Warga Desa Purwosari menyentuh ledre dengan inovasi. Dulu ada ledre raksasa. Kini ada ledre mini.
MEI 2008 menjadi bulan menghebohkan bagi warga Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari. Sasi itu, ada produsen ledre di desa ini membuat ledre jumbo. Raksasa. Panjangnya tiga meter. Diameternya 65 sentimeter.
Yang lebih menghebohkan, ledre dengan ukuran tidak biasa tersebut dibawa ke luar kota. Dipamerkan dalam satu pameran kreatif di Gramedia Expo Surabaya yang kini telah bersalin nama menjadi Dyandra Convention Center Surabaya.
Puncaknya, ledre raksasa buatan warga Desa Purwosari itu meraih rekor dari Museum Rekor Indonesia (Muri). Didapuk sebagai ledre terbesar yang pernah ada di Indonesia. Hingga 2026 ini, rekor tersebut belum dilampaui atau dipecahkan.
Adapun, warga Desa Purwosari yang menginisiasi ledre raksasa tersebut ialah Pamudji. Sudah almarhum 2014 silam. Namun, usaha pembuatan ledrenya tetap berjalan sampai saat ini. Diteruskan oleh anak perempuannya. Bernama Rumiati.
‘’Sejak bapak meninggal dunia, saya yang meneruskan,’’ tutur Rumiati saat ditemui Bojonegoro Raya di rumahnya, Rabu (30/9/2026) siang.

Perempuan kelahiran 1981 ini mengemukakan, saat masih diasuh almarhum bapaknya, usaha ledre di Dusun Glagah, Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari itu bernama Sari Rasa. Sejak 2022, dia memanjangkan nama tersebut menjadi Ledre Sultan Sari Rasa.
‘’Sebetelunya ingin tetap pakai nama Sari Rasa. Namun, tidak bisa didaftarkan legalitasnya. Karena sudah ada yang pakai,’’ imbuhnya.
Rumiati optimistis mendiang ayahnya berkenan dengan perubahan nama dimaksud. Karena, Sari Rasa tetap ada. Dan, lebih penting dari itu, kualitas ledre tinggalan Sari Rasa selalu dijaga. Resep khusus diwariskan almarhum Pamduji, tetap dipakai hingga kini.
‘’Kualitas ledre Sari Rasa tetap terjaga sampai kini. Kami kembangkan varian rasanya, bentuknya, hingga kemasannya,’’ jelasnya.
Saat ini, terang ibu dua anak itu, ledre produk Ledre Sultan Sari Rasa sedikitnya punya enam varian rasa. Meliputi original, coklat, strawberry, tiramisu, taro, dan matcha. Kemasannya lima jenis. Mulai pouch, boks kecil, boks besar, toples kecil, toples besar.
‘’Di Bojonegoro, kami yang kali pertama memproduksi ledre pendek-pendek. Ukurannya mini. Kalau dimakan, sekali hap (telan, red),’’ lanjutnya.

