Kurs Dolar Tembus Rp 17.500, Jerit Toko Kelontong

16/05/2026

Oleh: Khorij Zaenal Assrori
Jurnalis Bojonegoro Raya

——————

SULASTRI tidak lagi beli telur di toko kelontong dekat rumah. Muhtari tidak lagi beli rokok di toko meduro, sebutan toko madura. Fatimah tidak lagi membeli camilan nugget goreng di seberang rumah.

Biasanya Sulastri membeli beras, minyak goreng, mi instan, dan telur. Paket  komplet saban hari. Untuk konsumsi sehari-hari.

Muhtari hanya membeli pertalite, agar motor bututnya bisa berjalan. Menggelinding. Bibirnya sementara waktu mengurangi sebat, istilah merokok. Mending beli bensin, daripada rokok. Mengurangi rokok.

Tongpes, alias kantong kempes melanda Muhtari dan Sulastri. Uangnya menipis. Persediaan uangnya kian berkurang. Cemas. Khawatir jika belanja seperti biasanya, tidak cukup hingga akhir bulan. Harga beberapa barang komoditas mulai naik, terutama kebutuhan belanja.

Membuka smartphone atau HP, Sulastri dan Muhtari membaca sekilas adanya berita, Breaking News: Dolar Tembus Rp 17.500. Bagi, Sulastri dan Muhtari  dolar tembus Rp 17.500 itu makanan apa? Atau jajajan apa?

Entah, baginya info tidak menarik. Kalau mendengar dolar, seakan info kebarat-baratan. Tidak menarik. Menganggap info tidak berkaitan dengan fenomena tongpes melilitnya. Muhtari dan Sulastri ini dua orang nama samaran, lagi sambat. Mengeluh dengan kondisi ekonominya.

Ilustrasi toko kelontong. Gemini AI/ Bojonegoro Raya.

Toko Kelontong Jadi Melompong

Namun, siapa sangka dolar menembus Rp 17.500 ini ternyata memicu melemahnya transaksi jual beli di toko kelontong. Ada penurunan jumlah pembeli datang toko madura. Sepinya orang makan di warung-warung.

Ketika di toko madura, sempat menanyakan. Ternyata, ada fakta menarik, bahwa okupansi atau tingkat kedatangan pembeli menurun. Tidak ramai. Biasanya hilir bergantian pembeli berdatangan belanja di toko madura dan toko kelontong.

Biasanya satu per satu datang membeli beras, minyak goreng, mi instan, gula, rokok, hingga pertalite. Sekarang ada penurunan. ‘’Entah ada apa ini,’’ gumam salah satu penjaga toko madura dengan penasaran.

Baca Juga :  Warga Miskin Bojonegoro Tersisa 144.900 Jiwa

Yang menyedihkan, bahwa pelemahan rupiah, hingga dolar menembus Rp 17.500, memicu menurunnya pengunjung di pasar-pasar tradisional.

Tidak ramainya warga berbelanja di pasar sebagai ceruk ekonomi. Pasar jadi melompomg alias sepi, minim pembeli lewat di lorong-lorong pasar. Pedagang sambat. Perputaran uang melambat. Padahal, pasar menjadi rumah ekonomi para UMKM.

Adapun, pelemahan rupiah ini mencapai rekor. Belum pernah separah ini kurs dolar hingga Rp 17.500. Angka tertinggi. Memicu rupiah merosot. Anjlok. Bahkan, krisis moneter (krismon) dulu, kurs dolar saat itu sekitar Rp 12.000.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya harus terus berpikir melihat pelemahan rupiah ini. Ketua DPR Puan Maharani dalam wawancara dengan awak media, memastikan bakal menanyakan kepada pemerintah terkait strategi menghadapi pelemahan rupiah.

Komoditas Impor Meranggas

Dampak pelemahan rupiah ini memicu barang-barang baku bergantung impor menjadi naik. Misalnya, kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe. Tentu, akan terkoreksi. Imbasnya, kedelai naik berimbas harga tahu tempe.

Banyak pedagang memilih mempertahankan harga. Strateginya, ukuran dan kemasan lebih kecil dan berkurang. Daripada pembeli bergumam.

Gandum dan gula pasir, sebagai bahan baku mi dan roti juga ada kenaikan harga. Dampaknya akan menambah belanja barang-barang bahan baku. Sektor bakeri atau bisnis roti ada memilih menaikkan harga.

Ada juga pebisnis atau pedagang tidak mengubah harga roti. Rela memangkas laba seiring melonjaknya beberapa bahan-bahan baku.

Ayam, dengan pakan masih bertumpu impor, tentu berdampak harga jual. Harga masih naik, namun jumlah pembeli menurun. Daya beli melemah. Masyarakat yang biasanya memilih protein hewani berupa ayam dan daging, tentu dengan pelemahan rupiah, akan memilih seadanya.

Melemahnya daya beli akibat kurs rupiah yang merosot tentu berdampak daya beli di pasar. Masyarakat yang datang ke pasar menurun. Jumlah pembeli menurun yang mendatangi toko-toko kelontong, UMKM, dan toko madura. Termasuk, toko-toko modern.

Baca Juga :  Pertanian dan Agroindustri, Masa Depan Bojonegoro Nonmigas

Bagi pedagang gorengan, warung, dan UKM, tentu kenaikan harga bahan baku (minyak, tepung, kedelai) memicu kondisi terjepit. Apabila menaikkan harga, pembeli berkurang. Jika tidak ikut naik, laba atau keuntungan akan merepet alias tipis. Habis.

Belanja di Toko Kelontong, Pasar, dan UMKM

Ekonomi kondisinya kurang baik. Tengok ke pasar. Bertanya ke pedagang-pedagang tradisional. Rerata pasti mengeluh. Dagangan sepi. Okupansi pembeli turun, uang seret. Perputaran duit melambat.

Ketika pelemahan rupiah, tentu berdampak pada kondisi fiskal perusahaan. Laba menurun. Merembet kepada pendapatan pekerja atau buruh. Sulit ada tunjangan. Tentu, para pekerja juga mengerem belanja. Memilih hemat.

Melakukan penyusutan porsi makan. Biasanya memakai daging atau ayam untuk daya protein, kini lebih memilih sayuran. Memakai minyak goreng curah tanpa merek. Beras seadanya.

Kemandirian fiskal harus mengedepankan transaksi lokal. Belanja-belanja di sekitar tetangga. Menghidupi toko-toko kelontong. Berbelanja di pedagang-pedagang pasar tradisional. Semakin dekat berbelanja.

Program e-bakul milik Pemkab Bojonegoro perlu digas lagi. Bagaimana semua aparatur sipil negara (ASN) baik PNS maupun PPPK, harus berbelanja di sekitar rumah. Ada pengawasan. Pelaporan. Berdampak.

Program e-bakul ini bisa menjadi pintu masuk menghidupi toko kelontong, ragam UMKM, dan pasar-pasar tradisional. Ada perputaran uang. Ada gairah sistem ekonomi lokal.

Semua orang ingin belanja. Beli-beli. Tapi, ternyata tongpes. (*)

error: Content is protected !!