Oleh: Khorij Zaenal Assrori
Jurnalis Bojonegoro Raya
——————
LAGI suka memakai peci. Di acara kantor hingga santai. Santri, tapi bukan tulen. dr. Tomy Oeky Prasiska lagi menambah hafalan ayat-ayat Alquran. Bareng anak-anaknya.
Memakai peci atau kopiah tampak elegan. Milenial religi. Sederhana. Tidak menunjukkan seorang dokter. Maupun direktur.
dr. Tomy sapaannya pun memilih memakai kopiah hitam saat sesi pemotretan sebagai Direktur Rumah Sakit (RS) Aisyiyah Bojonegoro.
Sosok dokter muda berusia 43 tahun itu kembali dapat amanat sebagai Direktur RS Aisyiyah Bojonegoro. Jabatan babak kedua. Periode 2025–2029.
Bukan jabatan baru. Sebelumnya dr. Tomy sudah menjabat sebagai direktur rumah sakit berada di Jalan Panglima Sudirman itu periode 2021-2025. Estafet.
Dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) tersebut dilantik lagi Rabu (28/5/25). Senyum. Memandang amanah baru sebagai direktur lagi.
dr. Tomy bisa santai duduk di kursi, tapi mata dan pikirannya berputar memandang ke depan. Menatap menit, hari, bulan, tahun ke depan, sebagai nakhoda RS Aisyiyah Bojonegoro.
Dokter belum lama merengkuh gelar Strata Dua (S-2) Kajian Administrasi Rumah Sakit dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) itu punya tantangan besar.
Konsentarsinya, pelayanan pasien di RS Aisyiyah Bojonegoro harus diutamakan. Pelayanan kesehatan terhadap para membutuhkan, wajib didahulukan.
Butuh keberanian pula mengubah mindset, bahwa periksa kesehatan itu antrenya lama. Dokternya telat. Antre obatnya berjam-jam. Gelisah menunggu.
Tantangan mengubah mindset tersebut, dr. Tomy memakai sistem bijak. Tidak keras, tapi tegas. Membuat sistem atau aturan bersama menjadi kesepakatan bersama.
Mengedepankan key performance indicator (KPI) atau indikator kinerja utama, berbasis nilai. Juga mengutamakan diskusi. Bukan punishment.
RS Aisyiyah Bojonegoro Miliki Sekitar 400 Karyawan
dr. Tomy mengatakan, RS Aisyiyah Bojonegoro memiliki karyawan sekitar 400 orang. Cukup banyak. Menyerap tenaga kerja. Meneguhkan perputaran ekonomi.
Mulai dokter, perawat, bidan, hingga petugas medis lainnya nyengkuyung RS Aisyiyah Bojonegoro bersama-sama. Bareng-bareng.
SDM 400 karyawan tentu butuh sistem. Butuh kolaborasi dengan sesama menggerakkan kinerja karyawan. Pelayanan, keramahan, hingga biaya besar menggerakkan roda rumah sakit.
Juga, memosisikan bahwa rumah sakit itu utamanya pelayanan kesehatan untuk pasien. Rumah sakit juga harus memiliki jiwa sosial.
Kolaborasi bersama Pemkab Bojonegoro. Terutama setelah Pemkab Bojonegoro memberi perhatian terhadap kesehatan dengan program universal health coverage.
Menurut dr. Tomy, RS Aisyiyah Bojonegoro bukan hanya sekadar memberikan pelayanan kesehatan kuratif bersifat profit oriented. Tetapi, juga bergerak memberi edukasi kesehatan.
RS Aisyiyah Bojonegoro, menurut dr. Tomy, juga mengembangkan layanan konseling keluarga sakinah bagi calon pengantin. Menambah keharmonisan rumah tangga. Suami–istri raket.

Pesan dari PWM Jatim dan PDM Bojonegoro
Saat pelantikan Rabu (28/5/25), dr. Tomy harus mencatat ragam pesan-pesan saat menjabat direktur. Tawaduk. Mengingat. Dan, menjalankan amanat.
