Meliput kisah pendidikan di pedalaman membuahkan ragam kesan. Sejak keberangkatan, di tujuan, hingga kepulangan.
——————
SUDAH lama tidak liputan di tempat jauh dari perkotaan Bojonegoro. Sesekali, kangen tentu ada. Liputan sambil jalan-jalan. Refreshing.
Rabu (22/4/2026) pagi, momen itu tiba. Setelah mandi, bersiap, dan melahap nasi goreng bikinan istri, saya berangkat liputan jauh dari perkotaan.
Menunggangi Astrea Grand, saya hilang dari muka rumah sejak pukul 07.54 WIB. Dari Pacul Permai, terus melaju ke selatan: Kecamatan Gondang.
20 kilometer (km) awal perjalanan, pemandangan rumah warga desa, pasar, sawah, ladang, hutan jarang, dan aliran sungai, silih berganti.
Tidak lama usai melewati Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Perhutani Gandek, pemandangan lebih menawan. Tampak jelas gugusan perbukitan.
Dengan motor pabrikan Jepang keluaran 1994 itu, saya terus ke selatan. Mendaki liuk-lekuk perbukitan yang sebelumnya tampak dari arah TPK Perhutani Gandek.
Sejak memasuki perbukitan ini, saya lebih semringah. Suasana makin indah. Jalan lebih naik-turun. Menikung. Ditangkup rindang hutan jati. Sejuk sekali.
Gugusan perbukitan di selatan jauh juga semakin tampak. Kian jelas resam dan pucuk-pucuknya. Sebagian diselimuti kabut tipis saja. Hijau tua. Menyegarkan mata.
Keindahan panorama alam seperti itu menemui puncaknya tatkala memasuki Kecamatan Gondang melalui jalan cor di barat Terminal Betek.
Entah, bagaimana menceritakannya. Pokoknya, panorama sepanjang jalan semakin cantik. Membuat melayang. Lalai kepenatan.
Pukul 09.12 WIB, tibalah di pusat Kecamatan Gondang. Permukiman padat. Toko berderetan. Ada pasar tidak terlalu ramai. Mungkin, sudah beranjak siang.
Dari jalan, Kantor Pemerintah Kecamatan Gondang juga tampak hidup. Sejumlah orang di pendapa. Camat Gondang R. S. Farokhi sepertinya juga di situ.
Saya lantas meneruskan perjalanan. Sejenak kemudian, berhenti di warung kopi tepi jalan. Di utara Indomaret Gondang, depan Toko Roti Restu.
Di warung kopi rumahan ini, saya memesan dan menyeduh secangkir kopi. Pahit. Tanpa gula. Kopi pertama saya pada Rabu (22/4/2026) itu.
Seiring menikmati kopi plus mengisap kretek, saya buka Google Maps di gawai. Mengecek lokasi tujuan: SMPN 2 Gondang. Masih 12 km lagi.
Habis secangkir kopi dan dua batang kretek, saya beranjak. Mesin Astrea Grand kembali nyala. Lanjut perjalanan ke selatan: SMPN 2 Gondang.
Mula-mula, saya mengira sudah tidak ada hutan lagi di sepanjang jalan menuju SMPN 2 Gondang. Menyangka pula, kontur jalan akan landai saja.
Namun, dugaan itu keliru. Hutan masih ada. Tanjakan juga tersedia. Bahkan, lebih panjang dan meliuk. Astrea Grand sempat terbatuk-batuk.
Sampai di percabangan jalan, berdiri gapura Selamat Datang Desa Krondonan di cabang kanan. Pilarnya berlapis keramik hitam. Atapnya stainless.
Saya melintas di bawah gapura itu. Jalanan turun-naik. Aspalnya banyak mengelupas. Kiri-kanan sawah kering, ladang jagung, dan kebun durian.
Sesaat kemudian, tampaklah permukiman padat. Jarang tampak laki-laki. Rerata perempuan. Mereka duduk depan rumah, mengupas kulit bawang merah.
Di Google Maps, permukiman ini tercatat sebagai Dusun Krondonan Lor. Astrea Grand terus melaju. Meninggalkan dusun yang tampak damai itu.
Pukul 09.35 WIB, akhirnya tiba di SMPN 2 Gondang. Astrea Grand parkir di luar gerbang. Langkah kaki ini bergerak masuk ke lingkungan sekolah itu.
Elok Panorama, Indah Hatinya
Para guru SMPN 2 Gondang menerima saya dengan baik. Guru yang pertama kali menyambut saya ialah Listiyono. Dia guru seni budaya.
Guru berdinas di SMPN 2 Gondang sejak 2009 silam itu meminta saya menunggu. Nanti akan ditemui guru yang cocok diajak wawancara.
