Oleh: Abdul Wahid
Kepala Kantor Kemenag Bojonegoro
——————
MEMPERINGATI Hari Amal Bhakti ke-79 Kementerian Agama (Kemenag), Jumat (3/1/25), bergegas mengingatkan sebuah kisah kala bertugas mengunjungi kampung pedalaman di Desa Tondomulo, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro. Sebuah perkampungan berjarak sekitar 44 kilometer (km) dari kawasan perkotaan Bojonegoro.
Sorot mata terasa berbinar. Hati terasa ingin menangis karena bahagia. Kenangan manis 2018 itu, kala anak-anak merasakan bisa mengaji dan bersekolah dengan mudah. Bertahun-tahun. Anak-anak melewati belantara dan jarak jauh. Guna bisa mengaji dan sekolah.
Siang itu, pendirian madrasah diniyah (madin) dan raudhatul athfal (RA) di Desa Tondomulo. Menjadi lembaran baru pendidikan agama dan pengetahuan di desa pelosok. Sebuah perkampungan sebelumnya minim lembaga pendidikan.
Wajah-wajah memancar dari para anak-anak atau santri. Melafalkan kitab suci dengan kehangatan. Sejak ada madin dan RA. Kitab, buku, dan pensil bisa bergerak. Guru, ustadz, dan santri, mampu melawan jurang mendapatkan ilmu agama dan pengetahuan. Sebuah kisah sedih, bila anak kesulitan dan melewati jarak jauh demi mengaji dan sekolah.
Kawasan jauh dari perkotaan itu berada di pelosok. Hutan jati. Dataran tinggi dan jauh dari bising deru mesin kendaraan. Lokasinya berjarak 44 km dari pusat perkotaan Bojonegoro. Berkendara motor butuh waktu sekitar 1,5 jam. Sebuah khazanah ilmu, di sebuah perkampungan pedalaman ada lembaga pendidikan.
Juga, pernah mengunjungi sebuah pondok pesantren (ponpes) di pedalaman Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro. Pendirian RA, madrasah ibtidaiyah (MI), dan madrasah tsanawiyah (MTs) itu cikal bergeraknya ilmu agama dan pengetahuan di sebuah perkampungan berbasatasan dengan Ngawi tersebut.
Kisah-kisah haru itu menjadi jejak. Menjadi arus balik bahwa masyarakat Bojonegoro bergerak mendapatkan ilmu agama dan pengetahuan. Zaman terus bergerak, indeks pembangunan manusia (IPM) terus membaik.
Guru Kemenag Menebar Khazanah Ilmu dan Pengetahuan
Seperti buku, Kemenag Bojonegoro terus menjadi lembaran-lembaran daya ungkit kemajuan daerah. Melahirkan lulusan siswa dan mahasiswa, untuk mendorong kemakmuran Bojonegoro.
Kemenag Bojonegoro memiliki lebih 1.300 PNS dan PPPK. Juga, lebih 10.000 guru bersertifikasi tersebar di 419 desa dan 11 kelurahan di kabupaten dialiri Sungai Bengawan Solo ini. Jumlah tersebut tentu belum termasuk honorer.
Guru-guru agama dan pengetahuan tersebut ada di seluruh tingkatan RA dan madrasah. Sesuai laman Kemenag, jumlah RA di Bojonegoro terdapat 274 lembaga. MI 293 lembaga, MTs 141 lembaga pendidikan, dan 67 madrasah aliyah (MA) setara SMA/SMK.
Salam hormat untuk guru tersebut. Mereka tidak lelah menebar khazanah ilmu. Menanam ladang-ladang amal jariyah demi kemajuan daerah. Semangat mereka tidak luntur meski keterbatasan anggaran dan jauhnya jarak ditempuh. Keterbatasan menjadi nomor sekian, niat dan tekad menjadi terdepan.
Belum semua gedung sekolah memadai dari RA sampai MA. Belum semua ponpes memiliki sarana prasarana menunjang. Tapi, Kemenag terus menyemangati lembaga pendidikan tersebut untuk memajukan daerah.
Bojonegoro merupakan kabupaten cukup luas nan membentang. Luas wilayah mencapai 230.706 hektare. Dari luas itu, 40 persen merupakan kawasan hutan. Terdapat 419 desa dan 11 kelurahan. Jumlah penduduk sekitar 1,3 juta. Dari jumlah itu, eksistensi guru-guru Kemenag, penghulu, para tokoh agama, menjadi pilar menopang rumah kita: Rumah Bojonegoro.
“Kolaborasi Kemenag dengan Pemkab Bojonegoro sudah menjadi keharusan. Kolaborasi ini seperti lidi yang diikat menjadi sapu untuk membersihkan kebodohan. Memungut sampah kemiskinan. Dan bersama melukis kemajuan Bojonegoro.”
