Konser Dewa19, Livoli, dan Jazz Bengawan, Bisakah Bojonegoro Jadi Kabupaten Ramah Event

Oleh: Khorij Zaenal Assrori
Jurnalis Bojonegoro Raya
______________________

BOJONEGORO usai menjalani hajatan. Beragam event. Konser musik Dewa 19 yang menggetar. Kejuaraan Livoli Divisi Utama 2025. Kejuaraan voli bertaraf nasional. Banyak atlet nasional.

Fenomenal. Kejuaraan voli ini live di salah satu stasiun televisi (TV). Ditonton dari Sabang sampai Merauke.

Jazz Bengawan, sebuah konser musik berpadu seni dan budaya. Event pelestarian Bengawan yang menawan. Membudaya. Ada balap perahu dan pasar bengawan dengan menu khas Bojonegoro, sambal cemeding ikan wader.

Jazz Bengawan menjadi identitas Bojonegoro. Seperti Jakarta memiliki Java Jazz. Surabaya dengan Jazz Traffic. Bromo memiliki Jazz Gunung. Banyuwangi punya Jazz Ijen. Jogjakarta punya Jogja Jazz dan Prambanan Jazz. Bali punya Ubud Jazz.

Semua event di Bojonegoro itu ramai. Gemerlap. Seni pertunjukan dan event olahraga membawa nama Bojonegoro. Seni pertunjukan terasa hidup. Ada perputaran ekonomi yang bergerak.

Pengunjung ramai. Pengunjung dari luar daerah datang ke Bojonegoro. Bermalam di Bojonegoro. Hanya ingin menikmati konser musik atau event olahraga.

Selama di Bojonegoro, tentu pengunjung mengeluarkan uang. Ada transaksi. Daya beli bersemi. Inilah dampak positif ketika Bojonegoro menjadi rumah event pertunjukan.

SPEKTAKULER: Konser Dewa 19 berlangsung di Stadion Letjend H. Soedirman Bojonegoro begitu ramai. Sekitar 15.000 penonton.

Konser Dewa 19 Catatkan Sejarah

Seminggu berlalu. Namun, konser musik Dewa 19 masih terasa denyutnya. Sound yang menggebrak masih terngiang. Gerrr, suaranya seakan masih menempel di telinga. Baru kali ini ada konser dengan sound semegah itu.

Konser Dewa 19 di Bojonegoro begitu menggelegar. Sound menghentak. Penonton membludak. Semua berdetak. Dari ujung kaki sampai ujung kepala bergerak.

Larut. Penonton hanyut dengan sontekan lagu-lagu Dewa 19. Semua bernyanyi. Bareng suami-istri. Menikmati. Ada yang berceletuk: yang belum bersuami-istri menjadi iri melihatnya.

Bojonegoro mencatat sejarah. Konser termegah di Bojonegoro. Konser musik yang sensasional. Spektakuler. Penonton sekitar 15.000 orang. Angka yang fenomenal bagi Bojonegoro.

Baca Juga :  Mencuri Mori dan Korupsi: Menggali Kuburan, Mengais Anggaran

Lighting yang menyala. Cahayanya menjadi lipstik panggung. Menawan di tengah konser yang temaram. Lampu sorotnya yang tajam. Perpaduan laser semakin menggebrak panggung. Gemerlap lampu moving head, par LeD, hingga follow spot.

Sound yang dahsyat. Lebih dari horeg. Enak didengar. Tidak kempyang di telinga. Merdu. Info dari promotor, genset saja di atas 250 kVa. Sebuah angka yang spektakuler. Menyamai konser musik Synchronize di Jakarta.

Membawa Perputaran Daya Beli

Usai konser, Amir Syaifuddin owner Imagine dan promotor konser Dewa 19 segera kembali ke Malang. Pemuda asli Bojonegoro. Kelahiran Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Kota.

Rumahnya berdekatan dengan tanggul Bengawan. Hasratnya menggelar konser spektakuler Dewa 19 di Bojonegoro sudah kesampaian. Impian lama ingin meramaikan Bojonegoro sudah terlaksana. Sebuah obsesi mengingat dia kerap kali gelar megakonser di kota-kota lain.

Menelpon via WhatsApp (WA). Amir menuturkan konser Dewa 19 bukan sekadar event musik. Selebihnya sebuah langkah menumbuhkan daya beli ekonomi.

Ada 15.000 penonton. Dari riset dan pengamatan Imagine, terdata sekitar 3.000 motor parkir. Ratusan mobil berdatangan. Semua bawa uang. Datang sejak siang. Mengeluarkan uang. Jajan di Bojonegoro. Efek dominonya, pasar bergerak. Ada belanja di Bojonegoro. Investasi.

Menyumbang pendapatan asli daerah (PAD)? Tentu. Dari megakonser tersebut, tentu ada PAD yang masuk ke kas daerah (kasda). Mulai retribusi sewa stadion. Bisa jadi tarif atas, mengacu tarif dari peraturan bupati.

Pajak hiburan. Pajak porporasi tiket. Pendapatan yang masuk tidak sedikit. Menambah pundi-pundi pendapatan daerah. Riil. Seandainya, setiap bulan ada event spektakuler, tentu pasar ikut bangkit. Pendapatan ikut bertambah.

