarkan itu. Pembina Asosiasi Perajin Tahu Tempe di Kelurahan Ledok Kulon, perkotaan Bojonegoro ini mengatakan, harga kedelai semula sekitar Rp 9.000 per kilogram (kg).

‘’Kini Rp 10.800 hingga Rp 11.000 per kg,’’ ujarnya, Selasa (2/9/2026) kemarin.

Menurut dia, kenaikan harga kedelai membuat para produsen tahu mengeluh. Ditambah, harga minyak goreng curah sedang naik pula. Semula Rp 18.000 per kg, kini Rp 22.000 per kg.

‘’Untuk menyiasati, harga tahu tidak kami naikkan. Namun, ukurannya diperkecil,’’ jelasnya.

Pranyoto berharap Pemkab Bojonegoro melalukan intervensi atau campur tangan mencarikan solusi. Kenaikan harga kedelai ini guncangan serius bagi ekonomi produsen tahu.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disdagkopum) Bojonegoro Moh. Akhmadi mengatakan, pihaknya mengatensi kenaikan harga kedelai di Bojonegoro.

Kini, lanjut Akhmadi sapaannya, DisdagkopUM Bojonegoro tengah melakukan pemantauan terhadap ketersediaan dan perkembangan harga kedelai di wilayah Bojonegoro.

‘’Untuk memastikan tidak terjadi penimbunan kedelai maupun permainan harga kedelai,’’ jelasnya.

Dalam pemantauan itu, lanjut dia, DisdagkopUM Bojonegoro berkoordinasi dengan para pihak terkait. Terutama, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bojonegoro. (sab/kza)

Baca Juga :  Bupati Wahono Ingin Koperasi menjadi Penyerap Utama Hasil Bumi