Tradisi-Tradisi Haji di Bojonegoro yang Membudaya, Mulai Tilik Haji, Tasyakuran, dan Jedoran

HARU: Jemaah haji asal Kecamatan Baureno, Bojonegoro, saat menjalani tradisi pamit dan minta doa kepada keluarga, tetangga. Bersalaman hendak berangkat haji.

BOJONEGORORAYA – Tradisi-tradisi selama musim haji di Bojonegoro masih terjaga sampai saat ini. Membudaya. Turun-temurun. Mulai tilik haji, tasyakuran haji atau walimatus safar.

Tradisi musim haji lainnya seperti jedoran atau kini beralih jadi hadrah salawatan. Bermetafora. Berlanjut tradisi tret-tet-tet rombongan mengantar jemaah haji berangkat.

Berlanjut. Tradisi saat kepulangan haji di Bojonegoro juga masih terjaga. Silaturahmi sekaligus meminta doa dari haji yang baru. Membuka rumah, jagongan, mencicipi jajanan haji, minum air Zamzam.

Nono Suwarno budayawan Bojonegoro mengatakan, tradisi-tradisi masyarakat ini menunjukkan bahwa kearifan lokal di Bumi Rajekwesi masih terjaga. Tradisi haji di Bojonegoro ini tidak lekang oleh waktu.

Mulai tilik haji, walimatus safar atau tasyakuran haji, hingga tradisi jedoran dan rombongan mengiringi pemberangkatan serta kepulangan jemaah  haji.

Menurut Nono, sejumlah tradisi musim haji di Bojonegoro ini memberi warna bahwa budaya masyarakat lokal melintas zaman meskipun serbuan zaman serbamodern digital ini.

‘’Keteguhan masyarakat menjaga budaya. Kearifan lokal masih berlangsung meski zaman sudah berganti serbamodern,’’ tutur pria juga ketua Pamursadi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) tersebut.

Nono mengatakan, ada tradisi lain yang unik. Yakni, berganti nama ketika sudah berhaji. Ini jadi penanda hijrah. Dari manusia biasa, menjadi makhluk yang lebih beragama. Memotivasi ibadah.

‘’Saya dulu juga dapat nama baru usai haji di Makkah. Nama ini diberikan oleh maktab di Makkah sana. Tapi, saya tetap memakai nama asli saja. Nama identik Jawa,’’ tutur pria berhaji pada 2012 lalu ini.

Nono sendiri khatam menuntaskan rangkaian haji 2012. Tradisi itu terjaga sampai saat ini. Minggu ini, pria tinggal di Kecamatan Baureno itu ikut walimatus safar empat sampai lima undangan.

Baca Juga :  Adriyanto Pimpin Apel Terakhir di Pemkab Bojonegoro

Berikut tradisi-tradisi haji di Bojonegoro. Berbagai tradisi ini berlangsung saat musim haji, sepanjang sebulan sebelum para jemaah haji berangkat ke Tanah Suci Makkah.

Tilik Haji

Tradisi ini penanda tetangga, kerabat, dan teman, tilik haji ke rumah jemaah haji. Istilah lainnya silaturahmi atau unjung ke rumah CJH. Tradisi ini berlangsung sebulan sebelum pemberangkatan haji.

Tilik haji ini kerabat atau tetangga berdatangan dengan berjamaah. Bahkan, mereka patungan membeli sembako sebagai gawan atau barang bawaan jemaah haji. Gula, beras, buah, roti, hingga jajanan.

Tasyakuran Haji atau Walimatus Safar

Tradisi ini sebuah gawe atau kegiatan dari jemaah haji yang menggelar tasyakuran haji. Tasyakuran ini sekaligus walimatus safar atau tradisi selametan diadakan sebelum seorang berangkat haji.

Walimah berarti jamuan atau pesta. Sedangkan, safar berarti perjalanan. Walimatus safar ini rangkainnya dengan mengundang tetangga, kerabat, dan kolega mengikuti tasyakuran.

Rangkaian tasyakuran ini ceramah singkat dari kiai atau ustad kepada tamu undangan. Ceramah seputar ibadah haji dan amalannya. Usai ceramah, jemaah haji memberikan suguhan makan bareng.