Seandainya setiap bulan ada event-event besar yang ditarik dan digelar di Bojonegoro, tentu semakin menggairahkan daya beli. UMKM bergerak. Ojek bersorak. Okupansi perhotelan bertambah. Obyek wisata ikut semarak. Membanggakan.

Baca Juga :  Bupati Wahono Launching Kalender Event dan Mars Bojonegoro
MENAWAN: Jazz Bengawan begitu sahdu berlangsung di tepi Bengawan Bojonegoro, persisnya Kelurahan Ledok Kulon. Jazz Bengawan ini konser musik dan event pelestarian bengawan.

Bangkit Mengonsep Daerah Ramah Event

Bojonegoro harus bangkit. Kota terpanjang dilintasi Bengawan Solo ini harus bisa mandiri, selain bertumpu pada sektor minyak dan gas (migas). Mengingat prognosa pendapatan migas mulai turun.

Bojonegoro layak menjadi kabupaten ramah event. Kabupaten yang “welcome” event-event besar dari promotor atau event organizer (EO) luar daerah. Bojonegoro harus sumonggo akan seni pertunjukan dan pameran.

Kabupaten tanpa memiliki jalan tol dan bukan jalur pantura ini harus cakap menggairahkan ekonominya. Bukan halangan. Tapi, cakap menggairahkan ekonomi.

Bojonegoro layak menjadi kabupaten ramah event. Akses jalur yang nyaman. Meski tanpa memiliki jalan tol, namun akses memiliki potensi jalur kereta api. Kabupaten yang bisa jadi terpanjang dilewati jalur rel kereta api. Dari Baureno sampai Padangan.

Meski tanpa memiliki bandara, namun akses menuju Surabaya banyak pilihan. Beragam kereta api jarak jauh berhenti di Bojonegoro. Membawa ke Surabaya atau Jakarta.

Arah menjadi kabupaten ramah event tentu harus disiapkan. Semua harus duduk bersama. Merumuskan kebijakan. Mengatur strategi. Riset dan data-data akurat.

Jangan sampai ketika menuju kabupaten ramah event, ternyata salah langkah. Pajak hiburan masih tinggi. Begitu pun, pajak restoran. Tarif sewa venue masih melangit. Perizinan masih rumit.

Kota Madiun dan Kabupaten Jember mulai melirik potensi ini. Kabupaten tersebut sudah mulai ada embel-embel gratis sewa “venue” untuk event besar. Atau tarif sewa venue yang murah.

Berkaca pada Solo

Solo atau Surakarta pernah menjadi kota yang ramah event. Anak-anak mudanya bangkit. Senang. Ekonomi bergerak. Hampir setiap minggu ada event-event besar yang berlangsung di Surakarta.

Bayangkan, pertandingan timnas Indonesia kerap kali berlangsung di Stadion Manahan, Solo. Ribuan suporter Garuda datang ke Solo untuk melihat aksi pemain Indonesia. Solo jadi kota jujugan.

Baca Juga :  Kartini dan Perawat Perempuan Bojonegoro: Cinta, Pengabdian, dan Kesejahteraan

Event musik pun sama. Beragam event musik berlangsung di kota kelahiran Wapres Gibran. Selama Gibran menjadi walikota dan ayahnya menjadi presiden, beberapa program pusat terutama event berlangsung di Solo. Benar-benar kota tersibuk dengan event.

SEMARAK: Penonton ikut bernyanyi kala Dewa 19 mulai berjingkrak di atas panggung. Konser Dewa 19 itu menjadi pertunjukan musik dengan jumlah penonton terbanyak di Bojonegoro.

Belum lama ini, ke Solo. Suatu malam, makan di sekitar Pasar Gede Hardjonagoro (Pasar Gede Solo). Beragam angkringan dan kedai. Perut sudah kenyang. Bergegas membuka aplikasi GoCar.

Hanya hitungan menit, sopir GoCar tiba. Menyapa. Menyilakan duduk di mobil. Memberi salam. Ngobrol. Sang sopir sambat. Mengeluh. Belum banyak orderan masuk. Sepi.

Sopirnya anak muda. Baru saja kredit mobil untuk ojek aplikasi GoCar. Sambat Kota Solo yang mulai sepi event. Menurutnya, sebelumnya setiap akhir pekan, selalu ada event besar. Terus menerus. Sampai berani kredit mobil gegara banyak orang datang ke Solo.

Sejak Gibran tidak menjadi walikota dan Jokowi sudah purna jadi presiden, event di Solo, mulai berkurang. Jalanan ketika akhir pekan tidak macet. Padahal, dulu selalu ramai.

Sekitar 15 menit duduk di GoCar, tiba di Stasiun Balapan, Solo. Saya kembali bertanya, kok ramai mobil parkir di tepi jalan di sekitar stasiun. Ternyata itu merupakan mobil ojek yang menanti orderan masuk.

Akhir tahun, biasanya ramai event-event besar. Bulan ini ada Hari Jadi Bojonegoro. Kira-kira, ada event apa yang berdampak ekonomi di Bojonegoro. Bukan event dengan modal besar, tapi investasinya lemah.

Secangkir kopi sudah bermimpi. Ayo Bojonegoro bisa menjadi kabupaten ramah event. Dan kabupaten berbatasan Jawa Tengah ini menjadi gerbang event Jawa Timur. (*)

error: Content is protected !!