BOJONEGORORAYA – Semburat senja tergelincir di balik tenda. Angin semilir, lantung bercampur air mengalir di bawahnya. Serpihan eksotisme alam terhampar di Puthuk Kedung Lantung. Salah satu geosite Geopark Bojonegoro.
Menikmati indahnya sunset dan sunrise. Cahaya yang tampak memanjakan mata. Bentang alam eksotik itu sebagai menu camping ground pada Kamis (15/10/2026) hingga Jumat (16/10/2026).
Nuraini Putri salah satu peserta usai mendirikan tenda bersama tiga temannya. Tidak berselang lama, ia berselancar dengan kamera. Melihat pemandangan, cahaya kemerahan perlahan memudar.
“Senja terlihat menarik dari atas sini,” tutur peserta dari perwakilan Saka Pariwisata.

Para peserta camping bergandengan tangan membuat lingkaran. Menjalin keterikatan antara manusia dan alam. Saling berinteraksi.
“Ini momen menyatukan pemuda Bojonegoro, berharap tidak hanya selesai di sini tapi bisa saling menguatkan,” ucapnya.
Tidak hanya menikmati eloknya cahaya surya. Saat petang telah tiba, mereka juga belajar membuat lampu ublik. Untuk penerangan, sebelum ada listrik. Mengenalkan budaya masyarakat Kedung Lantung. Tempo dulu.
“Suasana dan acaranya sudah klik, ada kesinambungan antara alam dan kebudayaan,” ucap Anis Himmatul Khoiriyah
Anis dan teman-teman dari pramuka Unigoro antusias praktik membuat ublik. Memanfaatkan botol bekas dan sumbu. Tentu, mereka tidak mengambil lantung secara langsung. Melainkan memakai simulasi menggunakan BBM.
Ketua Bojonegoro History Muhammad Andre menjelaskan, camping ground di Kedung Lantung mengenalkan potensi wisata. Menggabungkan alam, sejarah, dan budaya dalam satu tarikan nafas.
Kekayaan alam, kearifan budaya, dan ragam sejarah bisa lestari. Saling melengkapi.
“Panorama alam Kedung Lantung tersembunyi. Senja di balik bukit dan lempengan geologi di aliran sungai. Belum banyak yang menjamah,” tutur pemuda asal Kecamatan Sugihwaras itu. (man/kza)

