Anita Wahyu Deviani sukses berinovasi. Kesampingkan teror daun kelor. Lebih percaya khasiat ketimbang keramat.
BOJONEGORORAYA – Lumbung energi bukan satu-satunya julukan untuk Bojonegoro. Bagi sebagian orang, kabupaten ini juga lumbung pemali. Paling masyhur, Presiden Republik Indonesia (RI) dilarang datang ke Bojonegoro.
Jika melanggar pemali tersebut, Presiden RI akan lengser sebelum waktunya. Dua Presiden RI dituding terkena tuah pemali itu ialah Soekarno dan Soeharto, Presiden RI pertama dan kedua.
Saat masih menjabat Presiden RI, dua tokoh itu diketahui pernah datang ke Bojonegoro. Dan, pemimpin Orde Lama serta Orde Baru tersebut lengser kuasa sebelum waktunya.
Satu lagi pemali masyhur di Bojonegoro ialah tidak boleh mengonsumsi daun kelor. Siapa berani mengonsumsi, bisa kehilangan ajian dalam diri. Baik ajian bawaan keturunan, maupun hasil tirakat.
Saking keramat, daun kelor digunakan untuk membantu pemilik ajian yang sudah tua dan sakit-sakitan, namun sulit mati. Daun kelor tinggal dipukulkan ke pemilik ajian itu. Niscaya, akan lekas mati.
Budayawan Bojonegoro Ahmad Wahyu Rizkiawan membenarkan adanya pemali itu. Menurut dia, sebagian masyarakat Bojonegoro masih percaya pemali ihwal daun kelor tersebut. Hingga kini.
‘’Sebagian masyarakat di Bojonegoro masih percaya. Misalnya, di Kecamatan Padangan dan sekitarnya,’’ ujar Ahmad Wahyu Rizkiawan saat ditemui Bojonegoro Raya di rumahnya, Jumat (25/9/2026) malam.
Budayawan asal Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Bojonegoro ini meneruskan, asal usul pemali daun kelor di Bojonegoro tidak terlacak pasti. Siapa yang memunculkan dan sejak kapan, tidak jelas.
‘’Yang pasti, pemali daun kelor itu sudah sejak lama. Dan, banyak yang percaya,’’ imbuh budayawan Bojonegoro penulis buku Tarikh Padangan dan Peradaban Nggawan Bojonegoro ini.
Di Desa Ngradin, Kecamatan Padangan, Bojonegoro, Anita Wahyu Deviani menepis pemali daun kelor. Dia sering mengonsumsi daun ini. Tidak takut kehilangan ajian dalam diri—yang barangkali ada secara bawaan.
Perempuan akrab disapa Anita itu bahkan aktif membuat dan memasarkan olahan daun kelor melalui usaha mikro kecil menengah (UMKM) Herbasina Nutrindo yang dirintis bersama suaminya.
‘’Awal-awal merintis, banyak orang menyangsikan usaha kami. Olahan daun kelor kok dijual. Karena pemali itu,’’ tutur Anita saat diwawancara Bojonegoro Raya di rumahnya, Sabtu (26/9/2026) sore.
Kata para penyangsi, kenang Anita, olahan daun kelor tidak patut dijual. Hasil ekonominya tidak akan menjanjikan. Banyak orang Bojonegoro takut daun kelor. Tidak mau mengonsumsi daun kelor.
‘’Saya lebih percaya khasiat ketimbang keramat. Alhamdulillah, usaha kami terus berjalan. Kini, makin berkembang,’’ syukur perempuan kelahiran 1985 silam ini.
Anita menceritakan, Herbasina Nutrindo dirintis bersama suami pada 2020, saat Pandemi Covid-19. Kala itu, banyak waktu luang. Dia menuntaskan uliknya tentang daun kelor. Makin tahu ragam khasiat daun kelor.
Dari pengetahuan itu, sarjana kimia alumnus Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) ini membuat produk dari daun kelor. Mengekstrak daun bernama latin Moringa oleifera tersebut menjadi bubuk dan mengapsulnya.
‘’Kami ingin mengedarkan kelor kapsul itu. Namun, kata dinkes (dinas kesehatan, red), wajib ada izinnya dan rumit. Soalnya, kelor kapsul sudah masuk kategori obat-obatan,’’ ceritanya.
Hal tersebut tidak membuat Anita berhenti mengolah daun kelor. Dengan cerdik, dia memilih mengolah daun kelor menjadi bahan wedang. Seperti teh. Kecerdikan ini lolos, dapat izin atau legalitas dari berwenang.
‘’Wedang daun kelor itulah produk resmi pertama kami. Bentuknya celup, seperti teh celup,’’ jelas pelaku UMKM yang juga berprofesi sebagai guru di SMKN Kasiman, Bojonegoro itu.
Kini, lanjut Anita, Herbasina Nutrindo menginjak usia enam tahun. Produknya telah beraneka. Ada wedang daun kelor, kopi daun kelor, coklat daun kelor, mie instan daun kelor, stick daun kelor, sempol daun kelor, hingga es krim daun kelor.
