Badan Geologi Segera Turun, Hasil Survei Jadi Penentu Eksploitasi Panas Bumi Gunung Pandan, Bojonegoro

ALAMI: Pesona Gunung Pandan dari Kecamatan Gondang. Survei dari Badan Geologi akan menjajaki potensi panas bumi. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya).

BOJONEGORORAYA – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai petakan potensi panas bumi Gunung Pandan, Bojonegoro.

Petugas segera survei pendahuluan rencana jadwalnya mulai bergerak pada 28 Oktober 2026. Hasil survei jadi penentu eksploitasi panas bumi Gunung Pandan. Potensi panas bumi Gunung Pandan berpotensi jadi pembangkit listrik.

Petugas akan survei selama 30 hari. Mulai survei geologi, geokimia, geofisika, dan magnetotelluric (MT) untuk mengukur medan elektromagnetik.

Sasaran survei di wilayah Kecamatan Sekar dan Kecamatan Gondang. Terutama Desa Krondonan dan Desa Jari. Juga, wilayah yang berdekatan, seperti Desa Sambongrejo dan Desa Senganten.

Petugas berencana mengambil 80 sampel tanah di beberapa titik di wilayah tersebut. Menjamah sumber mata air. Mengukur temperatur.  Serta, kandungan kimia dan meneliti jenis bebatuan.

‘’Kami ambil data dari permukaan. Hasil survei ini sifatnya masih intepretasi,” tutur Asep Sugianto, penyelidik bumi ahli muda Badan Geologi ESDM kepada Bojonegoro Raya pada Jumat (23/10/2026).

Menurut Asep Sugianto, tahapan survei untuk memperoleh gambaran awal. Mengkaji hasil survei. Menginterpretasi kajian survei.

Upaya ini, menurut dia, menjadi dasar pengambilan kebijakan untuk pengembangan geotermal Gunung Pandan.

Asep mengatakan, jika hasil survei potensi panas bumi bagus, bisa berlanjut tahap eksplorasi. Menguji secara detail potensi uap dan panas dari perut bumi.

Ketika sudah ada temuan survei awal, menurut Asep, kemungkinan besar bakal berlanjut tahap eksploitasi.

PANTAU: Tim Badan Geologi Kementerian ESDM melihat bersama peta Gunung Pandan. Badan Geologi akan lakukan survei Gunung Pandan, menjajaki potensi panas bumi.

Butuh Waktu Tujuh Tahun bila Mengarah Eksploitasi

Lagi-lagi, menurut Asep, jika potensi panas bumi bagus dan secara kajian teknis layak, akan pengembangan menjadi pembangkit listrik.

Dari survei ini, lanjut Asep, badan geologi memberikan rekomendasi kepada Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) ESDM.

Baca Juga :  Peran Pemkab Bojonegoro untuk Ledre: Tetapkan Legasi, Dorong Inovasi, Beri Fasilitasi

Asep mengungkapkan, untuk menuju hingga tahap eksploitasi membutuhkan waktu lama. Tujuh tahun semenjak izin terbit.

“Rerata membutuhkan waktu lebih dari 7 tahun. Base practice-nya di Indonesia hitungannya sejak keluar izinnya,” ujarnya.

Adapun, Gunung Pandan sudah menjadi wilayah kerja panas bumi (WKP) pada 2014 silam. Tentu, sebelum penetapan tersebut terlebih dahulu telah ada survei rinci. SK Kementerian ESDM sudah keluar.

Sebab, suatu wilayah tidak bisa mendadak menjadi WKP tanpa adanya data geosains. Survei geologi, geokimia, geofisika.

Termasuk harus sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW).  Serta, merujuk Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2017.

Asep mengamini bahwa wilayah Gunung Pandan sudah ada penetapan menjadi WKP panas bumi. Masuk daftar 14 WKP secara nasional. Kementerian ESDM masih percepatan lelang.

Namun untuk perizinan dan tahapan lelang pihaknya tidak berwenang. Dirjen EBTKE ESDM yang menjalankan.

