Pesan Kacabdindik Bojonegoro–Tuban dalam Hardiknas 2025

Oleh: Hidayat Rahman
Kepala Cabdindik Jatim Wilayah Bojonegoro–Tuban

——————-

MELEWATI hutan jati. Menyeberang Bengawan Solo, hingga naik angkutan umum dan angkutan pelajar gratis menjadi kisah para siswa Bojonegoro, untuk berangkat bersekolah.

Kesadaran untuk jadi pribadi maju dan berpendidikan adalah penggerak para siswa di Bojonegoro dalam memakai seragam, berdoa, membuka buku, menyimak, dan patuh pada guru di kelas.

Kendati saat ini pendidikan tidak lagi mutlak terbatas pada buku, papan tulis, dan penjelasan dari guru, hadir dalam pengalaman dan tantangan itu tetaplah penting. Sayang ditinggalkan.

Pesan bijak Ki Hajar Dewantara masih melekat. “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang dirayakan Jumat (2/52025) ini, memberi manfaat bagi semua. Momentum Hardiknas ini jadi refleksi agar para siswa lebih berbakti kepada orang tua dan guru.

Orang tua dan guru yang mengantarkan siswa bisa mengenyam pendidikan. Eksistensi orang tua dan guru menjadikan siswa yang belum paham, menjadi mengerti.

Ini menjadi mercusuar bagi siswa. Kemudi yang mengarahkan siswa menjadi berkualitas dan kompeten. Di hari pendidikan ini, mari kita semua belajar positif dari para pejuang pendidikan.

Teruskan estafet dari para pejuang pendidikan. Mereka telah menelurkan cita-cita mulia seiring kemerdekaan. Yakni, meneguhkan pendidikan bagi semua anak bangsa. Demi generasi bermutu.

Sebagaimana pesan Ki Hajar Dewantara, setiap orang adalah guru. Dan, setiap tempat adalah ruang kelas. Ambil dan hayati pesan-pesan positif dari setiap orang. Itu atlas untuk menapaki masa depan.

Pendidikan sejatinya menghargai keunikan tiap anak. Tugas kita bukan membentuk para siswa menjadi seragam, melainkan memberi ruang agar mereka tumbuh sesuai bakat dan potensinya.

Baca Juga :  Pelangi yang Indah Warnai Pesta Gol Persibo Bojonegoro ke Gawang RANS Nusantara

Lebih dari itu, Ki Hajar Dewantara juga mengajarkan filosofi pendidikan yang hingga kini masih menjadi pijakan: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Pendidikan Adalah Urusan Bersama

Hardiknas menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah urusan bersama. Pemerintah, sekolah, orang tua, masyarakat harus menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, bermutu, dan berkelanjutan.

Di Bojonegoro, bentuk partisipasi ini tampak dalam berbagai program inovatif. Seperti pelatihan keterampilan, program literasi desa, hingga kolaborasi antara sekolah dan pelaku industri lokal.

‘’Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua’’ menjadi tema Hardiknas 2025 yang meneduhkan, inspiratif, dan inklusif itu. Semua memiliki peran dalam memajukan pendidikan.

Hardiknas juga bukan sekadar perayaan seremonial. Tapi, momentum reflektif menyalakan kembali semangat belajar dan berkarya demi terwujudnya masa depan yang lebih cerah.

Bagi pelajar, Hardiknas harus menjadi obor untuk melangkah lebih jauh–melampaui batas-batas ruang kelas. Berkarya, menciptakan teknologi sederhana, menulis cerita, hingga tampil di atas panggung.

Hardiknas juga penanda gairah dimulainya perjalanan panjang para siswa. Dari ruang-ruang kelas di desa-desa, mereka harus dididik dengan baik. Agar, bisa melesat ke panggung nasional dan global.

Mari rayakan Hardiknas ini dengan terus menyemai harapan, mendukung partisipasi semua pihak, dan mendorong generasi muda Bojonegoro untuk bermimpi serta mewujudkannya.

Mari terus menyalakan gairah belajar dan berkarya. Karena, pendidikan bukan hanya soal hari ini–Hardiknas ini. Tapi tentang masa depan yang sedang kita rangkai bersama. (*/kza)

error: Content is protected !!