Ludruk Siswa-siswi Smansaga: Lestarikan Seni Budaya, Menggugah Sejarah Wilayah

AKTING: Siswa-siswi Smansaga saat bermain peran dalam pentas Ludruk. (Foto: Azzahra Alvaura Qinaya untuk Bojonegoro Raya)

Siswa-siswi Smansaga berpentas Ludruk. Dua hari delapan kelompok. Melestarikan seni budaya. Menggugah sejarah wilayah.

BOJONEGORORAYA – Panggung itu disorot cahaya puspawarna. Berganti-ganti. Di atasnya, siswa-siswi SMAN 1 Sugihwaras (Smansaga) Bojonegoro tidak lagi menjadi diri sendiri. Mereka akting, menyaru orang lain. Paras, pakaian, lagak, mimik, dan suaranya tidak seperti sehari-sehari. Nyaris tidak bisa dikenali.

Ya, siswa-siswi Smansaga tersebut sedang bermain peran. Mereka pentas Ludruk. Serius dan kompak memainkan lakon-lakon kerakyatan khas Jawa Timur (Jatim). Diiringi tabuhan gamelan. Diawali Tari Remo dan diselipi Kidung Jula-Juli, seperti pentas-pentas Kartolo Cs semasa dulu.

Adapun, pentas Ludruk siswa-siswi Smansaga itu berlangsung dua hari. Pada Rabu (1/4/2026) dan Kamis (2/4/2026) kemarin. Sejak pagi hingga sore. Panggungnya di dalam aula sekolah setempat. Pojokan belakang kompleks sekolah. Ditonton sesama siswa-siswi Smansaga, guru, alumni, hingga warga sekitar.

Pentas Ludruk dalam dua hari tersebut juga disiarkan secara live di Youtube. Melalui channel Youtube Smansaga, yakni SMAN 1 SUGIHWARAS Official. Total, sampai Jumat (3/4/2026) siang pukul 12.14 WIB, siaran live itu sedikitnya sudah ditonton sebanyak 7.704 kali.

Guru Seni Budaya Smansaga Rohmad Wahyudi mengemukakan, pentas Ludruk dimainkan anak-anak didiknya itu dalam rangka Penilaian Sumatif Akhir Jenjang Keterampilan Tahun Pelajaran 2025/2026 pada Mata Pelajaran Seni Budaya. Istilah mudahnya, ujian praktik.

‘’Siswa-siswi yang pentas Ludruk ini seluruhnya kelas 12,’’ ujarnya saat ditemui Bojonegoro Raya di sekolahnya, Rabu (2/4/2026) siang.

Guru Seni Budaya cum Bahasa Indonesia itu meneruskan, siswa-siswi kelas 12 di Smansaga jumlahnya tidak kurang dari 250. Mereka terbagi dalam delapan kelas. Mulai kelas XII-1 hingga XII-8. Dalam pentas Ludruk yang dihelat untuk ujian praktik dimaksud, per kelas, satu kelompok Ludruk.

‘’Jadi, ada delapan kelompok Ludruk yang tampil. Satu hari empat kelompok. Mulai pagi hingga sore. Per kelompok, durasi tampilnya satu setengah hingga dua jam,’’ terangnya.

Tentu, guru kelahiran 1985 tersebut mengemukakan, delapan kelompok itu memainkan lakon Ludruk berbeda. Ada lakon Geger Pabrik Kedawung, Sogol Pendekar Sumur Gemuling, Joko Sambang, Untung Suropati, Sumilang ing Pendhut Tanjung Sari, Sarip Tambak Oso Pendekar Lor Kali, Sakera, dan Sawunggaling.

‘’Alhamdulillah anak-anak kami bisa memainkan lakon-lakon itu dengan baik. Sebagai guru, kami tentu bangga dengan mereka,’’ imbuh alumnus IKIP PGRI Bojonegoro tersebut.

Rohmad Wahyudi mengungkapkan, ujian praktik berupa pentas Ludruk itu pilihan siswa-siswinya. Semula, ada banyak opsi. Mulai pentas seni musik, seni tari, seni peran, hingga pameran seni rupa atau kriya. Setelah dilakukan votting, siswa-siswinya banyak yang memilih seni peran.

Baca Juga :  Ke Wisata Edukasi Gerabah, Bicara Soal Warna Produk

‘’Sekitar 65 persen memilih seni peran. Khususnya, Ludruk,’’ jelas guru tinggal di Desa Kenep, Kecamatan Balen, tersebut.

Berkenaan dengan itu, Rohmad Wahyudi tidak kaget. Sebab, siswa-siswinya memang memiliki minat khusus terhadap Ludruk. Selain itu, sudah familiar. Smansaga mengenalkan Ludruk ke para siswa-siswinya sejak 2017 silam. Bahkan, Ludruk diselipkan dalam kurikulum. Masuk salah satu muatan lokal.

‘’Begitulah upaya kami (Smansaga, red) agar Ludruk tetap diakrabi anak-anak. Kami ingin Ludruk tetap lestari. Tidak hilang ditelan arus zaman saat ini,’’ tuturnya.

