Ledre, Gulungan Warisan Perempuan (Seri 2)

Mempertahankan Ledre di Pecinan Padangan, Tetap Pakai Anglo dan Arang

TETAP TRADISIONAL: Mutmainah di pintu dapur produksi ledrenya. Bertahan pakai anglo dan arang. (Foto: Ahmad Wahyu Rizkiawan/Bojonegoro Raya)
TETAP TRADISIONAL: Mutmainah di pintu dapur produksi ledrenya. Bertahan pakai anglo dan arang. (Foto: Ahmad Wahyu Rizkiawan/Bojonegoro Raya)

CERITA Nyonya Seger tentang Min Tjie bukan isapan jempol. Para pembuat atau produsen ledre di Pecinan Padangan mengakui Min Tjie perempuan yang kali pertama membuat ledre. Salah satu pembuat ledre mengakui kiprah Min Tjie itu ialah Panisih.

‘’Kami memanggilnya Mak Min Tjie. Dia legenda di sini, pembuat ledre pertama kali,’’ ujar Panisih saat ditemui Bojonegoro Raya di rumahnya, Sabtu (26/9/2026) pagi.

Perempuan berusia 73 tahun ini mengemukakan, di masa dulu, banyak orang belajar membuat ledre kepada Min Tjie. Ada yang sesama keturunan Tionghoa, ada pula yang pribumi. Semua perempuan yang datang karena ingin membuat ledre pada Min Tjie, pasti diajari.

‘’Mak Min Tjie orangnya baik, cantik, dan loman (suka memberi atau membantu, red),’’ imbuh pembuat ledre sejak 1969 itu.

Panisih meneruskan, ibunya dulu juga pembuat ledre. Belajar dari Min Tjie langsung. Sedang, dirinya belajar membuat ledre dari ibunya dan orang-orang keturunan Tionghoa di Pecinan Padangan yang lebih dulu belajar pada Min Tjie.

‘’Sampai sekarang saya masih membuat ledre. Tapi ya tidak banyak. Tetap pakai anglo (tungku tradisional, red) dan arang. Tidak kompor gas,’’ terangnya.

Mutmainah juga pembuat ledre di Pecinan Padangan. Seperti Panisih, pembuat ledre berusia 51 tahun ini mengatakan, Min Tjie merupakan legenda di Pecinan Padangan. Min Tjie sumber pengetahuan membuat ledre di Pecinan Padangan.

‘’Saya belajar membuat ledre dari ibu. Dan, ibu belajar membuat ledre dari Mak Min Tjie,’’ ujarnya saat ditemui Bojonegoro Raya di rumahnya, Sabtu (27/9/2026) pagi.

Produsen ledre kelahiran 1975 ini meneruskan, dia senang membuat ledre. Terus membuat ledre untuk mengisi waktu luang dan menambah pendapatan. Terlebih, anglo dan wajan yang dia pakai untuk membuat ledre merupakan warisan ibu.

Baca Juga :  Ledre Perlu Kemasan Lebih 'Manis' dan Berbahasa Inggris

‘’Saat membuat ledre jadi terkenang ibu. Ingat masih kecil dulu. Usia SD, saya sudah membantu ibu membuat ledre,’’ imbuh Mutmainah.

Dia menyebut, pembuatan ledre dari dulu hingga kini sama saja. Bahan wajibnya tetap pisang raja. Yang mungkin berubah adalah kini banyak pembuat ledre tidak memakai anglo dan arang lagi. Namun, beralih menggunakan kompor gas dan elpiji.

‘’Kalau saya tetap bertahan pakai anglo. Apinya dari arang. Karena, menurut saya aroma dan rasa ledrenya lebih enak. Lebih asli,’’ tuturnya.

Mutmainah memperkirakan, saat ini ada sekitar 20 produsen ledre di Pecinan Padangan. Ada yang rutin mengirim ledrenya ke agen, ada juga menjual sendiri berdasarkan pesanan. Dia termasuk yang kedua: menjual sendiri berdasarkan pesanan.

‘’Hari-hari biasa seperti ini, pesanan sepi. Kalau musim prepekan (kelarisan, red) itu pas lebaran atau liburan akhir tahun,’’  terangnya.

Perihal kendala atau tantangan produsen ledre di Pecinan Padangan saat ini, Mutmainah tidak bercerita banyak. Bahan-bahan membuat ledre realtif selalu tersedia di Pasar Padangan. Kalau boleh disebut kendala atau tantangan, hanya soal modal.

‘’Yang paling dikeluhkan kami saat ini ya modal untuk nyetok bahan membuat ledre. Itu saja,’’ ungkap ibu dua anak ini. (riz/sab/kza)