Memaknai hidup terkadang tidak hanya dari dapur dan rebahan. Emak-emak Desa Trucuk ini memoles kisahnya dengan bermain hadrah. Bersalawat, berdoa, terpenting menebar obat hati.
BOJONEGORORAYA – Tetabuhan rebana terdengar bernada dari serambi Musala As-Syifa, Desa/Kecamatan Trucuk, Bojonegoro. Ibu-ibu tampak bersemangat memainkan alat musik sederhana tersebut.
Mbah Minah tampak elegan. Sosok perempuan gerapyak tersebut melantunkan salawat dengan sumringah. Suaranya khas. Menjadi vokalis grup hadrah yang tegar dari musala sederhana di bantaran Sungai Bengawan tersebut.
Meski sudah berusia 65 tahun, suara Mbah Minah masih terdengar gumregah saat bernasyid salawat asygil. Sementara, 11 emak-emak lainnya dalam satu grup menabuh dengan rancak.
Tangan-tangan sepuh mereka serempak. Berirama memainkan alat hadrah berdiameter 30 sentimeter dengan kencer atau kricik kuningan di sisinya. Membuahkan nada tabuh yang teduh.
‘’Rerata para penabuh hadrah di sini sudah mempunyai cucu,” ujar nenek kelahiran Desa Trucuk tersebut.
Emak-emak yang jago masak tersebut menyempatkan waktunya dengan berseni religi. Mencatatkan hari dalam seminggu sepindah untuk berkumpul sejenak dan bersalawat dengan memainkan hadrah.
Sore. Usai salat asar menjadi waktu tepat untuk memainkan seni hadrah. Datang dengan jalan kaki menapaki serambi Musala As-Syifa. Emak-emak tersebut kompak. Berseragam. Berbusana muslim.

Bernada sejak 1990-an, Filosofi dari Kiai
Emak-emak terampil tersebut menamai grup salawatnya Hadrah Tombo Ati. Sejak 1990-an silam berdiri, para personel tetap istikamah meniti jalan nasyid hingga era kiwari. Melantunkan puja-puji Islami. Bersalawat dengan nada. Lebih terasa.
Lebih 20 tahun grup hadrah Tombo Ati Musala As-Syifa mengudara. Awet. Langgeng. Bahkan, beberapa teman satu grup hadrah Mbah Minah sudah ada yang dipanggil Sang Ilahi.
Hadrah dengan personel para perempuan sepuh itu tetap lestari. Berusaha regenerasi.
‘’Sampai saat ini masih rutin seminggu sekali setiap malam jumat di musala,’’ tuturnya kepada Bojonegoro Raya.
Ada alasan kuat memilih nama grup Tombo Ati tersebut. Tombo Ati dari Bahasa Jawa, berarti obat hati.
Memilih identitas Tombo Ati karena terselip harap, siapa saja yang mengikuti dan mendengar lantunan salawat bisa megobati penyakit hati.
Filosofi yang dibangun dari tuntunan atas ajaran kiai. Para ulama. Berusaha memberi tombo ati meski melalui nada dan salawat.
“Tujuanipun atine mben adem (bertujuan agar hati menjadi tenteram). Tombo ati kan penting, kalau hatinya diobati menjadi tenang,” ujarnya dengan senyum.
Rentang usia personel yang mengikuti majelis salawatan Tombo Ati berada di umur 50 tahun. Bahkan, ada yang sudah sepuh. Paling tua berusia 70 tahun-an.
Eksistensi emak-emak ini menjadi saksi hidup jejak kebudayaan Islam di bantaran Bengawan. Nilai religi dengan nada terus hidup dan tidak lekang zaman.
‘’Kegiatane namung (hanya) salawatan, yasinan, tahlilan, baca Asmaul Husna. Doa bersama untuk ahli kubur,’’ harapnya dengan tenang.

Cermin Penyebaran Islam Melintasi Bengawan
Telapak tangan para penabuh sudah sangat akrab bersentuhan dengan rebana. Berpuluh tahun. Membuahkan nada menghanyutkan.
Seperti aliran bengawan. Jejak Islami yang kental, karena penyebaran Islam dahulu melintasi bengawan.
Sebelum maraknya grup hadrah seperti saat ini, Hadrah Tombo Ati sejak dahulu sudah mejeng di beragam acara. Seperti peringatan rajaban (bulan Rajab), maulidan (bulan kelahiran Nabi Muhammad) dan kegiatan Islami lainnya.
Alat rebana juga masih sama seperti yang digunakan saat awal terbentuk. Awet. Dan menjaganya. Kesederhanaan dan berharap keberkahan dan manfaat menjadi detik sosilnya bersama.
‘’Alat-alatnya juga sudah sejak dahulu’’ tutur Mbah Minah.
Meski grup hadrah lawas, nasyid yang dilantunkan juga mengikuti perkembangan. Menguasai beragam salawat populer. Mencoba dan latihan setiap rutinan malam jumat.
‘’Salawatan e Mbah Bisri, sa’duna fiddunya yang paling suka,” tutupnya. (man/kza)