Kolaborasi Optimal dengan Sanggar Lokal

Smansaga tidak berjalan sendirian dalam nguri-uri seni budaya. SMAN di kepalai Abdul Jalil itu menggandeng sanggar lokal setempat. Namanya Sanggar Abdi Dalem. Berada di Desa/Kecamatan Sugihwaras. Dekat dengan Smansaga. Jaraknya tidak sampai satu kilometer (km).

Guru Seni Budaya Smansaga Nanda Setyo Hardianto mengemukakan, Sanggar Abdi Dalem itu milik Suyanto. Akrab disapa Pak Dhe Yanto. Jelang ujian praktik pentas Ludruk, pihaknya selalu berkoordinasi dan berkolaborasi dengan sanggar milik Pak Dhe Yanto.

‘’Delapan kelompok Ludruk siswa-siswi Smansaga yang pentas ini, latihannya di sanggar beliau (Suyanto, red),’’ ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Kamis (2/4/2026) siang.

Guru bergelar sarjana seni itu meneruskan, Sanggar Abdi Dalem punya andil besar bagi siswa-siswi Smansaga yang berpentas Ludruk. Suyanto dan tim di Sanggar Abdi Dalem begitu tekun menularkan ilmu seni pertunjukan. Mulai pernaskahan, akting, hingga ragam urusan produksi.

‘’Sebagai guru seni budaya, saya sangat terbantu. Jelang ujian praktik pentas Ludruk, hampir setiap hari saya dan siswa-siswi latihan di sanggar beliau,’’ imbuhnya.

Soal musik iringan Ludruk, lanjut Nanda sapaannya, siswa-siswinya dilatih Smansaga sendiri. Kebetulan, Smansaga memiliki seperangkat gamelan. Kebetulan lagi, dia sarjana seni bidang karawitan. Jadi, punya kompetensi yang tepat untuk memberikan pelatihan atau pendampingan.

‘’Awal-awal, latihan musiknya di sekolah sini. Ketika sudah jadi, kami ke sanggar Pak Dhe Yanto. Pelarasan dengan latihan peran. Istilahnya, tempuk gending,’’ ungkap alumnus ISI Surakarta itu.

Guru Smansaga tinggal di Desa Pekuwon, Kecamatan Sumberrejo itu meneruskan, satu kelompok Ludruk siswa-siswinya rerata terdiri dari 36 anak. Sepuluh anak menjadi pemusik, lima sampai tujuh anak menjadi tokoh inti, sisanya menjadi peran pelengkap atau pendukung dan bagian produksi.

‘’Bagian produksi itu misalnya membuat properti, setting panggung, mengusahakan kostum, hingga merias,’’ jelas guru masih berusia muda tersebut.

Baca Juga :  Sentra Kerajinan Batik Perlu Dipercantik, Tingkatkan Pemasaran

Pahamkan Teknik dan Nilai Seni Budaya, Membentuk Disiplin

Suyanto membenarkan Smansaga menjalin kerja sama dengan sanggarnya. Tali kerja sama itu sudah tersambung sekitar delapan tahun, sejak 2017 silam. Berawal dari insiatif Smansaga ihwal pemajuan dan pelestarian seni budaya, pihaknya menyambut baik inisiatif tersebut.

‘’Selama delapan tahun itu, kami mendampingi Smansaga soal seni budaya. Sebagai praktisi seni budaya, tentu kami senang sekali,’’ tuturnya kepada Bojonegoro Raya, Kamis (2/4/2026) siang.

Termasuk dalam proses terakhir yakni gelaran pentas Ludruk untuk ujian praktik, lanjut Suyanto, pihaknya merasa senang mendampingi siswa-siswi Smansaga. Hampir setiap hari, pihaknya melatih siswa-siswi kelas 12 tersebut. Mereka datang bersama Nanda Setyo Hardianto atau Rohmad Wahyudi.

‘’Lebih kurang, delapan kelompok siswa-siswi Smansaga itu kami latih selama dua setengah bulan. Sejak sebelum Ramadan,’’ ungkap seniman senior tersebut.

Latihan tahap awal, kata dia, dimulai dengan pemilihan, pengolahan, dan pemahaman naskah lakon. Dilanjut pernafasan, olah fisik, tata suara, tata akting, tata bahasa, hingga tata panggung. Dari sekian tahap itu, yang paling lama dikuasai siswa-siswi Smansaga adalah tata akting dan tata bahasa.

Sebab, tata akting mewajibkan perubahan sosok secara radikal. Dari sosok sehari-hari, menjadi sosok lain sama sekali. Begitu pula pada tata bahasa. Bahasa dalam pertunjukan Ludruk dan bahasa sehari-hari tidaklah sama. Banyak istilah yang jarang dimengerti anak zaman ini, termasuk konteksnya.

‘’Menyikapi itu, kami tekun memberikan contoh dan pemahaman. Satu per satu peran, kami contohkan, kami jabarkan. Agar mereka tahu tekniknya. Juga paham nilai seni budayanya,’’ imbuhnya.