Ketua Majelis Pembinanan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim) dr. Mundakir berpesan agar dr. Tomy meningkatkan pelayanan.
Selalu mengedepankan prinsip kolektif kolegial atau mengambil keputusan secara bersama-sama, semangat menghormati anggota.
dr. Mundakir juga meminta agar direktur masih muda ini harus kerja sama dengan karyawan lainnya. Memfungsikan karyawan lainnya. Menggerakkan sistem.
Saat menjabat periode pertama, dr. Tomy belum lulus S-2. Namun, saat menjabat periode kedua 2025-2029, sudah. S-2 Kajian Administrasi Rumah Sakit.
‘’Tentu, periode kedua ini ilmunya semakin bertambah. Lebih intensif. Saat pelantikan kemarin, sudah dapat banyak pesan dari Pak dr. Mundakir,’’ tutur Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro Suwito.
Dia menambahkan, agar dr. Tomy memimpin RS Aisyiyah Bojonegoro dengan tepat. Ramah melayani sesuai Islami. Mengacu standar kesehatan berlaku.
“Terlebih, PDM juga memiliki hospital by laws,” imbuhnya.
Pesan lainnya, menurut Suwito, agar dr. Tomy bisa melakukan kaderisasi. Tugas sebagai direktur harus bisa kaderisasi untuk estafet kepemimpinan. Keberlanjutan.
Sejak usai pelantikan direktur RS Aisyiyah Bojonegoro pada Rabu (28/5/2025) itu, dr. Tomy tentu harus bersiap. Menghadapi tantangan. Menyiapkan inovasi.
Gedung RS Aisyiyah Bojonegoro yang lagi dibangun, sudah penuh dengan karangan bunga berucap selamat dan sukses untuk dr. Tomy sebagai direktur lagi.
Karangan bunga ragam warna itu berjejer di depan proyek gedung baru bernama Jikronah tersebut. Kiriman kolega hingga rekan bisnis. Jadi perhatian pengendara yang melintas.
Surat Terbuka dari dr. Tomy
Klunting, klunting, klunting, suara pesan pendek terus berbunyi dari smartphone dr. Tomy. Isinya Sama, memberikan ucapan: selamat dan sukses.
Menjawab pesan pendek satu per satu tentu butuh waktu. Akhirnya, dr. Tomy mengirimkan surat terbuka yang menginspirasi.
Assalamu’alaikum Wr Wb
Teman-teman semua, tim kerja RS Aisyiyah Bojonegoro, Yth.
Izinkan saya menundukkan kepala, membuka hati, dan mengucapkan dari lubuk terdalam:
Terima kasih.
Terima kasih atas setiap doa, support, dan harapan.
Terima kasih atas sinergi dan kerja keras sangat bermakna.
Terima kasih atas tawa dalam tekanan, peluh di balik prestasi, dan tangan-tangan yang terus bekerja meski kadang tidak sempat bertepuk tangan untuk dirinya sendiri.
Bersama, kita telah melukis perjalanan yang luar biasa.
Dari satu langkah ke langkah berikutnya. Dari mimpi menjadi prestasi. Dari harapan menjadi bukti.
Kita tak hanya bekerja, kita bersinergi.
Kita tak hanya hadir, kita menggerakkan.
Kita tak hanya bertahan, tapi terus melampaui batas.
Namun, ini belum selesai.
Empat tahun ke depan bukan sekadar periode baru.
Empat tahun ke depan adalah panggung dari karya besar yang kita bangun bersama.
Mari bersama menciptakan legacy dan meng-grab masa depan.
Untuk RSA yang lebih baik dan lebih kuat
Mohon doa, dukungan dan sinerginya selalu.
Entah bagaimana perasaan dr. Tomy saat menulis surat terbuka itu. Gemetar, butuh waktu, dan memikirkan diksi kata-kata. Tidak sesingkat saat kita membacanya. (*)


