BOJONEGORORAYA – Cuaca panas ketika jam sekolah di Bojonegoro, siswa harus bersiaga membawa tumbler air putih. Suhu sekitar 38 derajat Celsius harus bisa mengantisipasi dehidrasi.
Siswa harus mandiri membawa bekal tumbler. Namun, sekolah belum bisa menyediakan air isi ulang. Keterbatasan anggaran. Harus ada kesepakatan dengan wali murid untuk urunan atau patungan.
Kepala SMPN 1 Purwosari Sahir mengungkapkan, musim kemarau dan cuaca panas seperti saat ini, pihak sekolah telah menganjurkan siswa membawa tumbler. Mencegah dehidrasi peserta didik.
“Kami sudah anjurkan bawa tumbler, tapi memang ada yang bawa ada juga yang tidak. Memilih beli air di kantin sekolah,” ujarnya kepada Bojonegoro Raya.
Menurut Sahir, siswa butuh air minum lebih banyak saat cuaca panas mendera. Bahkan, sempat mengusulkan adanya air minum isi ulang. Di masing-masing kelas.
Namun, rencana tersebut tidak bisa terealisasi. Karena keterbatasan dana untuk penyediaan air isi ulang di kelas.
‘’Sudah ada rencana, tapi keterbatasan anggaran. Kalau kami tarik urunan nanti jadinya pungli. Tidak diperbolehkan,” tegasnya.

Simulasi Patungan Isi Ulang Bisa Rp 2.000
Sahir mengaku, jika ada kesepakatan dengan wali murid, bisa simulasi urunan Rp 2.000. Bisa mencukupi untuk ketersediaan air isi ulang.
Bisa untuk menyediakan air galon masing-masing kelas. Namun, kebijakan tersebut butuh kesepakatan wali murid dan musyawarah komite.
“Belum bisa, sehingga kami memanfaatkan kantin sekolah untuk kebutuhan air minum siswa. Beli sendiri,” tambahnya.
Senada, Kepala SMPN 3 Bojonegoro Abdul Ghofur mengaku siswa sudah banyak yang membawa tumbler. Sejak lama. Namun, sekolah belum bisa menyediakan air isi ulang. Keterbatasan anggaran.
Kadisdik: Urunan Isi Ulang, Harus Melalui Rapat Komite
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Bojonegoro Anwar Mukhtadlo mengungkapkan, rerata siswa saat ini sudah membawa tumbler ke sekolah.
Tumbler sebagai wadah minum. Mengantisipasi dehidrasi saat cuaca panas saat jam sekolah.
‘’Kalau bawa tumbler ketika merasa haus bisa langsung minum. Agar tidak sampai dehidrasi,” tutur pejabat pernah menduduki Kepala Bappeda setempat.
Tadlo menegasakan, penting untuk menjaga asupan kebutuhan minum siswa. Terlebih ketika musim kemarau panjang, cuaca panas.
Tentu, kebutuhan air minum siswa akan bertambah. Haus kian terasa, daripada hari biasa.
Menurut Tadlo, sekolah bisa saja menyediakan air untuk isi ulang tumbler. Namun, tantangannya adalah ketersediaan anggaran.
Sebab, secara regulasi sekolah tidak boleh menarik uang. Urunan dari orang tua pun harus melalui mekanisme kesepakatan rapat dengan komite sekolah.
“Harus ada kesepakatan bersama, jika tidak begitu akan jadi ramai (masalah, red),“ ungkapnya. (man/kza)

