Menelisik Distorsi Makna Perayaan Tahun Baru

28/12/2025

Oleh: Nono Warnono
Pegiat bahasa dan sastra Jawa, aktif di Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB)

——————

TERMINOLOGI perayaan merujuk pada kata-kata atau konsep yang digunakan untuk mengilustrasikan peristiwa sosial, ritual, atau peringatan tertentu.

Perayaan dimaknai sebagai aktivitas atau interaksi bernuansa positif. Baik secara vertikal terhadap Allah atau hablum minallah maupun secara horizontal dengan manusia atau hablum minannas.

Wujudnya, terejawantah melalui berbagai event kebaikan nan mengagungkan Allah. Membangun empati dan berbagi kepada sesama yang butuh support karena kurang beruntung nasibnya.

Namun, makna tersebut di era kiwari sudah bergeser. Kehilangan hakikat. Terutama, jika makna tersebut dikaitkan dengan momentum perayaan tahun baru sebentar lagi.

Perayaan, telah tereduksi bahkan terdistorsi maknanya. Tidak lagi meniscayakan laku religius dan bernilai humanis. Hanya mengorkestrasi hura-hura dan pesta pora. Nirmakna.

Dengan kemerosotan makna itu, perayaan tahun baru jelas lebih diwarnai kegiatan yang mendekati laku tasyabbuh. Meniru, bahkan menyerupai ritual kelompok lain, di belahan lain.

Kegiatan tiup terompet, penyalaan petasan dan kembang api, bakar-bakar ikan, konvoi kendaraan bising tersebab knalpot brong, hingga gegap gempita pagelaran panggung hiburan.

Ingar bingar dalam perayaan itu, acap abai kelompok masyarakat yang tengah sakit dan butuh ketenangan. Orang-orang beribadah tengah malam yang butuh ketenteraman.

Itu semua bentuk pendistorsian makna perayaan tahun baru. Seharusnya, pergantian tahun baru dirayakan dengan mengevaluasi laku diri selama satu tahun yang sudah dijalani.

Misalnya, berkontemplasi merenungkan kekurangan diri dan mencari cara berbenah diri. Bukan begadang, menghamburkan uang, bermaksiatan, hingga merisaukan lingkungan.

Memang, terkait perayaan tahun baru masih kontroversi. Ada pro dan kontra. Kegaduhan opini senantiasa terjadi di ruang publik. Baik ruang publik nyata maupun maya.

Baca Juga :  Konser Dewa19, Livoli, dan Jazz Bengawan, Bisakah Bojonegoro Jadi Kabupaten Ramah Event

Masyarakat pro berargumentasi, perayaan tahun baru memiliki beberapa perspektif positif. Dua di antaranya, menghimpun energi dan menggerakkan ekonomi.

Menghimpun energi dimaknai sebagai refreshing masyarakat seusai bergelut dengan berbagai aktivitas dan pekerjaan di era yang cepat, kompetitif, serta penuh tekanan.

Dari sisi menggerakkan ekonomi, ingar bingar perayaan tahun baru diyakini meningkatkan okupansi hotel, kunjungan wisata serta pasar, hingga melarisi kuliner di warung dan sejenisnya.

Bagi yang kontra, perayaan tahun baru yang gegap gempita dan hura-hura diartikan sebagai kegiatan lebih banyak madharat-nya dari pada manfaat kebaikannya.

Argumen itu senafas dengan kaidah dar’ul mafaasid muqaddamun, min jalbil mashalih. Artinya, mencegah kerusakan lebih diutamakan dari pada melakukan kebaikan.

Masih menurut pihak kontra, kegiatan euforia sesungguhnya bisa dikemas dalam laku positif namun tidak kontraproduktif. Misalnya kenduri, tasyakuran, hingga doa bersama.

Dengan begitu, para peraya tahun baru bisa berkontemplasi merenungi hidup dan kehidupan. Memawas hari lalu, kini, dan nanti. Ada introspeksi, evaluasi, dan refleksi diri.

Memaknai Momentum Perayaan dengan Kepedulian dan Religiusitas

Ketika negeri dalam situasi pascatragedi, alangkah mulia jika momentum pergantian tahun baru dimaknai dengan membangun rasa kepedulian sosial kepada sesama.

Bukan dengan menyalakan aktivitas hura-hura. Yang mana, berpotensi mencederai hati masyarakat yang sedang tertimpa bencana. Menimbulkan ketimpangan emosional.

Saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat yang diuji banjir bandang cum tanah longsor, sedang butuh kepedulian. Rumah hancur. Sawah ladangnya porak-poranda.

Alangkah mulia, jika anggaran untuk bergembira ria di perayaan pergantian tahun dialokasikan untuk meringankan beban saudara-saudara kita di sana.

Pun, betapa bermakna ketika perayaan tahun baru bisa menjadi momen mengubah paradigma. Dari aktivitas ingar bingar, menjadi ragam laku kebaikan sarat empati.

Baca Juga :  Mencuri Mori dan Korupsi: Menggali Kuburan, Mengais Anggaran

Mengekspresikan perayaan tahun baru, seyogyanya juga dijadikan momentum yang lebih bermakna dengan mendekatkan diri kepada Allah atau taqarraub ilallah.

Penciptaan suasana religiusitas ini esensial tersebab manusia sebagai makhluk berketuhanan atau homo religius yang butuh asupan rohani.

Spiritualitas itu yang meningkatkan gairah menghamba kepada Pengeran. Tidak cinta dunia an sich. Namun, ada keseimbangan dimensi lahir pun ranah rohani.

Dengan keseimbangan lahir dan rohani itu, manusia akan didudukkan pada kondisi sehat lahir batin, jiwa raga, selamat dunia akhirat. Tentram. Menenangkan.

Wabakdu, perayaan tahun baru betapa lebih bermakna jika kita dapat mengubah paradigma hura-hura bising dan ingar bingar, menjadi laku kepedulian terhadap sesama.

Penciptaan nuansa religiusitas pada perayaan tahun baru juga perlu. Itu manifestasi dalam membangun benderang rohani, menghamba kepada Gusti. (*)

error: Content is protected !!