Selain latihan-latihan sifatnya teknik itu, seniman yang sempat mengabdi di Pemprov Jatim dan Pemkab Bojonegoro sebagai aparatur sipil negara (ASN) itu mengemukakan, latihan Ludruk untuk siswa-siswi Smansaga diatur ketat. Mewajibkan siswa-siswi disipilin selama proses latihan.

‘’Tanpa disiplin dalam latihan, pertunjukan seni tidak akan berhasil maksimal. Termasuk, Ludruk. Disiplin latihan itu wajib dalam seni pertunjukan,’’ ungkapnya.

Seiring itu, seniman kelahiran Madiun itu menyampaikan, disiplin dalam latihan tentu berdampak pada karakter siswa-siswi. Membuat mereka tahu posisi dan tanggung jawab. Selain itu, mereka juga akan lebih kompromi terhadap sesama. Paham arti saling menghargai, kolaborasi, dan solidaritas.

Lebih lanjut, seniman kelahiran Madiun itu mengaku sangat bangga dengan siswa-siswi Smansaga. Telah berproses dan menampilkan hasilnya. Menurut dia, tidak semua pelajar berani atau bisa seperti itu. Terhadap Smansaga, pihaknya juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya.

Baca Juga :  Sinden Cilik Galuh Mustiko Mumpuni, Pelantun Tembang dari Kasiman

‘’Di Bojonegoro dan Jatim, hanya Smansaga yang berhasil melestarikan Ludruk di sekolah secara kuat dan masif. Mungkin, se-Indonesia juga hanya Smansaga ini,’’ imbuhnya.

Terpisah, salah satu siswa Smansaga Oktaviano Gilang Ramadhan menyampaikan, dia senang mengikuti proses latihan hingga pementasan Ludruk. Menurut dia, sangat seru. Membuatnya mengerti teknik seni peran, nilai seni budaya, dan memengaruhi karakternya.

‘’Berproses dalam Ludruk ini membuat saya bisa akting, kenal seni budaya lebih dalam, dan memacu saya lebih disiplin,’’ ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Kamis (2/4/2026) sore.

Siswa-siswi Smansaga Mewarisi Jejak Moyangnya

Ludruk bukan kesenian baru di Kecamatan Sugihwaras. Seni pertunjukan itu sudah familiar. Di masa lalu, Kecamatan Sugihwaras bahkan riuh oleh pertunjukan Ludruk. Dimainkan kelompok Ludruk lokal Kecamatan Sugihwaras, luar Kecamatan Sugihwaras, hingga luar Bojonegoro.

‘’Masa-masa itu terjadi pada dekade 1970-an hingga 1980-an,’’ ujar Suyanto meneruskan wawancara dengan Bojonegoro Raya, Kamis (2/4/2026) sore.

Kelompok Ludruk lokal di Kecamatan Sugihwaras, kata Suyanto, sedikitnya ada tiga. Berasal dari Desa Sugihwaras, Desa Balongrejo, dan Desa Glagahwangi. Pentasnya di lapangan Desa Sugihwaras. Kiwari, lapangan tersebut menjadi perumahan atau permukiman.

‘’Pementasan Ludruk di lapangan seperti itu istilahnya tobongan atau nobong. Ramai penonton. Masyarakat sini begitu antusias,’’ imbuhnya.

Kelompok Ludruk bentukan Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) TNI AU di Madiun juga pernah nobong di lapangan Desa Sugihwaras tersebut. Seingatnya, tiga kali. Terakhir, pada 1983. Penontonnya luar biasa banyak. Ada yang dari Tuban hingga Nganjuk.

‘’Kecamatan Sugihwaras ini bisa disebut sebagai salah satu pusatnya Ludruk di Bojonegoro. Tapi, itu dulu. Riwayat masa lalu,’’ lanjut Suyanto.

Seniman kelahiran 1962 itu merefleksi, kini Ludruk bergeliat di Smansaga. Pemainnya muda-muda. Siswa-siswi. Suyanto mengira, secara langsung maupun tidak langsung, para pelajar tersebut telah mewarisi jejak moyangnya. Sekian di antara mereka, pasti ada yang kakek, nenek, atau buyutnya pemain Ludruk.

‘’Atau yang kakek, nenek, atau buyutnya sekadar penikmat Ludruk, pasti ada. Saya yakin soal itu,’’ tutur Suyanto.

Lebih lanjut, pensiunan ASN tersebut berharap, Smansaga terus memelihara eksistensi Ludruk di kalangan siswa-siswinya. Jangan sampai berhenti atau terputus. Dia juga berharap, siswa-siswi Smansaga menekuni Ludruk secara berkelanjutan. Tidak sekadar ketika di sekolah saja.

‘’Siapa tahu, Ludruk di Kecamatan Sugihwaras bisa ramai lagi. Kembali seperti sejarahnya dulu. Ludruk menjadi identitasnya Kecamatan Sugihwaras,’’  pungkasnya. (sab/kza)

error: Content is protected !!