Pemkab Bojonegoro meluapkan atensi agar ledre terus lestari. Berperan dalam penetapan legasi, inovasi, dan fasilitasi melalui sinergi-kolaborasi di birokrasi.
LEDRE berikut keterampilan dan kemahiran warga Bojonegoro dalam membuat ledre, telah diakui secara nasional. Sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia asal Bojonegoro. Terdaftar di Kementerian Kebudayaan.
Ledre juga menjadi bagian dari Geopark Bojonegoro. Menjadi culturalsite atau warisan budaya dalam lanskap Geopark Bojonegoro. Dan, tahun ini Geopark Bojonegoro berkandidat naik kelas ke tingkat internasional berstatus UNESCO Global Geopark (UGGp).
Pemkab Bojonegoro berperan penting di balik penetapan legasi ledre sebagai WBTB maupun culturalsite geopark tersebut. Karena, Pemkab Bojonegoro yang mengurus aneka syarat dan ketentuan penetapannya melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Kini, Pemkab Bojonegoro di bawah kepemimpinan Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati (Wabup) Nurul Azizah makin serius mengeksiskan ledre. Hal ini ditegaskan langsung oleh Bupati Setyo Wahono saat launching Paket Wisata Padangan Wonderful, akhir Juli 2026.
‘’Tahun ini ledre harus bangkit lagi. Ledre khasnya Bojonegoro. Jangan sampai hilang,’’ tandas Bupati Setyo Wahono dalam launching Paket Wisata Padangan Wondefrul di tepi Waduk Sonorejo itu.

Salah satu cara mengeksiskan ledre ialah melalui wisata. Diawali dengan Paket Wisata Wonderful Padangan. Dalam paket wisata itu, produsen ledre di Pecinan Padangan menjadi salah satu titik destinasi. Mengajak wisatawan makin tahu ledre, sejak proses pembuatan.
‘’Ke depan, produsen ledre sebagai titik destinasi wisata, akan terus kami kembangkan,’’ ujar Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Amin Asrofin kepada Bojonegoro Raya, Senin (5/10/2026) siang.
Salah satu bentuk pengembangan, paket vakansi serupa akan diaplikasikan di Kecamatan Purwosari. Sebab, kecamatan ini juga pusat produsen ledre. Dan, ledre diupayakan beredar di semua obyek wisata se-Bojonegoro. Bukan di Kecamatan Padangan dan Purwosari saja.
Perihal keinginan toko oleh-oleh di Bojonegoro yang ingin kerja sama dengan travel-travel luar Bojonegoro agar travel-travel itu melarisi ledre setiap kali mampir atau melintas di Bojonegoro, Amin memastikan, keinginan tersebut akan ditindaklanjuti.
‘’Kami akan menindaklanjuti keinginan itu bersama pihak-pihak terkait. Sebab, ini tidak bisa kami lakukan sendiri. Perlu sinergi dan kolaborasi sebagaimana pesan bapak bupati (Setyo Wahono, red),’’ imbuhnya.
Kepala Bidang Promosi, Ekspor, dan Kerja Sama Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (DisdagkopUM) Bojonegoro Mahesa Ghalendra mengatakan, siap bekerja sama dengan Disbudpar Bojonegoro menindaklanjuti keinginan toko oleh-oleh ihwal ledre.
Birokrat muda akrab disapa Mahesa ini mengemukakan, eksistensi ledre memang perlu di-sengkuyung banyak pihak. Melalui kerja-kerja bersama. Melalui sinergi dan kolaborasi sebagaimana pinta Bupati Setyo Wahono dalam setiap kesempatan.
Sejauh ini, lanjut Mahesa, secara sektoral DisdagkopUM Bojonegoro telah berperan cukup banyak untuk ledre. Salah satunya, DisdagkopUM Bojonegoro ialah pihak yang menggandeng Ledre Sultan Sari Rasa menjadi bagian dari UMKM Geopark Bojonegoro.
‘’Dengan menjadi bagian dari UMKM Geopark Bojonegoro, Kami berharap ledre bisa makin mendunia. Mengingat, Geopark Bojonegoro saat ini berkandidat menjadi UGGp,’’ tuturnya.
Selain itu, alumnus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ini mengatakan, ledre pendek-pendek atau ledre mini yang diproduksi Ledre Sultan Sari Rasa merupakan dorongan DisdagkopUM Bojonegoro. Meneruskan usul dari Bupati Setyo Wahono.
‘’Kepada kami, bapak bupati usul ukuran ledre diperpendek. Supaya lebih enak ketika dimakan. Bisa sekali hap (telan, red). Kami meneruskan usul ini ke produsen ledre,’’ jelasnya.

Dalam Festival Ledre yang akan digelar di dekat Kantor Pemerintah Kecamatan Purwosari pada Kamis (8/10/2026), Disbudpar Bojonegoro dan DisdagkopUM Bojonegoro terlibat aktif. Berkolaborasi dengan Pemerintah Kecamatan Purwosari selaku insiator Festival Ledre.
Senin (5/10/2026) hingga Rabu (7/10/2026), Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Bojonegoro juga punya agenda di Kantor Pemerintah Kecamatan Purwosari. OPD ini menggelar pelatihan membuat ledre.
‘’Ada 22 orang dalam pelatihan itu. Semuanya warga Kecamatan Purwosari yang belum pernah membuat ledre,’’ tutur Kepala Disperinaker Bojonegoro Machmudi kepada Bojonegoro Raya, Selasa (6/10/2026) pagi.
Mantan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Bojonegoro ini meneruskan, dalam pelatihan tersebut, 22 peserta dilatih membuat ledre berukuran pendek atau mini. Menurut dia, ledre pendek atau mini lebih pas untuk era sekarang.
‘’Ledre pendek lebih enak di makan di berbagai momen. Seperti jajan biasa. Dan lagi, ledre pendek itu sesuai arahan bapak bupati,’’ jelas Machmudi.

Dia berharap, pelatihan membuat ledre yang digelar Disperinaker Bojonegoro di Kantor Pemerintah Kecamatan Purwosari itu berlangsung lancar dan hasilnya optimal. Melahirkan pelaku industri kecil menengah (IKM) baru. Melahirkan produsen ledre baru.
‘’Kami sangat mengatensi IKM ledre. Sebagai jajan khas dan identitas Bojonegoro, kami ingin ledre terus eksis, berkelanjutan,’’ tegasnya.
Lebih lanjut, Machmudi mengemukakan, saat ini ada sekitar 2.400 IKM dibina Disperinaker Bojonegoro. Sebagian di antaranya IKM ledre. Disperinaker Bojonegoro membantu soal peningkatan kapasitas, fasilitasi merek, desain produk, hingga sertifikasi halal. (sab/kza)

