Batik Sandi Perang Diponegoro Warnai Bojonegoro Wastra Batik Festival

KEBANGGAAN: Tonik Sudarmadji menunjukkan salah satu motif Batik Maos, khas Cilacap. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA — Tonik Sudarmadji dikelilingi puluhan kain batik. Wajahnya berseri menyambut siapa saja yang mengunjungi stand-nya di Bojonegoro Wastra Batik Festival.

Tonik sapaannya mengaku senang bisa menjadi partisipan salah satu pameran batik dan kerajinan terbesar di Jawa Timur (Jatim), diselenggarakan di Alun-Alun Bojonegoro tersebut.

‘’Saya dari Cilacap. Sampai di Bojonegoro tadi malam,’’ ujarnya saat diwawancara Bojonegoro Raya di stand-nya, Rabu (17/6/2026) siang.

Perajin Batik Rajasa Mas di Desa Maos Kidul, Kecamatan Maos, Cilacap itu mengemukakan, dia mengikuti Bojonegoro Wastra Batik Festival mewakili Dekranasda Cilacap.

‘’Di sini, saya membawa Batik Maos. Batik yang menjadi identitas, sejarah, dan kebanggaan Cilacap,’’ imbuhnya.

Tonik meneruskan, ada beragam motif Batik Maos. Mulai motif klasik sejak abad 18, hingga motif kontemporer. Salah satu motif klasik Batik Maos yakni Cebong Kumpul.

‘’Batik motif Cebong Kumpul ini, dulu merupakan kode atau sandi Perang Diponegoro,’’ ungkapnya.

Kisahnya, jika ada batik bermotif Cebong Kumpul di suatu wilayah, maka di wilayah itulah ada pasukan Pangeran Diponegoro. Sebuah pasukan yang sudah siap.

‘’Dengan mengikuti Bojonegoro Wastra Batik Festival ini, kami berharap Batik Maos semakin dikenal luas,’’ lanjutnya.

Arya punya harapan serupa. Dia dari Terebatik, Kudus. Di Bojonegoro Wastra Batik Festival, dia mewakili Dekranasda Kudus. Memamerkan batik khas Kudus yang beraneka motif.

‘’Salah satunya, motif Laras Muria,’’ terangnya saat ditemui Bojonegoro Raya di stand-nya, Rabu (17/6/2026) siang.

Bergeser kembali ke Jatim, ada Dwi Mawadati. Dia perajin batik dari Blitar. Memimpin rumah produksi batik bernama Batik Kinasih di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Sutojayan, Blitar.

‘’Saya mewakili Dekranasda Blitar,’’ tuturnya kepada Bojonegoro Raya di stand-nya, Rabu (17/6/2026) siang.

Baca Juga :  Perajin Batik Binaan Industri Migas turut Ramaikan Bojonegoro Wastra Batik Festival

Selain Batik Kinasih, lanjut Dwi Mawadati, ada dua rumah produksi batik Blitar yang juga ke Bojonegoro mewakili Dekranasda Blitar. Yakni, Batik Lwang Wentar dan Batik Jagadjowo.

‘’Di Bojonegoro Wastra Batik Festival ini, kami bawa batik khas Blitar yang motifnya beragam,’’ imbuhnya.

Salah satu motif batik khas dan kebanggaan Blitar yakni motif Cakra Palah. Motif tersebut, terang Dwi Mawadati, terinspirasi dari Candi Palah atau sekarang ini Candi Penataran.

Lebih lanjut, Dwi Mawadati berharap, acara serupa Bojonegoro Wastra Batik Festival rutin digelar. Menurut dia, bagus. Jadi ajang eksistensi, promosi, dan membuka peluang kolaborasi.

Untuk diketahui, selain dari Cilacap, Kudus, dan Blitar, banyak perajin batik dari daerah lain yang menjadi partisipan dalam Bojonegoro Wastra Batik Festival. Baik daerah di Jatim maupun Jateng.

Dari Jatim, di antaranya dari Jember, Sidoarjo, Tuban, Lamongan, Madiun, Pasuruan, Pamekasan. Sementara dari Jateng, di antaranya dari Boyolali, Kebumen, Surakarta, Purworejo. (sab/kza)

error: Content is protected !!