BOJONEGORORAYA — Sebuah acara membincangkan naskah kuno Bojonegoro berlangsung di lantai dua Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bojonegoro, Selasa (27/10/2026) pagi.
Acara digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Bojonegoro itu bertajuk Ngobrol Asyik Naskah Kuno, Bukti Peradaban Literatur Bojonegoro.
Ahmad Wahyu Rizkiawan, salah satu periset sekaligus pelestari Manuskrip Padangan, menjadi narasumber tunggal dalam acara tersebut.
Sejumlah pemerhati sejarah, budayawan, seniman, mahasiswa, dan birokrat Bojonegoro hadir dalam acara itu. Mereka menyimak materi Ahmad Wahyu Rizkiawan dan melemparkan pertanyaan.
Dalam sambutannya, Kepala Dispersip Bojonegoro Erick Firdaus mengatakan, acara tersebut penting. Pelestarian dan pembahasan naskah kuno menjadi salah satu prioritas pihaknya tahun ini.
‘’Kami bersyukur atas terselenggaranya kegiatan ini. Sebab, pembahasan mengenai naskah kuno merupakan prioritas kami,’’ ujarnya, Selasa (27/10/2026) pagi.
Pejabat akrab disapa Erick itu menengarai, cukup banyak naskah kuno di Bojonegoro. Namun, masih banyak yang belum ditemukan. Juga, belum banyak menjadi pembahasan.
‘’Kegiatan ini upaya memotivasi masyarakat untuk menengok kembali naskah kuno. Itu bagian penting dari rekaman peradaban daerah kita,’’ imbuhnya.

Anggota Komisi A DPRD Bojonegoro Mustakim hadir dalam Ngobrol Asyik Naskah Kuno, Bukti Peradaban Literatur Bojonegoro. Menurut dia, acara itu bagus. Jarang atau bahkan belum pernah terselenggara sebelumnya.
‘’Karena itu, ketika perpusda menghelatnya, ini sebuah inisiatif luar biasa,’’ puji politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Sementara itu, Ahmad Wahyu Rizkiawan dalam pemaparannya menyatakan, Manuskrip Padangan yang dibahasnya ialah bukti bahwa masyarakat Bojonegoro telah literat di masa lalu.
Naskah mayoritas bertarikh 1800-an dan ditemukan di Kecamatan Padangan itu, lanjut dia, rekam jejak Bojonegoro dari sudut pandang masyarakat. Sarat cerita, banyak pesannya.
‘’Semoga, naskah kuno di Bojonegoro makin banyak bermunculan, dilestarikan, dan menjadi pembahasan. Agar, sejarah dan budaya kita makin kaya,’’ harapnya. (sab/kza)

