Bank Sampah Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Bentuk Satgas TPS3R hingga Tiga Dusun

07/10/2026
KOMITMEN LINGKUNGAN: Pelatihan manajerial Bank Sampah di Balai Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Bojonegoro. Kini, juga bentuk Satgas TPS3R.

BOJONEGORORAYA – Kepala Desa (Kades) Sudu, Kecamatan Gayam, Bojonegoro, Abdul Manan meminta warganya sesarengan terlibat aktif dalam bank sampah.

Kolaborasi warga ini hingga terbentuk Satgas TPS3R yang akan menjadi bagian dari penggerak pengelolaan sampah di tingkat desa. TPS3R yakni tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle.

Manan memastikan, pengelolaan bank sampah butuh keterlibatan masyarakat secara langsung.

Kelembagaan tingkat desa maupun dusun menjadi salah satu langkah penting agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan sesaat.

‘’Pengelolaan sampah ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah desa, pengurus, dan masyarakat harus bersama-sama mengambil peran,” ujar Abdul Manan.

Semangat tersebut menjadi bagian dari Pelatihan Manajemen Bank Sampah dan TPS3R berlangsung di Balai Desa Sudu, Selasa (7/10/2025).

Pelatihan tidak sekadar memilah dan mengelola sampah, tetapi juga pentingnya manajemen menjalankan bank sampah dan TPS3R.

Tata kelola atau manajerial bank sampah juga penting. Butuh pengetahuan dan pembagian peran. Serta, kelembagaan mampu memastikan pengelolaan sampah dapat berjalan konsisten di masyarakat.

Adapun pelatihan juga memahami pengorganisasian hingga pembagian tugas.

Kelembagaan Bank Sampah hingga Tingkat Dusun

Salsa Revianur Pradina dari Tim Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI) menyampaikan bahwa kegiatan ini bagian Program Kampanye Praktik Baik Pengelolaan Sampah di Sekolah dan Komunitas Aliran Sungai yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama YDTI.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada peserta agar pengelolaan sampah lebih terstruktur.

“Pengelolaan bukan hanya soal sampahnya, tetapi juga bagaimana membangun sistem. Siapa yang mengelola. Bagaimana pembagian tugasnya. Bagaimana memilah sampah dan bagaimana kegiatan bisa terus berjalan,” jelas Salsa.

Menurut Salsa, penguatan kelembagaan menjadi salah satu kunci agar kegiatan pengelolaan sampah berkembang. Dan, tidak bergantung satu atau dua orang saja.

Baca Juga :  Geopark Bojonegoro yang Nyeleneh, Pengeboran Minyak Terdangkal di Dunia

Ketika sudah ada pengurus dan pembagian peran yang jelas, masyarakat akan lebih mudah terlibat.

“Harapannya, bank sampah dan TPS3R ini bisa menjadi sistem berjalan bersama masyarakat. Bukan hanya kegiatan ketika ada program,” lanjutnya.

Salah satu pencapaian penting terbentuknya pengurus Satgas TPS3R yang akan menjadi bagian dari penggerak pengelolaan sampah di tingkat desa. Pembentukan Satgas TPS3R menjadi langkah penting memperkuat pengelolaan sampah secara lebih terorganisasi.

Adanya pengurus, pengelolaan memiliki pembagian tugas lebih jelas dan dapat berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.

Terbentuk Pengurus Bank Sampah Tiga Dusun di Desa Sudu

Selain itu, juga menghasilkan capaian lain berupa terbentuknya pengurus bank sampah di dua dusun lainnya. Yakni, Dusun Tenggor, Dusun Kembangan, dan Dusun Alas Mati

Pembentukan pengurus di tiga dusun menjadi langkah memperluas gerakan pengelolaan sampah agar tidak hanya terpusat di satu wilayah.

Semakin banyak dusun memiliki pengurus bank sampah, masyarakat memiliki ruang lebih dekat mulai memilah dan menyetorkan sampah dari rumah.

“Ini menjadi awal yang baik karena semakin banyak masyarakat yang terlibat pengelolaan sampah,” ungkapnya.

Terbentuknya Satgas TPS3R serta pengurus bank sampah di Dusun Tenggor dan Kembangan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah mulai mengarah menjadi gerakan lebih luas.

Dari pelatihan, lahir pengurus. Dari pengurus, lahir kebiasaan baru di masyarakat.

EMCL Apresiasi Komitmen Warga dan Pemdes Sudu

Sementara itu, Almaliki Ukay Sukaya Subqy pimpinan Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat EMCL mengapresiasi komitmen warga dan Pemdes Sudu membangun fondasi kelembagaan kokoh.

Menurut Malik, kunci keberhasilan pengolahan sampah berbasis komunitas terletak pada kesiapan sumber daya manusia (SDM) mengelolanya.

“Perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat butuh wadah terorganisasi dengan baik,” tutur Malik.

Baca Juga :  Runergy Bojonegoro, Momen Sinergitas Warga dan Industri Hulu Migas

Menurut Malik, pembentukan Satgas TPS3R dan pengurus bank sampah di Dusun Tenggor, Kembangan, dan Alas Mati ini adalah langkah strategis.

EMCL terus mendampingi penguatan kapasitas warga agar fasilitas pengolahan sampah ini tidak hanya mengurangi beban limbah lingkungan.

Tetapi, juga memberi dampak sosial-ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi Desa Sudu.

Melalui perluasan struktur ini, masyarakat tiap dusun kini memiliki akses lebih dekat untuk memilah dan menyetorkan sampah dari rumah. Ke depan, pengurus yang baru dilatih akan memimpin operasional penimbangan, pencatatan administrasi, hingga integrasi pemanfaatan sampah guna mendukung kesejahteraan warga setempat. (sab/kza)