BOJONEGORORAYA — Tim Revalidasi Geopark Bojonegoro melanjutkan agendanya pada Jumat (13/6/2025). Hari ketiga. Hari terakhir.
Sebagaimana dua hari sebelumnya, tim revalidasi dan para terkait berkumpul di Gedung Pusat Informasi Geologi (PIG) pagi, lantas berangkat.
Tujuan perdana kunjungan hari ketiga ini Museum 13 di SDN Panjunan, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Berisi aneka benda arkeologi. Mayoritas, fosil.
Sekitar 30 menit perjalan, tim revalidasi sampai di Museum 13. Mereka pun disambut riang oleh siswa-siswi SDN Panjunan. Juga guru-guru setempat.
Sejumlah siswa juga sempat presentasi perihal fosil-fosil yang disimpan di sekolahnya–di Museum 13. Pintar. Keren. Percaya diri. Diapresiasi tim revalidasi.
Tidak lama pasca itu, tim revalidasi kemudian masuk Museum 13. Begitu masuk, mereka langsung terpukau. Disuguhi banyak fosil beragam rupa dan ukuran.

Kontan, tim revalidasi jadi heran. Guru dan siswa SD bisa mengelola museum arkeologi secara nyata. Bahkan, berburu pula untuk mencari isinya. Betapa.
Mirawati Sudjono, salah satu anggota tim revalidasi, secara implisit mengatakan, Museum 13 istimewa. Cocok jadi bagian geopark. Pendukung sisi edukasi–literasi.
Namun demikian, Mirawati Sudjono mengharap, pengelolaan Museum 13 tetap perlu ditingkatkan lagi. Agar, semakin menarik dan ‘berisi’.
Misalnya, kata dia, perlu ada wadah lebih proper untuk fosil-fosil di Museum 13. Bisa berupa etalase, bisa yang lain. Asal, fosil bisa tetap aman. Namun, tetap estetik.
“Dan, tidak bisa disentuh sembarang tangan,” tuturnya.
Itu mengingat, sentuhan sembarang tangan bisa merusak fosil. Selain tersebut, Mirawati Sudjono juga menyampaikan, penginformasian fosil harap ditingkatkan.
“Identitas fosilnya perlu diperdetail. Ada gambar peta sebaran. Dan, berbahasa Inggris,” jelasnya.
Yoko Hartono, salah satu personel Badan Pengelola (BP) Geopark Bojonegoro mencatat masukan Mirawati Sudjono tersebut.
“Akan ditindaklanjuti dengan melibatkan pihak-pihak terkait,” ujarnya.
Sementara itu, tim revalidasi juga meminta peran Universitas Bojonegoro (Unigoro) dalam pengelolaan Museum 13 di SDN tepi Jalan Raya Bojonegoro–Cepu tersebut.
Mengingat, sekelompok mahasiswa Unigoro sedang melangsungkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau pengabdian masyarakat di Desa Panjunan. Lokus Museum 13.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Unigoro Laily Agustina menyatakan siap menindaklanjuti permintaan dari tim revalidasi.
Pihaknya akan meminta mahasiswa KKN untuk membantu pengelola Musem 13 dalam membuat informasi digital. Dalam bentuk teks maupun visual.
“Akan dibuatkan sistem QR Code untuk penyajian informasi detail fosil. Juga peta persebaran fosil yang lebih menarik,” terangnya. (sab/kza)


