Bolo Fest Sukses Melahirkan Manifes, Wadah Kolaborasi Ragam Kreasi

BAHAGIA: Bupati Wahono saat mengunjungi Bolo Fest, Sabtu (6/12/2025) pagi. Melihat lini masa sejarah Bojonegoro. (Foto: Istimewa)

Aneka komunitas menyukses Bolo Fest. Bersinergi. Menyaji kolaborasi. Bupati Wahono memberi apresiasi. Terkesima kreativitas yang menyala.

BOJONEGORORAYA – Puluhan muda-mudi Bojonegoro sibuk merias Gedung Bojonegoro Creative Hub (BCH) Jumat (5/12/2025) malam. Mendekorasi interior—eksterior. Menata partisi, meja, kursi, televisi, foto, buku, hingga mendirikan panggung.

Mereka macaki gedung baru di tepi Jalan Pemuda, perkotaan Bojonegoro itu sampai Sabtu (6/12/2025) jelang Subuh. Mempersiapkan acara Bolo Fest. Sebuah acara perdana yang mengolaborasikan mereka.

Saat ratusan karyawan Bravo Supermarket lalu-lalang di Jalan Pemuda menuju tempat kerjanya, Sabtu (6/12/2025) pagi, Bolo Fest sudah ready. Muda-mudi menyiapkannya, siap pula. Meski, matanya bak mata panda. Merah. Kurang tidur.

Sekitar pukul 09.00 WIB, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dan jajaran datang ke Gedung BCH. Secara resmi, dia membuka Bolo Fest. Suasana Gedung BCH pun menjadi semarak. Riuh suka dan bahagia.

Usai meresmikan, Bupati Wahono memasuki Gedung BCH. Didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbupar) Bojonegoro Welly Fitrama serta sejumlah panitia Bolo Fest. Termasuk, Ketua Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Bojonegoro Alfian.

Cukup lama, Bupati Bojonegoro sejak Februari 2025 itu berada di lantai dua Gedung BCH. Dia melihat aneka sajian Bolo Fest. Di antaranya, foto-foto bersejarah, histori lini masa, hingga sejumlah dokumen lawas tentang Bojonegoro.

Bupati Wahono menyatakan, Bolo Fest mendapat tempat di hatinya. Terkesima. Dia mengapresiasi acara yang digelar secara kolaboratif oleh komunitas literasi, sejarah, musik, film, fotografi, dan komunitas kreatif lainnya tersebut.

‘’Acara ini (Bolo Fest, red) bukan hanya seremoni. Ini wujud nyata gotong royong, persahabatan, kreativitas, dan kolaborasi lintas sektor,’’ ujarnya dalam kunjungan itu, Sabtu (6/12/2025) pagi.

Dia meneruskan, energi manusia kreatif memang merupakan modal tidak ternilai. Akan menjadi kekuatan Bojonegoro menuju Kabupaten Kreatif Nasional, hingga terhubung dalam jejaring Kota Kreatif Internasional UNESCO.

Baca Juga :  Sinden Cilik Galuh Mustiko Mumpuni, Pelantun Tembang dari Kasiman

Tema Bolo Fest yaitu ‘’Energi Baru Bojonegoro, Kreativitas yang Menyala’’, lanjut dia, merupakan respons tepat atas tantangan masa depan. Selama ini, Bojonegoro ditopang industri minyak dan gas (migas). Ekstraktif dan berbatas waktu.

‘’Mendatang, masa depan tidak hanya ditentukan oleh apa yang digali dari dalam bumi. Tapi juga oleh ide, inovasi, dan kreasi,’’ pungkas bupati asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro itu.

Diketahui, Bolo Fest berlangsung selama kurang lebih 12 jam. Dibuka sekitar pukul 09.00 WIB, berakhir sekitar pukul 21.00 WIB. Banyak sajian dalam Bolo Fest tersebut. Ada diskusi-diskusi dalam beberapa sesi. Sarat isi.

Sesi paling awal, ada diskusi soal pengembangan wisata berbasis budaya dan sejarah lokal serampung opening ceremony. Founder Komunitas Bumi Budaya Totok Supriyanto dan Founder Komunitas Bojonegoro History Andre, menjadi pemateri dalam diskusi itu.

