Doa dari Warga Bojonegoro dan Getaran Jemaah Haji di Tanah Suci

04/06/2025

Oleh: Nurul Azizah
Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro

———————-

SEHABIS Salat Magrib, tiba-tiba hati ini teringat saudara, dulur, kerabat, hingga warga Bojonegoro yang menjalankan ibadah haji di Makkah. Mulai Kamis (5/6/25) pagi menjalani puncak haji di Arafah, Muzdalifah, hingga Mina (Armuzna).

Hati berdegup. Mata terasa berabak (hendak menangis, red). Pikiran mendadak berhenti sejenak. Teringat pada dulur, kerabat, hingga warga Bojonegoro yang mulai menjalani puncak haji. Proses wajib haji.

Terasa menetes air mata. Bahagia bercampur gemetar. Energi warga Bojonegoro yang memulai ibadah haji ini terasa sampai di Bojonegoro. Betapa batin ini terasa menyatu dengan jemaah haji Bojonegoro.

Doa, zikir, salawat terus terucap. Hal sama dengan jemaah haji Bojonegoro yang tiada henti berucap kalimat-kalimat Allah. Salawat. Talbiyah.

SALING MENDOAKAN: Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menyalami salah satu jemaah haji saat prosesi pemberangkatan haji. Didampingi istrinya dan Wabup Bojonegoro Nurul Azizah. (Foto: Istimewa)

Mendoakan untuk Bojonegoro Menjadi Makmur dan Membanggakan

Langit Bojonegoro, Rabu (4/6/25) ini, cukup terik. Sedikit mendung sebentar. Namun, tiba-tiba hilang. Terik lagi. Mungkin terik di Bojonegoro, menjadi energi jemaah haji Bojonegoro yang siap berselimut cuaca panas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Energi ini menyatu. Terus teringat jemaah haji Bojonegoro dan Indonesia bertemu menjalankan ibadah agung. Haji.

Teringat air mata. Teringat mata berlinang air bercampur bahagia ketika jemaah haji Bojonegoro hendak berangkat dan berkumpul dulu di Pendapa Malawapati Bojonegoro, akhir bulan kemarin.

Mas Bupati Bojonegoro Setyo Wahono saat memberi sambutan, terus memberi pesan, saling menyemangati, dan berdoa agar jemaah haji menjalankan ibadah dengan lancar dan mabrur.

Bersama Mas Bupati Setyo Wahono dan Ibu Cantika Wahono, saya lalu menyapa satu per satu jemaah haji. Terutama jemaah haji usia lanjut (lansia). Jemaah haji memakai kursi roda. Juga, jemaah haji disabilitas.

Baca Juga :  Pesan Kacabdindik Bojonegoro--Tuban dalam Hardiknas 2025

Kami saling memandang, berpelukan, dan saling menyemangati. Saling menguatkan. Mata berabak, sebuah tautan energi dari Bojonegoro untuk jemaah haji di Makkah, Arab Saudi. Tanah Suci.

SEMOGA MABRUR: Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan Wabup Bojonegoro Nurul Azizah saat proses pemberangkatkan jemaah haji. (Foto: Istimewa)

Mari Puasa Arafah dan Mendoakan Jemaah Haji

Mari kita berhenti sejenak. Mendoakan. Berzikir, salawat, dan berdoa untuk jemaah haji agar lancar menjalani puncak haji yang luar biasa. Mendengungkan kalimat-kalimat Allah SWT untuk kelancaran jemaah haji.

Begitu pun, kami mengajak warga Bojonegoro untuk puasa Arafah. Puasa sunnah berlipat pahala. Puasa yang bertepatan dengan jemaah haji menjalani ibadah agung.

Gus Baha, ulama terkemuka asal Rembang, Jawa Tengah yang juga santri kinasih almarhum KH Maimun Zubair, memiliki amalan khusus ketika hari Arafah. Berupa membaca Alqur’an dan belajar.

Melansir www.jateng.nu.or.id, Gus Baha bertutur: ‘’Saya itu setiap Arafah ada kebiasaan, kamu ikut boleh, tidak ikut juga boleh. Setelah zuhur saya iktikaf di pondok dan kadang di pemakaman bapak. Itikaf dengan baca Alqur’an. Tidak doa aneh-aneh. Kadang ya belajar”.

Kisah dan amalan Gus Baha itu menjadi teladan bahwa Hari Arafah bukan hanya sekadar jemaah haji berada di Armuzna. Bagi semua umat Islam, Arafah tetap menjadi hari penuh limpahan rahmat. Waktu terbaik untuk memperbanyak amal ibadah.

Momentum puncak haji ini, kami juga menitip pesan kepada jemaah haji Bojonegoro untuk mendoakan kita semua. Mendoakan untuk Bojonegoro agar lebih bahagia, makmur, dan membanggakan. Mendoakan Bojonegoro jadi daerah berlimpah berkah dan semangat beribadah.

Saling mendoakan. Begitu pun kita juga mendoakan untuk jemaah haji Bojonegoro menjalani ibadah dengan lancar dan mabrur. Ketika jemaah haji berjuang menjalani puncak haji di Armuzna, kami berusaha untuk puasa Arafah.

Bojonegoro dan Arab Saudi selisih waktunya hanya empat jam. Jarak ditempuh dengan pesawat terbang dengan durasi 9-10 jam. Tapi, getaran dan energi dari jemaah haji di Tanah Suci ini terasa dekat dengan kami di Bojonegoro. Selamat puasa Arafah dan semoga jemaah haji lancar menjalani puncak haji. Mabrur. (*/kza)

Baca Juga :  Medhayoh Haji dan Asa Penggerak Mengentas Kemiskinan

*Tulisan ini dinarasikan dari wawancara dengan jurnalis Bojonegoro Raya.

error: Content is protected !!