Min Tjie Pencipta Ledre Layak Dapat Anugerah Penghargaan

LEDRE MELEGENDA: Tjeng Kian Nio alias Sri Eka Darmayanti alias Nyonya Seger, anak perempuan Min Tjie. Dia menunjukkan ledre. Camilan khas melegenda karya ibunya. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/ Bojonegoro Raya).

BOJONEGORORAYA – Min Tjie (baca: Mince) layak mendapat penghargaan. Sosok perempuan etnis Tionghoa asal Kecamatan Padangan, Bojonegoro, ini merupakan pencipta ledre.

Min Tjie sangat berjasa bagi Bumi Rajekwesi, sebutan Bojonegoro, yang akan mengarungi Hari Jadi ke 349 (HJB). Jasanya layak mendapat anugerah.

Min Tjie menemukan ledre sejak 1930. Relung waktu, hingga ledre awet sampai saat ini. Camilan gulungan menyerupai gapit itu masih tegak di tengah gempuran jajanan pabrikan.

Perempuan kelahiran 1914 tersebut telah kapundut. Pusaranya sederhana. Namun, terawat. Min Tjie wafat usia 88 tahun. Persisnya 2002 lalu.

Min Tjie dikebumikan di Bong Cino atau pemakaman umum etnis Tionghoa di Desa Purworejo, Kecamatan Padangan.

‘’Melihat cerita seperti itu, sudah saatnya Min Tjie layak mendapat penghargaan,’’ kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Elzadeba Agustina saat Sarasehan Ledre Bojonegoro di SMKN Purwosari, Rabu (7/10/2026).

Menurut Elzadeba, biasanya saat upacara Hari Jadi Bojonegoro (HJB) selalu memberi penghargaan terhadap sosok-sosok orang yang berjasa untuk Bumi Rajekwesi.

Tindak lanjut, menurut Elza, sapaannya, disbudpar akan mengusulkan kepada Bupati Setyo Wahono dan Wabup Nurul Azizah, agar Min Tjie mendapat penghargaan. Anugerah.

‘’Nanti kami sampaikan kepada pimpinan. Semoga masih bisa, karena HJB sudah sebentar lagi. Kalau tidak bisa nanti ada kesempatan lain kami berikan (penghargaan),’’ tutur Elza dengan optimisme.

Elza hadir dalam Sarasehan Ledre Bojonegoro, bersama Kabid Pariwisata Amin Asrofin. Mendengar cerita Min Tjie tersebut, pihaknya berkoordinasi akan mengusulkan penghargaan.

TEMPAT LAHIR LEDRE: Rumah mendiang Min Tjie di Pecinan Padangan, Sabtu (3/10/2026) pagi. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)
TEMPAT LAHIR LEDRE: Rumah mendiang Min Tjie di Pecinan Padangan, Sabtu (3/10/2026) pagi. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Era Penjajahan Jepang, Ledre Jadi Pangan Pengganti Nasi

Min Tjie menciptakan ledre sejak tahun 1930. Masa pendudukan Belanda dan Jepang. Ledre hampir satu abad. Empat tahun lagi, genap 100 tahun ledre mengudara.

Baca Juga :  Ledre, Riwayat Sunyi dari Padangan ke Purwosari

Berdasar laporan jurnalistik dan riset Bojonegoro Raya pada 3 Oktober 2026, Min Tjie salah satu warga Pecinan Padangan awal abad 20. Perempuan keturunan Tionghoa ini menelurkan ledre dari jemarinya. Ledre lahir di kediaman rumahnya yang sederhana.

Kini, Min Tjie sudah tiada. Namun, rumahnya di Pecinan Padangan masih ada. Masih utuh.

Sabtu (3/10/2026) pagi, Bojonegoro Raya berkunjung ke rumah tersebut. Bertemu dengan Tjeng Kian Nio alias Sri Eka Darmayanti alias Nyonya Seger. Dia anak perempuan Min Tjie.

‘’Di rumah inilah, ibu (Min Tjie, red) kali pertama membuat ledre,’’ cerita Tjeng Kian Nio alias Sri Eka Darmayanti kepada Bojonegoro Raya, Sabtu (3/10/2026) pagi itu.

Perempuan kelahiran 1948 ini mengemukakan, Min Tjie kali pertama membuat ledre pada awal 1930-an. Ketika itu, ibunya masih remaja, berusia sekitar 14 atau 15 tahun. Dan, Min Tjie membuat ledre awal dulu bentuknya tidak seperti ledre saat ini.

‘’Ledre awal dulu ukurannya lebih besar dari yang sekarang. Bentuknya seperti kue leker. Karena, membuatnya tidak digulung. Tapi ditangkup. Begitu cerita ibu,’’ kenang putri Min Tjie ini.

Perempuan memilih dipanggil Nyonya Seger ini memperkirakan, ibunya mengubah ukuran ledre lebih kecil dan mengganti bentuk ledre menjadi gulungan pada awal 1940-an.

Ada alasan kuat mendasarinya. Sulit mendapat bahan ledre. Ada krisis pangan imbas pendudukan militer Jepang.

‘’Waktu penjajahan Jepang itu, ledre juga menjadi makanan sehari-hari di sini. Gantinya nasi,’’ kenang Nyonya Seger.

Nyonya Seger berharap karya agung Min Tjie ini terus terawat. Anak-anak muda harus bisa membuat ledre. (sab/kza)