Didampingi Aisyiyah Bojonegoro, Desa Margomulyo menjadi Desa Inklusi

SEREMONI: Mahmudin (batik merah) dan para tamu undangan saat Launching Desa Margomulyo sebagai Desa Inklusi. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)
SEREMONI: Mahmudin (batik merah) dan para tamu undangan saat Launching Desa Margomulyo sebagai Desa Inklusi. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA — Desa Margomulyo, Kecamatan Balen meneguhkan diri menjadi desa inklusi. Berkomitmen melayani dan mengayomi seluruh warganya secara baik nan adil.

Di desa tersebut, para warga termasuk kategori rentan dan penyandang disabilitas, sangat diatensi. Dibantu berkreasi, mandiri, berdaya. Berbekal kemampuan yang dibisa.

Pemdes Margomulyo tidak berupaya sendiri dalam menginklusikan desanya. Pemdes ini mendapat bantuan atau pendampingan dari Pengurus Daerah (PD) Aisyiyah Bojonegoro.

Kamis (29/10/2026) pagi, Pemdes Margomulyo dan PD Aisyiyah Bojonegoro menggelar Launching Desa Margomulyo sebagai Desa Inklusi di Koperasi Merah Putih Desa Margomulyo.

Sejumlah pejabat Pemkab Bojonegoro, Pimpinan Wilayah (PW) Aisyiyah Jawa Timur (Jatim), PD Muhammadiyah Bojonegoro, dan tamu undangan lainnya, menghadiri agenda itu.

Wakil Ketua PW Aisyiyah Jatim Nelly Asnifati bersyukur atas launching Desa Margomulyo sebagai desa inklusi. Dia mengistilahkan hal tersebut seperti pecah telur atau capaian pertama.

‘’Launching ini pecah telur. Hasil kerja sama Pemdes Margomulyo, PD Aisyiyah Bojonegoro, dan pihak terkait lainnya,’’ ujar Nelly Asnifati saat memberikan sambutan dalam launching itu.

Perempuan akrab disapa Nelly ini berharap inklusivitas di Desa Margomulyo terus berjalan. Istiqamah. Seluruh warga mendapat hak, akses, dan pelayanan yang sama. Berdaya bersama.

‘’Kami berharap Desa Margomulyo yang sudah inklusif ini menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya,’’ imbuh perempuan Aisyiyah kelahiran Lamongan tersebut.

Adapun, Nelly mengemukakan, pendampingan PD Aisyiyah Bojonegoro untuk Desa Margomulyo bergulir dalam Program Inklusi. Itu program kolaborasi Pemerintah Australia—Indonesia, Aisyiyah menjadi mitra pelaksana.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa (Kades) Margomulyo Arif Rohman menyampaikan terima kasih atas pendampingan PD Aisyiyah Bojonegoro untuk desa dan masyarakatnya.

‘’Aisyiyah mendampingi kami dan masyarakat kami sejak 2023. Warga kami termasuk yang rentan dan disabilitas, mendapat bimbingan bahkan mendapat pekerjaan,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Hari Kemerdekaan Pers Sedunia, AJI Bojonegoro Gelar Diskusi dan Aksi

Bimbingan diberikan PD Aisyiyah Bojonegoro, kata dia, beraneka ragam. Mulai soal pendidikan, kesehatan, keterampilan ekonomi, hingga urusan keluarga harmoni.

‘’Komplit sekali pendampingan dari Aisyiyah ini. Sangat membantu kami,’’ ujar Kades Margomulyo akrab disapa Arif tersebut.

Asisten III Sekretariat Daerah (Setda) Bojonegoro Mahmudin salah satu pejabat Pemkab Bojonegoro yang hadir dalam Launching Desa Margomulyo sebagai Desa Inklusi.

Dia didampingi Kepala DP3AKB Bojonegoro Ahmad Hernowo dan Sekretaris DPMD Bojonegoro Masirin. Dalam sambutannya, Mahmudin menyampaikan aneka hal.

Di antaranya, dia berterima kasih atas pendampingan PD Aisyiyah Bojonegoro untuk Desa Margomulyo. Juga berpesan, desa inklusif jangan sekadar label bagi Desa Margomulyo.

‘’Desa inklusif ini jangan hanya menjadi plakat atau dokumen. Namun, harus benar-benar terasa nyata,’’ tutur Mahmudin.

Dia berharap, inklusivitas di Desa Margomulyo berjalan berkelanjutan. Mau mengakui dan terus melindungi serta memberdayakan seluruh warganya, tanpa terkecuali.

‘’Memberikan bantuan bukan tujuan akhir. Menciptakan kemandirian itulah tujuan yang utama,’’ imbuh mantan Kepala DPMD Bojonegoro ini.

Mahmudin memastikan, Pemkab Bojonegoro akan terus mendukung inklusivitas di desa. Menurut dia, hal tersebut sangat sejalan dengan tujuan pembangunan Bojonegoro.

Yusuf salah satu warga Desa Margomulyo yang mendapat pendampingan dari PD Aisyiyah Bojonegoro dalam Program Inklusi. Dia sangat bersyukur mendapat pendampingan tersebut.

‘’Saya dan beberapa warga lainnya dilatih menjahit. Lalu diberi garapan (pekerjaan, red) juga,’’ ungkap pria penyandang disabilitas fisik ini.

Pekerjaan baru rampung beberapa waktu lalu, Yusuf dan beberapa warga menjahit kain menjadi seragam anak-anak TK Aisyiyah Bustnanul Athfal (ABA). Jumlahnya 600 stel.

‘’Kami sangat bersyukur. Bisa meraup pendapatan dan berdaya, menjadi penggerak ekonomi keluarga,’’ ungkapnya. (sab/kza)