Rumiati mengemukakan, inovasi rasa, rupa, dan kemasan ledre dilakukan guna menjangkau pasar dan konsumen lebih luas. Dia ingin banyak orang makan ledre, semua generasi. Ingin ledre dinikmati di berbagai kesempatan. Tidak saja ketika Idufitri atau lebaran.
‘’Kami ingin ledre tidak menjadi sekadar oleh-oleh. Ledre bisa juga menjadi jajanan biasa. Enak dicemil pas nongkrong atau saat di mobil,’’ imbuhnya.
Perihal pemasaran atau promosi ledre, Rumiati mengatakan, pihaknya melakukan secara online dan offline. Yang online, melalui media sosial seperti Tiktok. Persisnya, melalui postingan atau live TikTok. Cara ini cukup manjur.
‘’Banyak yang beli ledre kami dari TikTok. Mereka dari berbagai kota. Salah satu langganan kami ada dari Jakarta,’’ ungkapnya.
Untuk pemasaran di aplikasi marketplace seperti Shopee, Rumiati belum pernah. Dia belum bisa memanfaatkan aplikasi marketplace terbesar dan teramai di Indonesia tersebut. Kapan-kapan, akan dipertimbangkan untuk mencobanya.
‘’Yang offline, kami titip di beberapa gerai, swalayan, atau toko oleh-oleh di Bojonegoro, Malang, Surabaya. Juga ada di Dieng, Wonosobo,’’ terangnya.
Dengan pemasaran via dua cara itu, perempuan lulusan SMP ini mengatakan, tingkat penjualan Ledre Sultan Sari Rasa hasilnya lumayan. Dalam sebulan, omzetnya sekitar Rp 12—13 juta. Jelang liburan atau seusai ikut pameran, omzet bisa naik signifikan.
‘’Makanya, kami sangat senang jika diajak pameran. Biasanya, yang mengajak Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah, red) Bojonegoro,’’ tuturnya.
Lebih lanjut, Rumiati juga bersyukur saat ini Ledre Sultan Sari Rasa telah menjadi salah satu UMKM bagian dari Geopark Bojonegoro. Dari sekian banyak UMKM ledre di Bojonegoro, baru Ledre Sultan Sari Rasa yang menjadi UMKM Geopark Bojonegoro.
‘’2025 kemarin, tim geopark nasional (Komite Nasional Geopark Indonesia, red) tilik ke sini. Melihat langsung pembuatan ledre kami,’’ bangganya.
Sehari Produksi 1.500 Batang Ledre, Gandeng Sembilan Perempuan
Sebagai UMKM, kuantitas produksi Ledre Sultan Sari Rasa cukup banyak. UMKM rumah produksinya berlokasi di tepi Jalan Raya Purwosari-Tambakrejo, Dusun Glagah, Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari ini setiap hari rata-rata memproduksi 1.500 batang ledre.
‘’Dalam sehari, kami rata-rata memproduksi 100 plastik ledre. Per plastik, 15 batang,’’ ujar Rumiati meneruskan wawancara dengan Bojonegoro Raya di rumahnya, Rabu (30/9/2026) pagi.
Di balik kuantitas produksi cukup besar itu, lanjut dia, Ledre Sultan Sari Rasa menggandeng atau mempekerjakan sembilan karyawan. Semuanya perempuan. Tiga di antaranya bekerja di rumah produksi. Enam lainnya di rumah masing-masing.

‘’Kalau ada banyak pesanan yang butuh waktu cepat atau jelang lebaran, kami melakukan penambahan karyawan,’’ imbuh Rumiati.
Juwarni dan Nayla Bunaiya salah dua karyawan Ledre Sultan Sari Rasa. Dua-duanya asli Dusun Glagah. Juwarni cukup senior. Mulai bekerja di UMKM itu pada 2008 silam. Sedang, Nayla Bunaiya terbilang junior, usianya masih muda.
‘’Saya baru lima tahun membuat ledre,’’ ujar Nayla Bunaiya kepada Bojonegoro Raya di rumah produksi Ledre Sultan Sari Rasa, Sabtu (27/9/2026) siang.
Namun demikian, perempuan kelahiran 1999 ini sudah tampak jago membuat ledre. Dia didapuk Rumiati sebagai salah satu karyawan Ledre Sultan Sari Rasa paling piawai dalam membuat ledre aneka rasa yang ukurannya pendek-pendek.
‘’Ah, itu kan karena sudah terbiasa saja,’’ tepis Nayla Bunaiya sambil tersenyum tersipu malu.
Perempuan pembuat ledre akrab disapa Ela ini meneruskan, membuat ledre pada dasarnya sama saja. Baik ledre original yang panjang atau ledre aneka rasa yang pendek, cara pembuatannya tidak banyak berbeda. Bahkan, menurut dia, caranya nyaris persis.
‘’Bedanya, ledre rasa-rasa itu ada tahap ngasih (memberi, red) selai setelah ngeletok atau ngedre-ngedre pisang. Itu saja bedanya,’’ terangnya.

Ibu satu anak ini berharap bisa istikamah bekerja di Ledre Sultan Sari Rasa. Pekerjaan tersebut menyenangkan. Mengisi waktu luang di sela mengurus suami, anak, dan keperluan rumah tangga. Juga menjadi pundi-pundi rezeki baginya.
‘’Dari pada tidak ngapa-ngapain di rumah, lebih baik membuat ledre seperti ini. Jadi pekerjaan, juga hiburan,’’ jelas perempuan lulusan SMP itu.
Juwarni mengemukakan hal senada. Senior Ela ini mengaku senang membuat ledre. Selain bisa menambah pendapatan, membuat ledre juga dianggapnya sebagai jalan untuk terus mengeksiskan ledre di masa kini, merawat warisan kuliner Desa Purwosari. (sab/kza)