Guru dimaksud Listiyono, sedang di kelas. Menunggu siswa-siswi yang menjalani asesmen tengah semester. Istilah anyar ujian tengah semester.
Belakangan, saya mengetahui Listiyono ternyata satu almamater kampus dengan saya. Yakni, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Bahkan, fakultasnya serupa. Fakultas bahasa dan seni. Bedanya, beliau di program studi pendidikan seni rupa. Saya, sastra Indonesia.
Kembali ke penantian wawancara. Saya duduk termenung di tepi lapangan SMPN 2 Gondang menanti sesi itu. Meresapi suasana asri sekolah ini.
Bagaimana tidak. SMPN 2 Gondang latar belakangnya perbukitan Gunung Pandan. Dari sekolah ini, elok panoramanya lebih nyata. Kian memesona.
Sekitar lima menit, guru dimaksud Listiyono menyapa saya. Mengajak ke ruang guru. Guru ini namanya Joko Wicaksono. Muda. Gagah. Ramah.
Di SMPN 2 Gondang, beliau guru Bahasa Inggris dan wakil kepala (waka) bidang kesiswaan. Wawancara dengannya bergulir lebih dari dua jam.
Di sela wawancara, seorang siswi datang mengantar dua cangkir kopi untuk kami. Manis. Kopi kedua saya pada Rabu (22/4/2026) itu.
Adapun, sebagian hasil wawancara telah tersaji dalam laporan utama majalah ini. Tanpa Joko Wicaksono, laporan utama itu sulit dimulai.
Selain dari beliau, keterangan atau cerita dari guru lain juga berarti. Misalnya, cerita dari Fahmi Mauludin—guru baru asal Cirebon itu.
Betul-betul. Guru di SMPN 2 Gondang sama baik. Terbuka. Ramah. Sederhana. Begitu pula para anak didiknya, siswa-siswi SMPN 2 Gondang itu.
Begini. Saat saya mengambil foto di tepi lapangan SMPN 2 Gondang, kebetulan berpapasan dengan segerombol siswa setempat.
Saat berpapasan ini, siswa itu tidak sekadar menyapa atau mengangguk. Malah menyalami dan mencium tangan saya. Mengherankan.
Oleh perlakuan keliwat santun itu, saya sungguh sungkan. Malu. Merasa diri tidak pantas. Namun, hendak menolaknya, tidak tega juga. Bingung.
Dengan ragu, saya merelakan mereka menunaikan kesantunan tersebut. Doa saya: semoga mereka terus menjaga santunnya sampai dewasa.
Sekitar pukul 13.00 WIB, SMPN 2 Gondang diguyur gerimis. Air turun merinai dari langit. Basahi tanah, atap bangunan, dan pepohonan.
Dalam gerimis itu, saya memutuskan pulang. Menempuh jalan serupa keberangkatan. Putar balik. Kembali ke perkotaan Bojonegoro.
Ada yang istimewa dalam perjalanan pulang ini. Rabu (22/4/2026) lepas zuhur itu, gerimis di Desa Krondonan turut membawa kabut.
Sejak keluar dari Dusun Krondonan Lor, kabut bahkan tebal sekali. Pandangan ke jalan dan sekitar menjadi putih samar. Jarak pandang sisa empat meter.
Dalam situasi ini, saya tidak cemas. Justru kagum. Terkesima. Kabut tebal itu membuat Desa Krondonan persis Dieng atau Tawangmangu.
Lebih metaforis lagi, kabut tebal itu membuat Desa Krondonan seperti dunia lain. Bak negeri kayangan yang acap didongengkan.
Lolos dari Desa Krondonan, kabut tebal memudar. Suasana cerah lagi. Gerimis masih turun. Merintik. Parka hitam yang saya kenakan, basah kuyup.
Rasa dingin tentu merayap ke kulit. Namun, biarkan. Itulah anugerah alam Gondang. Saya kembali melayang. Meneruskan pulang.
Sepanjang sisa jalan pulang, saya merefleksi betapa tabah para guru di sekolah pedalaman. Kiranya, patut ada insentif khusus untuk mereka.
Terutama, untuk para guru yang benar-benar menempuh jarak jauh ke sekolah, bisakah mereka dapat uang transport? Atau, dibekali kendaraan dinas?
Kalau tidak bisa, penempatan guru perlu dievaluasi lebih sering. Mutasi atau rotasi penempatan guru perlu dilakukan rutin. Berkala.
Berilah kesempatan guru sekolah pedalaman mengajar di sekolah kota. Begitu pula sebaliknya. Biar genap pengalamannya. Juga adil haknya. (*)
— Artikel ini bagian dari Majalah Pintar yang diterbitkan Bojonegoro Raya, Sabtu (2/5/2026) lalu. Menepati Hari Pendidikan. Beredar digital, dalam format pdf dan flipbook.