Eks karyawan Eurofins Angler Biochemlab ini menyebut, varian inovasi produk tersebut guna menjangkau pasar atau konsumen lebih luas dan lintas generasi. Mulai lanjut usia, dewasa, hingga anak-anak.
‘’Kami ingin banyak orang mau mengonsumsi olahan daun kelor dan merasakan khasiat daun kelor,’’ tandas guru SMKN Kasiman untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan alam dan sosial (IPAS) itu.

Merujuk artikel Mengenal berbagai Manfaat Kelor diterbitkan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan di laman resminya pada 2 Agustus 2022, khasiat daun kelor memang melimpah.
Daun ini kaya nutrisi atau zat baik untuk kesehatan. Di antaranya vitamin A, vitamin B2, vitamin B6, vitamin C, zat besi, magnesium, quercetin, asam klorogenik, isotiosianat, fenolik, flavonoid, betakaroten, zeaxanthin, tain, dan lutein.
Dengan berbagai kandungan nutrisi atau zat tersebut, daun kelor berkhasiat menjaga kesehatan jantung, pembuluh darah, lambung, mata, dan organ penting lainnya. Bahkan, bisa memperkecil risiko munculnya penyakit kanker.
Tanam Bahan Baku Mandiri, Berdayakan Kaum Rentan
Herbasina Nutrindo tidak terlalu kepayahan mencari bahan baku. UMKM ini punya kebun kelor sendiri. Lokasinya masih di Desa Ngradin. Taufiq suami Anita, adalah inisiator kebun kelor itu.
‘’Kami punya dua kebun kelor. Dirawat sendiri. Saat masa tanam atau panen, ada tetangga yang membantu,’’ ujar Taufiq saat diwawancara Bojonegoro Raya di rumahnya, Sabtu (26/9/2026) sore.
Pria yang juga berprofesi sebagai guru di SDN Padangan III ini mengemukakan, dua kebun kelor milik Herbasina Nutrindo belum seberapa luas. Sekitar 11×40 meter dan 8×30 meter.
‘’Kami panen satu bulan sekali. Pemangkasannya tiga bulan sekali. Agar terus tumbuh daun-daun baru, yang muda-muda,’’ imbuh pria asal Desa Sarirejo, Kecamatan Balen, Bojonegoro itu.
Selama ini, lanjut Taufiq, dua kebun kelor tersebut relatif memenuhi kebutuhan bahan baku Herbasina Nutrindo. Jika kekurangan, dia nembung orang-orang di sekitarnya yang punya tanaman kelor.
‘’Kami beli daun kelornya. Umumnya, seharga Rp 5.000 per kilogram,’’ terang pria alumnus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Bojonegoro itu.
Taufiq berharap, ke depan banyak petani di sekitarnya berkenan membudidayakan tanaman kelor. Sehingga, ketika kelak Herbasina Nutrindo makin berkembang dan produktif, tidak kesulitan mencari bahan baku.
‘’Kami membuka ruang kerja sama dengan petani kelor. Harapan kami, Herbasina Nutrindo ini mendatangkan manfaat lebih luas. Melibatkan orang banyak. Termasuk, petani kelor,’’ imbuhnya.
Sementara ini, sedikitnya ada tujuh orang telah terlibat di Herbasina Nutrindo. Semuanya perempuan dan warga sekitar. Lima masih muda, masih pelajar dan mahasiswa. Dua lainnya sudah ibu-ibu.
‘’Tujuh perempuan ini membantu kami dalam berbagai tahap. Mulai produksi hingga promosi,’’ terang Anita melanjutkan wawancara dengan Bojonegoro Raya di rumahnya, Sabtu (26/9/2026) sore.
Dengan melibatkan tujuh perempuan, Herbasina Nutrindo telah andil memberdayakan kaum rentan. Kuantitas produksi pun lebih optimal. Total, sekitar 1.500 pcs per bulan, rata-rata omzetnya Rp 15 juta.
‘’Semoga usaha ini terus berjalan dan berkembang. Menjadi wadah inovasi dan ladang rezeki bagi kami serta orang-orang yang terlibat di sini,’’ harap ibu dua anak itu.

Saat ini, lanjut Anita, produk Herbasina Nutrindo telah merangsek ke berbagai kota. Dipasarkan secara online dan offline. Yang online, melalui aplikasi Shopee, TikTok, dan media sosial lainnya.
‘’Yang offline, kami titipkan di berbagai toko oleh-oleh dan swalayan di Bojonegoro, Cepu, Lamongan, Malang, hingga Surabaya. Alhamdulillah, baik offline maupun online, sama-sama laris,’’ terangnya.
Terbaru, Herbasina Nutrindo punya kafe di depan rumah Anita dan Taufiq. Namanya Cafe Kelor Herbasina, buka pagi sampai malam. Menjajakan aneka produk Herbasina Nutrindo. Termasuk, yang siap saji.
