Soeharto dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional. Mengesampingkan genosida eranya. Kuburan Terapung berupaya menggugatnya.
BOJONEGORORAYA — Lestari meraung. Menangis. Menuntut hak yang dirampas. Dia putri Nahdlatul Ulama (NU) yang dipisahkan dari Sandur—kesenian yang dia cintai. Karena, Sandur berbau Lekra, beramis komunis. Berbahaya.
Kemalangan Lestari tidak cuma itu. Dia pada akhirnya juga ditangkap, dikejam, dihancurkan. Cintanya pada Sandur ialah dosa fatal. Meringkusnya ke penderitaan tidak terperi. Air matanya kering, tidak keluar lagi. Pundaknya bergetar. Pedih.
Itu semua, bukan kisah nyata. Hanya secuplik pertunjukan monolog berjudul Sekap. Ditampilkan aktris muda Lilin Tiani dalam acara rilis zine berjudul Kuburan Terapung karya Komunitas Buku Jenggala, Sabtu (15/11/2025) malam.
Monolog Sekap jadi salah satu sajian dalam rilis zine di Hela Cafe, tepi Bengawan Kauman, perkotaan Bojonegoro pada malam Minggu itu. Sajian lainnya ada musikalisasi puisi, lantunan tembang Sandur, hingga diskusi.
Noviana jadi salah satu narasumber dalam diskusi dimaksud. Perempuan pembaca aneka buku itu mengemukakan banyak hal tentang sepak terjang Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) di Indonesia. Termasuk, di Bojonegoro.
Dalam kesempatan itu, Noviana turut menangkis tuduhan bahwa Gerwani merupakan organisasi perempuan sundal. Gerwani, tegas dia, merupakan organisasi yang memberdayakan perempuan berikut anak-anak di sekitarnya.
Sehingga, lanjut perempuan berlatar pendidikan bimbingan konseling itu, para perempuan Gerwani tidak pantas diburu atau menjadi korban genosida era Orde Baru (Orba) serampung peristiwa G30S 1965 di Jakarta.
Narasumber lainnya ialah Yusab Alfa Ziqin. Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro itu juga menuturkan sekian hal. Seputar genosida ideologi, politik, ekonomi, sosial, hingga seni-budaya di Indonesia pascaperistiwa G30S 1965.
Jurnalis Bojonegoro Raya itu juga menyoroti pengukuhan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Menurut dia, itu keputusan yang dipaksakan. Nekat mengesampingkan serentet genosida era Orba yang keji, diam-diam, dan gagal disembunyikan.

Seusai diskusi yang disimak puluhan muda-mudi dan diawasi empat orang intel itu, Kuburan Terapung dirilis. Rudi dari Komunitas Buku Jenggala memimpin perilisan zine edisi empat tersebut. Didampingi tiga kawannya.
Dalam kesempatan itu, dia berterima kasih atas keterlibatan dan kontribusi semua pihak dalam penyusunan sampai perilisan Kuburan Terapung. Dia juga menceritakan, banyak hal menantang dalam melahirkan zine dimaksud.
“Kami melakukan liputan di lapangan dan riset dokumen untuk menyusun zine ini. Cukup lama, kerja keras, sensitif. Ada 13 tulisan yang batal kami muat,” ujarnya.
Selusin plus satu tulisan itu, kata Rudi, tidak jadi dimuat karena beberapa sebab. Di antaranya, pihaknya merasa bahwa 13 tulisan itu berkadar ‘bahaya’. Terlampau sensitif. Bisa menimbulkan gejolak untuk saat ini. Lebih baik disimpan dulu.
Hatta, zine-nya mungkin kurang sempurna. Namun, Rudi menilai, zine itu sudah cukup untuk mengemukakan bahwa Soeharto melalui tangan-nya telah mengorganisir kejahatan kemanusiaan di Indonesia seusai G30S 1965. Termasuk, di Bojonegoro.
“Ya, zine ini layak dibaca. Ini dokumentasi tentang genosida di Bojonegoro setelah G30S 1965. Beberapa saksi dan pelakunya, ada di zine ini,” imbuhnya.
Melalui Kuburan Terapung, lanjut Rudi, pihaknya tentu ingin juga mengajak semua pihak merefleksi. Apakah tepat jika Soeharto menjadi Pahlawan Nasional. Sedang, serangkaian kejahatan kemanusiaan nyata terjadi di eranya berkuasa. (sab/kza)


