Oleh: Khorij Zaenal Assrori
Jurnalis Bojonegoro Raya
——————-
MUSIM haji telah tiba. Meski jemaah Bojonegoro belum berangkat, namun atmosfer haji sudah terasa. Sudah umek, yang berarti mulai sibuk dan dibahas ngalor-ngidul.
Musim haji menandakan bulan Syawal sudah berakhir. Kini, masyarakat menyambut perayaan 10 Dzulhijjah atau Hari Raya Idul Adha. Musim haji identik dengan Idul Adha, karena jemaah haji akan Salat Id di Makkah. Salat dekat Kakbah.
Musim haji telah tiba. Berarti ada pergerakan ekonomi, budaya, dan religi. Musim haji telah tiba, nantinya bakal bertambah warga Bojonegoro yang dipanggil “pak haji” atau “bu haji”.
Rencananya jemaah haji Bojonegoro berangkat pada 19-20 Mei nanti. Jumlahnya sebanyak 1.675 jemaah haji. Petani masih dominan profesi bisa memberangkatkan haji. Jumlahnya ada 453 petani yang akan berangkat ke Tanah Suci Makkah. Ada 73 aparatur sipil negara (ASN) yang izin cuti berangkat haji.
Berdasar Surat Edaran Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur, jemaah haji Bojonegoro terbagi atas lima kelompok terbang (kloter). Yakni kloter 63, 64, 65, 66, dan 67.
Tanggal 19 Mei 2025, jemaah haji dari Pendapa Malawapati Pemkab Bojonegoro, berangkat ke Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. Esoknya, atau 20 Mei, berangkat terbang menuju Arab Saudi.
Musim Haji Bojonegoro Seiring Melambatnya Daya Beli
Musim haji ini bisa menjadi setapak seiring kondisi pasar. Bisa menggugah pasar yang hampir senyap karena sepi pembeli. Musim haji sedikit membawa angin adanya perputaran uang. Belanja, tilik haji, hingga tasyakuran haji.
Musim haji ini menjadi berkah seiring kondisi pasar lagi kurang membaik. Terutama sektor perdagangan yang tertekan lesunya daya beli. Inflasi, katanya ada Trump Effect, imbas efisiensi anggaran, hingga pelambatan daya beli.
Ditambah “bulan selo” yakni bulan dalam kalender Jawa, yang identik dengan orang menahan membeli apapun. Saat bulan Selo, terdapat beberapa masyarakat meyakini menahan untuk belanja, membangun rumah, hingga aktivitas.
Berat. Sektor perdagangan melambat. Pedagang-pedagang pasar sambat. Pedagang usaha mikro kecil menengah (UMKM) terasa gagap dengan lesunya daya beli. Omzet melambat. Coba jalan-jalan ke pasar ketika bulan Selo, pedagang hanya menguap dan kantuk. Lalu, sambat sepinya pembeli.
Melambatnya daya beli ini bisa dilihat dari data indeks harga konsumen (IHK). Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro telah merilis IHK setiap bulan. Dan, tiga bulan ini tren IHK belum ada tanda-tanda menurun.
Misalnya, pada April 2025 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Kabupaten Bojonegoro sebesar 0,85 persen dengan IHK sebesar 108,78.
Sedangkan, Maret 2025 terjadi inflasi year on year (y-on-y) sebesar 0,13 persen dengan IHK sebesar 108,58. Adapun, Februari 2025 terjadi deflasi year on year (y-on-y) Kabupaten Bojonegoro sebesar 0,48 persen dengan IHK sebesar 107,17.
Pemkab Perlu Bikin Momentum Ekonomi
Nah, beruntung ada momen musim haji. Tanpa ada momen ini tentu, daya beli semakin berat. Bikin pusing sektor perdagangan.
Setidaknya musim haji, tentu ada tradisi tasyakuran haji. Berlanjut ada belanja dan perputaran uang untuk menggelar acara tasyakuran atau selamatan ucap syukur.
Bagi keluarga jemaah haji pun ada perputaran uang untuk membeli buah tangan haji. Nantinya disiapkan untuk prosesi kepulangan jemaah haji. Oleh-oleh silaturahmi atau tilik haji.
Musim haji, ada tradisi tilik haji. Ada perputaran uang untuk belanja sembilan bahan pokok (sembako) untuk tilik haji. Ada perputaran daya beli, terutama sektor perdagangan.
Musim haji telah berlangsung. Ada pergerakan ekonomi, meski tidak seramai saat puasa Ramadan dan jelang Lebaran. Namun, musim haji ini bisa menjadi angin sepoi saat sektor perdagangan merasa terserang cuaca sumuk dengan melambatnya daya beli.
Sektor apapun pasti akan merasakan efek usai Lebaran. Transaksi menurun hingga daya beli melambat. Nah, diperlukan momentum-momentum pasar untuk menggugah daya beli.
Kalau bisa semakin banyak ragam momentum, biar transaksi ini berdentum. Sektor perdagangan dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) bisa tersenyum.
Atau pemerintah daerah cakap membuat terobosan event-event yang ada pergerakan ekonomi kerakyatan. Semakin banyak event tentu akan menggugah perputaran daya beli. Melibatkan UMKM. Dan tidak memberatkan sektor riil.
Atau menambah sentra-sentra ekonomi baru, membuka pasar-pasar baru perdagangan. Menyusun plan dan strategi untuk membuka keran momentum pasar.
Biasanya, ketika musim haji seperti ini, di kampung saya di tepi Bengawan Solo, ibu-ibu ketika malam melakukan tradisi tilik haji. Membawa gula, sembako, buah, beras, hingga daging. Ada yang patungan karena berangkat berjamaah.
Lalu, berjemaah silaturahmi mengunjungi jemaah haji yang hendak berangkat. Mendoakan berangkat ke Tanah Suci dengan selamat. Dan, pulang menjadi haji mabrur. Asal bukan haji abdur. Apa itu Haji Abdur? Haji awan bengi tidur. (*)