PANTAU: Pesona Gunung Pandan dari jalanan di Kecamatan Gondang. Badan Geologi akan lakukan survei Gunung Pandan, menjajaki potensi panas bumi. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya).

Minimal Harus 20 Megawatt, Status WKP Bisa Turun Menjadi PSPE

Asep Sugianto membeberkan, satu megawatt perkiraan membutuhkan satu hektare lahan. Investor bakal melirik jika potensi panas bumi minimal 20 megawatt sampai 40 megawatt.

Di bawah angka tersebut, tidak memungkinkan untuk pengembangan menjadi pembangkit listrik. Bisa jadi saat hasil survei potensinya kecil, lebih mungkin memaksimalkan Gunung Pandan, untuk pariwisata. Atau sektor lainnya.

“Kalau untuk yang kecil-kecil itu bisa untuk ke wisata dan kesehatan. Tidak untuk industri,” katanya.

Menurut dia, untuk pengembangan panas bumi tidak berlangsung secara sepihak. Melibatkan Kementerian ESDM, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim dan Pemkab Bojonegoro.

Termasuk agenda sosialisasi survei pendahuluan kali ini, melibatkan pihak pemerintah desa (pemdes) setempat.

Namun, tatanan WKP panas bumi Gunung Pandan bisa turun statusnya menjadi Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE). Mengalami penyesuaian. Seperti WKP Simbolon.

Baca Juga :  Unggul Satryo Prabowo, ASN Bojonegoro Bike to Work ke Gondang, Tempuh Jarak 40 km

“WKP-nya batal dulu. Kalau perlu survei lagi, akan survei lagi,” tutur Asep Sugianto.

Lebih lanjut, hal itu sebagai strategi. Sebab, kebijakan Presiden Prabowo saat ingin mempercepat energi baru terbarukan (EBT) terealisasi. Salah satunya panas bumi.

Sehingga ada mekanisme PSPE. Menteri ESDM bisa memberikan penugasan, melalui badan usaha.

“Baik itu BUMN atau swasta untuk melakukan survei plus eksplorasi. Sampai benar pembuktiannya ada (uap dan panas buminya),” tambahnya.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Pemkab Bojonegoro Yudhistira Adi Nugraha mengharap sosialisasi rencana survei pendahuluan bisa ada pemahaman semua pihak.

Informasi kepada masyarakat bisa jelas dan klir. Agar tidak terjadi simpang siur informasi.

“Kami harap informasi (lengkap) kepada masyarakat, terutama warga desa di Kecamatan Gondang dan Sekar,” tutur pria pernah menjabat Camat Purwosari tersebut.

EGOWISATA: Salah satu titik Gunung Pandan berpotensi menjadi wisata. Badan Geologi akan lakukan survei Gunung Pandan, menjajaki potensi panas bumi. (Foto: Agus Prasetyo/ Bojonegoro Raya).

Menyimpan Tambang Andesit dan Vulkanisme Masa Lampau

Berdasar laman geologi.ugm.ac.id terdapat laporan berjudul Mengungkap Potensi Geowisata Gunung Pandan, Tambang Andesit dan Wisata Pancur 7.

Karya tulis Dayinta Sitaresmi Wibawa itu mengungkap bahwa Gunung Pandan, merupakan ceruk tambang andesit. Gunung Pandan bagian dari Zona Kendeng tersebut tambang andesit yang terbentuk dari aliran lava gunung api masa lampau.

Gunung Pandan menyimpan simbol sejarah vulkanisme yang membentuk lanskap ini.

Dayinta Sitaresmi Wibawa mahasiswa Prodi Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada angkatan 2022 tersebut melakukan pemetaan geologi dengan metode traverse mapping.

Mendokumentasikan setiap sudut punggungan lava, mencatat breksi andesit. Dengan fragmen andesit dan matrik vulkaniklastik mencerminkan aktivitas laharik atau letusan dahsyat masa lampau. (man/kza)