Tekad di atas terangkum dalam tagline Hari Amal Bhakti ke-79 Kemenag Bojonegoro. Yakni, Bojonegoro Akur, Makmur, dan Membanggakan, Menuju Jawa Timur Hebat, Indonesia Tangguh. Tagline ini menjadi obor untuk memakmurkan Bojonegoro sebagai kabupaten dianugerahi sumber daya alam (SDA) energi melimpah.
Kenapa akur? Mengutip laman KBBI, kata akur memiliki arti mufakat, cocok, sesuai, setuju, seia sekata, bersatu hati. Tentu, akur di sini menjadi manifesto sinergi antara Kemenag dan Pemkab Bojonegoro menuju daerah makmur usai dilaksanakan hajatan pilkada.
Kita menyadari, Bojonegoro bakal memiliki kepala daerah baru. Tentu, tagline tersebut menjadi sirine kolaborasi Kemenag dengan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wakil Bupati (Wabup) Nurul Azizah yang bakal dilantik Februari mendatang.
Kemenag dengan peran dan fungsi yang melekat terus melaju. Bupati dan wabup baru nantinya, menjadi garda depan pemersatu kemajuan daerah. Menjadi inisiator kebangkitan umat. Bersinergi dengan Kemenag, bahwa kepala daerah baru ini menjadi penjelas, bahwa tidak ada disparitas lembaga pendidikan.
Kemenag terus mendampingi bupati dan wabup untuk menjaga pilar kerukunan beragama. Menebar kampung-kampung moderasi. Meneguhkan Bojonegoro sebagai kabupaten majemuk.
Kabupaten berbatasan dengan Jawa Tengah ini memiliki tekad bersama para pemuka agama menjaga moderasi agama. Indeks kerukunan antar umar beragama (KUB) di Bojonegoro yakni 87,5. Angka ini lebih tinggi dibandung indeks KUB nasional pada angka 76,02 persen pada 2024.
Lihat postingan ini di Instagram
Sesuai tema Hari Amal Bhakti ke-79 yakni Umat Rukun Menuju Indonesia Emas, setidaknya kolaborasi semua stakeholder menjadi penyangga Nusantara. Kemenag dan Pemkab Bojonegoro bersua bersama untuk sinergi menuju Indonesia Emas.
Jumat, Jejak Awal Hari Berdirinya Kemenag
HARI Jumat menjadi semangat spesial bagi Kemenag. Hari Amal Bhakti tahun ini bertepatan pada Jumat, 3 Januari 2025. Pada 79 tahun silam, persisnya 4 Januari 1946, juga hari Jumat, menandai berdirinya Kemenag.
Pemerintah mengumumkan berdirinya Kemenag melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI). Haji Mohammad Rasjidi seorang ulama menjadi Menteri Agama (Menag) pertama masa kepemimpinan Presiden Soekarno.
Sehari setelah pembentukan Kemenag, mengutip laman Kemenag, Menag H.M. Rasjidi dalam pidato disiarkan oleh RRI Jogjakarta menegaskan bahwa berdirinya Kemenag adalah untuk memelihara dan menjamin kepentingan agama serta pemeluk-pemeluknya.
Kutipan transkripsi pidato Menag H.M. Rasjidi yang mempunyai nilai sejarah, pada Jumat malam, 4 Januari 1946. Pidato pertama Menag H.M. Rasjidi tersebut terbit dalam surat kabar Harian Kedaulatan Rakyat di Jogjakarta, edisi 5 Januari 1946.
Dalam Konferensi Jawatan Agama seluruh Jawa dan Madura di Surakarta pada 17-18 Maret 1946, Menag H.M. Rasjidi juga menguraikan kembali sebab-sebab dan kepentingan pemerintah mendirikan Kemenag. Yakni untuk memenuhi kewajiban Undang-Undang Dasar 1945 Bab XI pasal 29 yang menerangkan bahwa “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” dan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.
Jumat menjadi hari agung. Hari berkah dan istimewa. Jumat menjadi hari lahirnya Nabi Adam. Hari Jumat juga sebagai sayyidul ayyam atau rajanya hari, karena itu ponpes memilih sebagai hari libur. Hari Jumat juga menjadi penanda keberkahan sesama.
Kata “jumat” berasal dari bahasa Arab, yakni al-jumu’a sebagai akar kata “jama’a” yang berarti berkumpul dan jemaah. Sudah saatnya, masyarakat Bojonegoro berkumpul dan akur menuju Jawa Timur Hebat dan Indonesia Emas. (*)

