BOJONEGORORAYA — Azan Asar usai berkumandang. Penanda jelang sore. Gerobak-gerobak dorong mulai bergotong-royong menuju sisi Jalan Desa/Kecamatan Purwosari, Bojonegoro.
Gerobak dorong berisi ragam kuliner tersebut berderet di kanan-kiri jalan desa poros kecamatan tersebut. Gerobak UMKM itu bersiap mengisi Pasar Takjil Ramadan. Pasar musiman kala Ramadan.
Menjemput Magrib di Desa Purwosari, menikmati ragam kuliner bergizi. Kudapan tradisional kaya nutrisi. Ragam es atau minuman dingin. Warna-warni kudapan. Etalase kuliner meredam hiruk-pikuk ruas jalan.
Serba-serbi takjil ini menjadi pasar dadakan selama Ramadan di Desa Purwosari. Menyenangkan. Semakin sore, pengunjung berdatangan. Ruas jalan membujur utara-selatan tersebut semakin riuh. Pengunjung berburu ragam takjil. Ngabuburit menjelang pudar matahari.
Odie Yandyar salah satu warga Desa Purwosari mengatakan, keramaian pengunjung terutama menjelang berbuka. Warga tumpah ruah di jalan raya memburu takjil untuk hidangan berbuka.
‘’Ramai banget ketika sore. Jalan digunakan untuk berjualan. Banyak yang menjual takjil,” tuturnya kepada Bojonegoro Raya.
Pasar Takjil Ramadan tersebut sudah berlangsung kali kedua. Bermula puasa Ramadan 2025. Tahun ini yang kedua. Banyak UMKM terlibat. Sehingga semakin beragam menu.
“Tahun ini semakin ramai, selagi cuaca tidak hujan,” timpalnya.
Menghidupkan nadi ekonomi desa, Kepala Desa (Kades) Purwosari Umi Zumrothin mengatakan, ide Pasar Ramadan bermula karena ingin mengurai kemacetan di depan Pasar Purwosari.
Selama bulan puasa, pelaku UMKM bergeser pindah ke poros jalan tersedia. Ruas jalan desa menuju kecamatan. Awalnya, lokasinya dekat pasar. Dekat rel kereta api. Tentu, rentan kendaraan.
“Kami sosialisasikan terlebih dahulu, agar UMKM selama bulan Ramadan bersedia pindah,” ungkapnya.
Saat ini, tercatat ada 50-an lebih UMKM menjajakan dagangan. Berbagai macam menu. Pedagang berasal dari warga lokal. Bahkan, warga luar desa hingga kecamatan, seperti Padangan.
“Tidak hanya warga Desa Purwosari, tapi juga UMKM dari desa lain yang ikut jualan,” tutur kades perempuan tersebut.
Umi mengaku, Pasar Ramadan Desa Purwosari bertujuan untuk menambah pemasukan warga. Menumbuhkan perekonomian saat Ramadan.
“Kami libatkan linmas, babinsa, dan bhabinkamtibmas untuk menjaga,” tutur kades hobi menonton sepak bola itu.
Bulan Ramadan menjadi berkah bersama. Tidak sekadar lembaran rupiah yang berpindah tangan, melainkan jadi denyut nadi perekonomian. (man/kza)

