Pameran Temporer Bojonegoro History: Diserbu Generasi Muda, Disambangi Peneliti Belanda

13/09/2026
MENYIMAK: Sejumlah peneliti Belanda saat mengunjungi Pameran Temporer di Museum Rajekwesi. (Foto: M. Lukman Hakim/Bojonegoro Raya)

BOJONEGORORAYA — Ribuan pengunjung sambangi Pameran Temporer Bojonegoro History di Museum Rajekwesi. Selama tiga hari, warga lokal silih berganti melihat beragam jejak, warga negara Belanda turut menyimak.

Pameran yang bertajuk Jejak Peradaban Bojonegoro itu dibuka Wakil Bupati (Wabup) Nurul Azizah pada Jumat (11/9/2026). Pemotongan pita dan pelepasan peserta walking tour sebagai pertanda acara dibuka.

‘’Melalui kegiatan ini, kami mengajak generasi muda mengerti sejarah serta budayanya sendiri. Membangun daerah lebih baik dengan berpijak pada nilai-nilai sejarah,’’ ungkapnya saat memberikan sambutan.

Wabup Nurul Azizah juga turut melihat instalasi sejarah warga Bojonegoro yang migrasi ke Suriname pada 1890 silam. Arsip-arsip lawas berjajar dimeja, menyuguhkan informasi masa lalu. Masih dirawat dan terjaga.

‘’Jejak jejak ini saya kira harus dilestarikan, agar milenial paham dan mengerti,’’ ujarnya.

Wabup Nurul Nurul pun mengajak komunitas Bojonegoro History dan generasi muda merawat khazanah sejarah kebudayaan lainnya. Seperti jejak produksi kecap Semar, krupuk Klenteng dan bangunan-bangunan yang mempunyai nilai sejarah di daerah.

Menurutnya, perjalanan peradaban Bojonegoro dari masa ke masa menyimpan nilai penting. Perlu dirawat, karena hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan peninggalan sejarah, tetapi juga mencerminkan terbentuknya karakter dan identitas daerah.

‘’Merefleksi apa yang dilakukan pendahulu, yang baik diteruskan yang kurang baik digunkan sebagai evaluasi,’’ pesannya.

Ketua Komunitas Bojonegoro History Muhammad Andre mengatakan, pameran temporer bertujuan merawat kembali sejarah dan kebudayaan daerah. Melalui literasi, narasi dan kunjungan bangunan bersejarah.

“Kami konsep agar edukatif, informatif sekaligus rekreatif. Identitas di Bojonegoro terbentuk, sehingga bisa membangun daerah yang lebih baik dengan kebudayaan,” ungkapnya.

Kegiatan yang mendapat dukungan Bantuan Pemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur, Kementerian Kebudayaan RI itu tidak dilakukan sendiri.

Baca Juga :  RSUD Temayang Mulai Dibuka, Siapkan Lima Layanan Spesialis

Komunitas Bojonegoro History mengajak komunitas lainnya untuk kolaborasi. Di antaranya komunitas pesepeda, Indo Book Party, Relima Bojonegoro, serta  Flower Art.

‘’Dengan melibatkan banyak komunitas akan membentuk ekosistem kebudayaan yang sehat, saling mempunyai rasa memiliki dan merawat,’’ ucapnya.

Pria asal Kecamatan Sugihwaras itu membeberkan, pengunjung berdatangan dari berbagai daerah. Lamongan, Tuban, Blora hingga warga Belanda. Ada yang memandu dan menerjemahkan bahasa asing.

‘’Tiga orang saya tanya dari Belanda mampir, melihat pameran didampingi penerjemah bahasa,’’ ujarnya.

Tiga warga belanda tersebut kebetulan sedang meneliti serpihan-serpihan arkeologi. Di wilayah Bojonegoro selatan, lereng Gunung Pandan.

Sepanjang mengelilingi sejumlah instalasi sejarah, orang belanda itu ada yang penasaran dengan bilik sketsel. Narasi sejarh tentang tembakau Bojonegoro.

‘’Ada yang bertanya tentang pabrik rokok klobot yang masih eksis sampai saat ini,’’ terangnya.

Pameran yang berakhir Minggu (13/9/2026) itu juga mengundang akademisi arkeologi, peneliti dan pemerhati sejarah. Saling berdiskusi di tengah pengunjung pameran yang datang silih berganti.

‘’Kami ingin mengajak pemuda-pemuda di bojonegoro berdinamika tentang sejarah daerahnya,’’ pungkas Andre. (man/san)