Menangani siswa broken home, tidak bisa membaca, dan kesurupan. Sederet pengalaman Wahyudiono di SMPN 1 Kedewan.
BEL sekolah berbunyi. Siswa-siswi SMPN 1 Kedewan masuk kembali ke kelasnya masing-masing. Para guru berangsur meninggalkan ruang kantor dan kembali mengajar. Wahyudiono duduk santai, berpeci hitam bundar.
Tahun ini, Kepala SMPN 1 Kedewan itu usianya 59 tahun, tidak lagi muda. Meski begitu, semangatnya masih membara. Membimbing, mengarahkan guru dan siswa di sekolahnya. Banyak momen melekat, menjadi kenangan.
Dari pengalamannya selama mengabdi di SMPN 1 Kedewan sejak lima tahun lalu, rerata siswa dari keluarga broken home. Mereka anak-anak yang ditinggal orang tua bekerja hingga korban perceraian.
‘’Payah ketika membenahi mentalnya (siswa broken home, red)” ungkapnya, kepada Bojonegoro Raya, Rabu (22/4/2026) pagi.
Wahyudiono mengenang, pernah ada satu siswa SMPN 1 Kedewan tidak bisa membaca. Padahal, seharusnya sudah fasih. Setelah ditelusuri, ternyata si siswa dari keluarga tidak mampu. Ayahnya kapundut. Ibunya depresi. Stres.
Tidak pelak, si siswa itu pun tampak kurang asuhan. Alam pikiran dan keadaan tidak mendukung belajar serta pertumbuhannya. Bahkan, cenderung merusak mentalnya.
Di sekolah, kerusakan mental itu terbawa. Si siswa berkarakter pendiam. Tidak fokus dalam pembelajaran. Juga enggan bersosialisasi atau berinteraksi dengan teman-temannya.
Celaka, kondisi seperti itu tidak banyak dipahami teman-temannya. Suatu kali, si siswa sampai menjadi korban bullying. Membuat mentalnya semakin rusak. Tidak mau bersekolah.
Wahyudiono mengungkapkan, pihaknya harus memberikan perlakuan khusus untuk membenahi mental siswa itu. Rela berkompromi. Si siswa diliburkan tiga bulan. Namun, tetap dalam perhatian.
Setelah masa kompromi habis dan mental siswa membaik, Wahyudiono meminta si siswa kembali bersekolah. Memastikan keadaan sudah aman. Tidak ada perundungan lagi. Justru sebaliknya.
‘’Akhirnya mentalnya perlahan membaik. Berani berinteraksi dengan teman-temannya,’’ imbuhnya.
Eks guru olahraga itu meneruskan, pihaknya tidak sekadar memberi pendampingan moral bagi si siswa tersebut. Bahkan, sampai membantu memenuhi biaya hidup, pakaian, dan kebutuhan lainnya.
‘’Alhamdulillah, dia sudah lulus tahun kemarin. Kami ikut senang bisa mendampingi,” tutur kepala sekolah hobi main voli tersebut.
Ada pengalaman lain yang juga membekas di ingatan Wahyudiono. Yakni, menangani siswa kesurupan pada 2024 silam. Sekitar 18 siswa sama meracau. Kelesotan di lantai.
Wahyudiono tentu kaget dengan fenomena dilami belasan siswanya itu. Baru pertama kali dihadapinya. Setidaknya, selama 35 tahun mengajar di Bojonegoro—sejak 1991 silam.
Akhirnya, pihak sekolah mendatangkan kiai setempat dan berkoordinasi dengan Polsek Kedewan. Membantu mengevakuasi anak-anak kesurupan. Merawat mereka.
‘’Semua siswa saat itu saya pulangkan. Khawatir bertambah banyak (siswa kesurupan, red). Jadi kacau,” kenangnya.
Lain itu, pendidik tinggal di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Bojonegoro itu mengatakan, dia pernah kecelakaan lalu lintas sepulang dari SMPN 1 Kedewan.
Mafhum. Perjalanannya jauh. Naik motor. Waktu kecelakaan lalu lintas itu, dia kondisi mengantuk. Motornya pun nyelonong keluar badan jalan. Membawanya terperosok di tepi hutan.
‘’Ada sepuluh menit saya tidak bisa bangun tertimpa motor. Kaki terkena knalpot, jadi gosong,” ujarnya.
Wahyudiono merefleksi, menjadi guru adalah pengabdian. Harus bersyukur meski ditempatkan di sekolah pedalaman. Sebisa mungkin, justru terus menebar manfaat bagi perkembangan pendidikan di sekolah pendalaman.
‘’Jadi guru tidak bisa kaya. Terpenting, bisa memberi manfaat di mana pun berada,” pungkasnya. (man/sab/kza)
— Artikel ini bagian dari Majalah Pintar yang diterbitkan Bojonegoro Raya, Sabtu (2/5/2026) lalu. Menepati Hari Pendidikan. Beredar digital, dalam format pdf dan flipbook.