Sesi terakhir, ada diskusi soal ekologi, budaya, dan kreativitas pada Sabtu (6/12/2025) malam. Etnograf dari Jurnaba Ahmad Wahyu Rizkiawan menjadi pemateri tunggal dalam diskusi itu. Dia menguarkan aneka pengetahuannya.

Di sela rangkaian diskusi dan pameran di Gedung BCH, panitia Bolo Fest juga sempat membawa sejumlah pengunjung ke Kecamatan Padangan, Sabtu (6/12/2025) siang. Naik bus yang disediakan Disbudpar Bojonegoro.

Di Kecamatan Padangan tersebut, para pengunjung Bolo Fest diajak walking tour atau berwisata dengan jalan kaki. Kalem. Perlahan. Menikmati lanskap kota tua sisa kolonialisme Belanda, termasuk mengitari kawasan Pecinan Padangan.

Adapun, agenda pemungkas Bolo Fest yaitu para muda-mudi berkompak melahirkan manifes. Mendeklarasikannya pada Sabtu (6/12/2025) malam. Bersepakat menjadikan Bojonegoro sebagai Kota Kreatif. Ketua KEK Bojonegoro Alfian memimpin deklarasi itu.

Andre, Founder Bojonegoro History yang menjadi Organizing Committe Bolo Fest merasa bersyukur acaranya berjalan lancar. Dia menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang sudah berkolaborasi, berkontribusi, dan berpartisipasi.

Baca Juga :  Kuburan Terapung, Tangan Soeharto dan Genosida di Bojonegoro

‘’Bolo Fest kami nilai sukses. Betul-betul menjadi wadah komunitas di Bojonegoro dalam bersinergi dan berkolaborasi,’’ tuturnya saat ditemui Bojonegoro Raya di Gedung BCH, Sabtu (6/12/2025) malam.

Pemuda asal Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro tersebut mengklaim, Bolo Fest dikunjungi sekitar 500 orang. Sepanjang acara, mereka keluar-masuk. Rerata Gen Z dan Alpha. Statusnya pelajar dan mahasiswa. Generasi baru Bojonegoro.

Selain menikmati dan memahami aneka sajian Bolo Fest, Andre juga berharap para pengunjung merasakan atmosfer atau semangat sinergi dan kolaborasi dalam Bolo Fest. Khususnya para pengunjung Gen Z dan Alpha.

‘’Itu penting bagi mereka (Gen Z dan Alpha, red). Karena, merekalah yang akan mewarisi semangat sinergi dan kolaborasi ini,’’ pungkas Andre.

Febriyanti salah satu pengunjung Bolo Fest. Dia mengaku senang. Sebuah kemajuan bagi ekosistem kreatif di Bojonegoro. Menurut dia, Bolo Fest hampir serupa acara kolektif kreatif di Yogyakarta atau Surakarta.

‘’Perlu diperbanyak acara seperti (Bolo Fest, red) ini. Dan, kualitasnya terus ditingkatkan,’’ imbuh perempuan yang sempat berkuliah di salah satu kampus seni–sastra di Yogyakarta tersebut.

Wildan salah satu Founder 360 Youth Media Lab. Sebuah komunitas kreatif di Bojonegoro yang giat memproduksi video dengan tampilan 360 derajat atau merekam dari segala sisi. Dia dan komunitasnya terlibat Bolo Fest.

‘’Komunitas kami baru aktif tiga bulan. Merasa beruntung sudah diajak berkolaborasi di Bolo Fest ini. Kami senang. Dapat banyak teman. Jejaring kreatif kami bertambah,’’ ungkapnya.

Rudi, Founder Komunitas Buku Jenggala yang berkolaborasi dalam Bolo Fest, mengatakan hal senada. Dalam acara itu, dia membuka lapak buku dan menjual zine karya komunitasnya. Mendapat banyak atensi.

‘’Zine kami terjual sepuluh eksemplar. Lumayan. Kami mendapat relasi, eksistensi, dan pundi ekonomi dari Bolo Fest ini,’’ tutur pemuda hobi membaca buku tersebut. (sab/kza)

Baca Juga :  Bupati Wahono Kukuhkan Kepengurusan Baru FKUB Bojonegoro, Diharap Peka Digital
error: Content is protected !!