BOJONEGORORAYA — Mita berias sederhana. Berjilbab, berbusana muslimah. Tangannya nyangking berkat berisi nasi dan lauk pauk yang telah disiapkan sejak subuh hari.
Bersama para tetangga, ibu dua anak ini membawa berkat tersebut ke Kompleks Makam Ki Andong Sari, Kelurahan Ledok Kulon, perkotaan Bojonegoro, Selasa (7/7/2026) pagi.
Di kompleks makam tepi Bengawan tersebut, warga Ledok Kulon ini bersamuh dengan ratusan warga Ledok Kulon lain, juga Ledok Wetan. Suasana semarak. Guyub rukun.
Mereka bareng-bareng menyerahkan berkat dan ambeng. Para panitia Haul ke-244 Ki Andong Sari melangsir dan mengumpulkan berkat serta ambeng itu di Pendapa Makam Ki Andong Sari.
Di dalam cungkup makam Ki Andong Sari, Modin Suwono khusuk merapal doa di depan pusara Ki Andong Sari. Membisikkan uluk salam dan kalimah penghormatan.

Tidak lama usai seluruh berkat dan ambeng dikumpulkan, bungkusan berisi nasi, lauk pauk, hingga jajanan pasar tersebut dibagikan ke warga masyarakat lagi. Secara acak. Sangat semarak.
Setelahnya, para puthu Ki Andong Sari tersebut memanjatkan doa bersama dipimpin Kiai Ilyas. Mengharap Allah memberikan nasib hidup yang semakin baik, lebih berkah.
Terakhir, segenap panitia, warga, dan Lurah Ledok Kulon Anton Simbolon serta jajaran, melahap berbagai berkat dan ambeng yang diterima. Mereka makan bersama-sama.
Semarak guyub rukun di Kompleks Makam Ki Andong Sari itu helatan manganan atau sedekah bumi tlatah Ledok. Rangkaian Haul ke-244 Ki Andong Sari. Ritus setahun sekali.
‘’Ini (manganan, red) momen yang ditunggu-tunggu,’’ ujar Mita kepada Bojonegoro Raya di lokasi, Selasa (7/7/2026) pagi.
Saat manganan, kata dia, warga Ledok Kulon hingga Ledok Wetan berkumpul di Kompleks Makam Ki Andong Sari. Tumplek blek. Bersilaturahmi dan saling berbagi.
‘’Saat manganan seperti ini, kami bertemu banyak saudara se-Ledok. Baik Ledok Kulon, maupun Ledok Wetan,’’ imbuhnya.
Juru Kunci Makam Ki Andong Sari Supitono menuturkan, manganan di Kompleks Makam Ki Andong Sari memang tidak saja diikuti warga Ledok Kulon. Namun, juga Ledok Wetan.
‘’Dulu, Ledok Kulon dan Ledok Weran adalah satu. Namanya Desa Ledok,’’ tuturnya.
Jadi, manganan di Kompleks Makam Ki Andong Sari diikuti warga Ledok Kulon dan Ledok Wetan karena leluhurnya sama. Yakni, Ki Andong Sari. Makam keduanya pun serupa.
‘’Warga Ledok Wetan kalau meninggal, juga dimakamkan di (Kompleks Makam Ki Andong Sari, red) sini,’’ imbuhnya.
Lebih lanjut, Supitono mengemukakan, manganan di Kompleks Makam Ki Andong Sari digelar rutin saban tahun. Beberapa tahun belakangan, dirayakan dengan tajuk Haul Ki Andong Sari.
‘’Untuk manganan, selalu digelar setiap Selasa Kliwon pada bulan Sura. Tradisinya begitu sejak dulu,’’ terangnya.
Manganan di Kompleks Makam Ki Andong Sari, kata warga asli Ledok Kulon ini, merupakan bentuk hormat atas jasa dan warisan Ki Andong Sari selaku leluhur tlatah Ledok.
‘’Manganan juga wujud rasa syukur atas berbagai berkah yang kami terima dari Allah,’’ tambahnya.
Supitono berharap, generasi Ledok Kulon dan Ledok Wetan tidak melupakan Ki Andong Sari beserta berbagai nilai dan tradisi yang mengikuti. Misal, manganan harus tetap lestari. (sab/kza)