Selain itu, jemaah haji yang merupakan tuan rumah juga memberi berkat atau hadiah berupa nasi atau masakan kepada tamu undangan untuk dibawa pulang. Buah tangan dari acara tasyakuran.

Jedoran atau Hadrah

Tradisi ini jemaah haji menggelar kegiatan seni budaya religi berupa jedoran. Menyenangkan. Berupa kesenian memainkan alat musik jedor atau perkusi menyerupai bedug, mengiringi salawatan.

Nada irama mengiringi salawatan itu. Juga, melafazkan mahalul qiyam secara bersama-sama. Salawatan dikemas dalam jedoran ini biasanya mengiringi saat acara walimatus safar.

Seiring waktu, jedoran mulai beralih berupa salawatan dengan hadrah atau terbangan. Hadrah ini seni musik religi yang lebih kekinian. Lebih familiar dan baru-baru ini juga cukup populer.

Baca Juga :  Jemaah Haji Bojonegoro Mulai Berangkat, Perjalanan Suci dan Ikhtiar Sehat

Tret-tet-tet Mengantar Haji

Tradisi ini dinanti-nanti keluarga jemaah haji. Kerabat dan tetangga rombongan mengantar jemaah haji berangkat menuju Pendapa Malawapati Pemkab Bojonegoro atau Alun-Alun Bojonegoro.

Yang rumahnya dekat, berjalan kaki bersama-sama menuju Alun-Alun Bojonegoro. Yang rumahnya jauh, rombongan memakai berbagai minibus atau elf, menuju Alun-Alun Bojonegoro.

Dulu, mengantarkan jemaah haji rombongan naik truk. Kini, lebih tertata, menggunakan minibus, elf, dan mobil pribadi berstiker rombongan pengantar jemaah haji.

Alun-Alun Bojonegoro dan perkotaan jadi macet. Tapi, menyenangkan. Sebuah momen satu tahun sekali. Penuh arti. Haru. Ibadah haji membuat perkotaan Bojonegoro jadi lebih semarak.

Pamit kepada Kerabat dan Tetangga

Sebelum berangkat menuju Alun-Alun Bojonegoro, ada prosesi doa bersama di depan rumah. Tangis, haru, saling berpelukan untuk pamit berangkat haji. Lantunan doa-doa bermunajat. Jemaah haji menyalami satu per satu saudara. Juga, tetangga dan kiai setempat.

PAMIT: Jemaah haji asal Kecamatan Baureno, Bojonegoro saat berdoa bersama dengan para tetangga, sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Silaturahmi Haji

Tradisi ini ketika pulang haji dan tiba di rumah. Kerabat, kolega, dan tetangga mendatangi rumah-rumah jemaah haji. Gembira. Riang dan saling bercerita selama ibadah di Madinah dan Makkah.

Tetangga juga datang bersama-sama. Haru dan menyenangkan. Menyimak dan mendengar cerita menyenangkan jemaah haji selama sebulan lebih menjalani ibadah di Tanah Suci.

Sebelum pamitan pulang, tetangga, kerabat, dan kolega meminta doa kepada pak kaji dan bu kaji baru yang usai menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Indah. Khidmat. Khusuk.

Minum Air Zamzam dan Mencicipi Jajan Haji

Saat silaturahmi ke rumah pak haji dan bu haji, para tamu juga meneguk air Zamzam serta mencicipi jajanan haji. Seperti kurma, kacang Arab, cokelat, hingga ragam manisan.

Adapun, tradisi-tradisi haji di Bojonegoro ini merupakan budaya dan religi yang masih terjaga. Tradisi yang luhur demi memuliakan ibadah haji, Rukun Islam ke lima.

Baca Juga :  Besok Pengumuman SNBT, Lulusan SMA/SMK Bojonegoro Perlu Tetap Pede

‘’Haji itu ibadah mulia. Dulu haji butuh perjuangan. Berbulan-bulan. Berangkat saja naik kapal laut selama 40 hari atau 2,5 bulan. Belum perjalanan pulang haji,’’ ujar Nono. (sab/kza)

error: Content is protected !!