BOJONEGORORAYA – Industri hulu minyak dan gas (migas) di Bojonegoro sedang tidak optimal pada awal 2026 ini. Lifting atau produksi minyak dari Lapangan Banyu Urip di Kecamatan Gayam, misalnya, mengalami penurunan.
Rekap data hingga 31 Mei 2026 kemarin, produksi minyak dari lapangan migas dioperatori ExxonMobil Cepu Limited itu tercatat 129.915 barel per hari (bph). Tidak mencapai targetnya. Yakni, 148.500 bph.
Hal tersebut diutarakan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (3/6/2026) lalu.
Djoko Siswanto mengemukakan, produksi minyak di lapangan migas wilayah kerja Blok Cepu itu turun karena resevoirnya bermasalah. Minyak yang keluar dari resevoir sedikit. Yang lebih banyak keluar ialah air dan gas.
Dalam RDP yang sama, Senior Vice President Production ExxonMobil Cepu Limited Muhammad Nurdin membenarkan bahwa produksi minyak di Lapangan Banyu Urip sedang tidak optimal pada awal 2026 ini.
”Memang kami (Lapangan Banyu Urip, red) mengalami penurunan produksi atau mengalami decline dari produksi,” ujarnya, Rabu (3/6/2026) itu.
Muhammad Nurdin menerangkan, penurunan produksi minyak di Lapangan Banyu Urip disebabkan faktor alamiah. Yakni, terjadinya natural decline di lapangan migas yang telah beroperasi sejak akhir 2008 silam tersebut.
Turunnya produksi minyak ini, berpengaruh terhadap ekonomi nasional, juga Bojonegoro. Sebab, besar-kecil dana bagi hasil (DBH) migas yang dialokasikan untuk Bojonegoro, tergantung banyak-sedikit produksi migas dari Blok Cepu.
Di tengah kondisi dimaksud, sektor pertanian di Bojonegoro bergerak maju. Cukup signifikan mengungkit pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor pertanian menjadi penumpu perekonomian Bojonegoro, seiring lesunya industri hulu migas.
Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk Membaca Bojonegoro dalam Angka. Dipimpin Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro Nurul Azizah di ruang kerjanya, Senin (8/6/2026). Diikuti jajarannya, juga Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro.
Wabup Nurul Azizah menyebut, berdasarkan data BPS Bojonegoro, pertumbuhan ekonomi sektor pertambangan atau industri hulu migas di Bojonegoro minus 8,78 persen pada triwulan I 2026.
Namun, kondisi ekonomi Bojonegoro triwulan I 2026 tetap menunjukkan tren positif. Secara tahunan, bahkan tumbuh 0,02 persen. Jauh lebih baik dibandingkan 2023 lalu yang terkontraksi hingga minus 3,49 persen.
Di balik pertumbuhan perekonomian dan turunnya kontribusi hulu migas itu, ungkap Wabup Nurul Azizah, ada sektor lain yang menopang. Yakni, sektor pertanian yang tumbuh signifikan. Mencapai 11,38 persen.
”Ini menunjukkan, meski ada penurunan lifting (produksi, red) migas, masih ada sektor nonmigas (pertanian, red) yang mampu menopang perekonomian daerah,” tegasnya, Senin (8/6/2026).
Sementara itu, Kepala BPS Bojonegoro Syawaluddin Siregar yang hadir dalam diskusi tersebut mengungkapkan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bojonegoro pada triwulan 1 2026 memang tumbuh positif.
Secara nominal, PDRB Bojonegoro triwulan I Tahun 2026 mencapai Rp 28,44 triliun. Lebih tinggi dari dari Lamongan dengan PDRB Rp 14,99 triliun, Nganjuk Rp 10,57 triliun, Ngawi Rp 7,43 triliun, dan Tuban Rp 25,43 triliun
Pertumbuhan ekonomi dari sektor pertanian mencapai 11,38 persen, lanjut Syawaluddin, menjadi faktor penting yang menahan laju perlambatan ekonomi akibat menurunnya kinerja sektor pertambangan di Bojonegoro yang didominasi migas.
’’Ketika pertanian tumbuh tinggi, itulah yang membuat pertumbuhan ekonomi tidak sampai minus (ketika sektor pertambangan melemah, red),” jelas Syawaluddin.
Pengalaman 2023 lalu, ungkap dia, ketergantungan besar terhadap sektor migas memengaruhi pertumbuhan ekonomi Bojonegoro. Pada 2026 ini, berbeda. Sektor pertanian mampu tampil sebagai penggerak ekonomi yang nyata. (sab/kza)

