Mencuri mori dan korupsi daya rusaknya memang berbeda. Namun, pelakunya sama bebal. Nekat mursal di jalan ritual.
——————
SALAH satu kuburan di Pemakaman Boto Putih, Desa Sumberarum, Kecamatan Dander, Bojonegoro, dibongkar orang, Rabu (25/3/2026) dini hari.
Diduga, orang misterius itu hendak mencuri kain kafan atau mori jenasah di kuburan baru tersebut. Beruntung, aksinya gagal. Kabur. Dipergoki orang.
Kapolsek Dander Iptu Warsito mengemukakan, jenasah di dalam kuburan itu perempuan berinisial Drs, warga Desa Kunci, kecamatan serupa.
Drs diketahui dimakamkan keluarganya Kamis (19/3/2026) lalu. Sore hari. Saat kalender Jawa sudah masuk Jumat. Pasaran Wage. Jumat Wage.
Di Bojonegoro, aksi membongkar kuburan untuk mencuri mori jenasahnya, bukan hal baru. Sebelumnya pernah terjadi di makam Desa Mori, Kecamatan Trucuk.
Kejadian pada awal Oktober 2017 itu dialami jenasah berinisial SA. Juga perempuan dan dimakamkan pada Jumat Wage. Persis, serupa Drs.
Dari dua kejadian itu, bisa diambil kesimpulan bahwa jenasah perempuan yang dimakamkan pada Jumat Wage rawan bernasib buruk.
Mori jenasah dengan kategori dimaksud berpotensi dicuri. Digunakan untuk ritual tertentu. Mitosnya, bisa mendatangkan pengasihan hingga kekayaan.
Menggali Kuburan, Mengais Anggaran
Yang dilakukan para pencuri mori jenasah atau maling cluring itu mungkin termasuk jalan pintas irasional. Berharap pada ghaib. Gelap. Belum tentu.
Sebab, memang tidak semua orang bisa menempuh jalan pintas yang terang. Lebih rapi. Hasilnya jauh lebih pasti. Misalnya, korupsi.
Dalam berkorupsi, orang tidak perlu menggali kuburan. Cukup mengais anggaran. Tidak perlu menunggu malam. Tunggu saja kesempatan.
Korupsi tidak mengamini mitos. Cukup percaya sistem bisa dilonggarkan dan dimanipulasi, aturan bisa dinegosiasikan, risiko bisa dibagi.
Di jalan pintas itu, kerja dilakukan berjemaah. Pembagian hasil diatur. Angka-angka disepakati. Diam-diam. Sonder mengundang perhatian.
Jika pencuri mori bekerja dalam gelap dengan jantung berdegup, para pelaku korupsi bisa bekerja di bawah cahaya. Tenang saja.
Mencuri mori dan korupsi tentu tidak setara daya rusaknya. Mencuri mori menyayat rasa kemanusiaan. Tapi, korupsi mengoyak lebih dalam.
Korupsi menggerogoti yang tidak terlihat, merampas yang semestinya menjadi milik orang banyak, memperpanjang antrean penderitaan.
Namun, di balik ragam perbedaan itu, ada hal yang sama: mencuri mori dan korupsi ialah ritual untuk sampai ke tujuan lebih cepat. Singkat.
Mencuri mori ritual lawas. Sedang, korupsi ritual yang terus diperbarui. Acap dimodifikasi agar selalu bisa menyesuaikan situasi. (*)