‘’Kafe baru buka tahun ini. Awal tahun. Sekitar Maret lalu. Menu utamanya mie daun kelor. Sudah siap saji. Tinggal makan saja. Seporsi, harganya Rp 10.000,’’ jelas Anita.
Taufan Hunneman Memantik Inovasi, PEPC Aktif Berkontribusi
Saat dirilis pada 2025, mie instan daun kelor produk Herbasina Nutrindo hanya dikemas biasa. Seperti mie instan umumnya. Pada 2026, mie merek Momie itu punya kemasan baru. Yakni, cup. Namanya Momie Cup.
Inovasi Momie Cup tersebut buah tantangan atau masukan Komisaris Utama (Komut) Pertamina EP Cepu (PEPC) Taufan Hunneman saat berkunjung ke Cafe Kelor Herbasina bersama jajaran, akhir Juni 2026.

‘’Waktu ke sini, bapak komut (Taufan Hunneman, red) bertanya pada kami. Apakah Momie bisa dibikin kemasan cup? Supaya lebih mudah masaknya. Tinggal dituang air panas. Praktis untuk stok di kantor,’’ kenang Anita.
Menjawab pertanyaan itu, eks karyawan Siantor Top bidang research and development (R&D) kemasan ini mantap mengatakan bisa. Anita pun menggulirkan penelitian untuk merancang Momie Cup.
‘’Setelah beberapa bulan penelitian, jadilah. Momie Cup menjadi produk terbaru kami tahun ini. Kami sangat berterima kasih atas tantangan bapak komut waktu itu,’’ semringah Anita.
Secara lebih luas, Anita menyampaikan terima kasih mendalam kepada PEPC. Khususnya, PEPC Zona 12 yang mengoperatori Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru (JTB) di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro.
‘’Kami menjadi UMKM binaan PEPC Zona 12 sejak akhir 2024. Mendapat berbagai dukungan dan bantuan dari PEPC Zona 12 agar usaha kami terus berjalan dan makin berkembang,’’ ungkap Anita.
Menurut dia, kontribusi dari PEPC Zona 12 merambah banyak lini. Ada pelatihan kewirausahaan, bantuan pengadaan sarana produksi, hingga fasilitasi pameran atau pembukaan akses pasar.
‘’Hampir setiap bulan juga selalu ada order dari Pertamina. Entah PEPC Zona 12 atau yang lain, Pertamina kan banyak anak usahanya. Kami senang sekali Pertamina melarisi produk kami,’’ syukurnya.
Perihal fasilitasi pameran atau pembukaan akses pasar, Anita selalu bersemangat. Di mana saja, siap berangkat. Herbasina Nutrindo bisa membawa aneka produknya ke luar kota karena fasilitasi tersebut.
‘’Terakhir, kami diajak pameran di Hotel Tentrem Yogyakarta, pertengahan September 2026. Acaranya SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi, red),’’ terangnya.

Tiap pameran, kata alumnus SMAN 2 Bojonegoro itu, produk Herbasina Nutrindo selalu menarik minat pengunjung. Mereka penasaran dengan olahan daun kelor. Banyak yang berakhir membeli.
‘’Oktober 2026 nanti, PEPC Zona 12 mengajak kami pameran lagi di Trade Expo Indonesia 2026. Acaranya di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang. Alhamdulillah,’’ syukurnya.
Anita berharap, berbagai dukungan dan bantuan PEPC Zona 12 untuk Herbasina Nutrindo terus berlanjut. Baginya, kontribusi melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) PEPC Zona 12 itu sangat berarti.
‘’Kami sangat terbantu dengan pelatihan kewirausahaan, bantuan pengadaan sarana produksi, dan fasilitasi pameran yang selama ini diberikan oleh PEPC Zona 12,’’ tutur Anita.
Terpisah, Head and Commrel & CID PEPC Zona 12 Weanny Hikmat mengatakan, Herbasina Nutrindo bagian dari UMKM Bolo JTB, suatu PPM PEPC Zona 12 yang mendampingi UMKM-UMKM di sekitar Lapangan Gas JTB.
Weanny sapaannya menyatakan, pendampingan untuk UMKM Bolo JTB merupakan bentuk komitmen PEPC Zona 12 agar UMKM sekitar Lapangan Gas JTB lebih berdaya dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
‘’Kami berharap, program ini dapat membangun kemandirian masyarakat secara berkelanjutan,’’ ujarnya di booth Herbasina Nutrindo dalam pameran UMKM di Hotel Tentrem Yogyakarta, Kamis (17/9/2026).
Sekadar diketahui, pameran UMKM di Hotel Tentrem Yogyakarta pada Kamis (17/9/2026) itu diselenggarakan SKK Migas bersama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) hulu migas Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa).
Pameran tersebut menghadirkan UMKM binaan KKKS se-Jabanusa. Memeriahkan Lokakarya Media 2026 yang digelar SKK Migas dan KKKS hulu migas Jabanusa selama Rabu (16/9/2026) hingga Kamis (17/9/2026). (sab/kza)

