BOJONEGORORAYA – Sampah masih menjadi masalah di Bojonegoro. Dalam sehari, sampah yang timbul di Bumi Rajekwesi ini tidak kurang dari 348 ton. Sebulan sekitar 10.440 ton.
Hal ini diungkapkan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono saat meresmikan Tempat Penampungan Sampah (TPS) Reduce Reuse Recycle (3R) Srawung Makmur, Kamis (24/9/2026) pagi.
Dalam peresmian TPS 3R di Desa/Kecamatan Trucuk, Bojonegoro itu, Bupati Wahono mengajak seluruh masyarakat lebih bijak dalam menimbulkan dan mengelola sampah.
‘’Sampah ini masalah budaya, kebiasaan, perilaku,’’ simpulnya, Kamis (24/9/2026) pagi itu.
Maka, lanjut dia, yang paling penting untuk diubah ialah budaya, kebiasaan, atau perilaku masyarakat dalam menyikapi sampah. TPS 3R menjadi salah satu sarana perubahan itu.
‘’Manfaatkan TPS 3R ini dengan baik. Untuk mengolah sampah, sekaligus mengubah budaya menangani sampah,’’ tuturnya.
Pun, Bupati Wahono memahami. Masalah sampah tidak bisa diselesaikan satu pihak. Harus banyak pihak. Pemerintah, masyarakat, dan unsur lain harus kompak menangani masalah sampah.
‘’Masalah sampah ini adalah PR (pekerjaan rumah, red) kita bersama,’’ tandas putra Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo itu.
Berkaca pada keharusan untuk kompak tersebut, Bupati Wahono sangat mengapresiasi hadirnya TPS 3R Srawung Makmur. Banyak pihak nyengkuyung TPS 3R di tepi Bengawan ini.
Inisiator TPS 3R Srawung Makmur ialah Pemerintah Desa (Pemdes) Trucuk. Diawaki masyarakat Desa Trucuk, didampingi Alas Institute, didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
Dulu, TPS 3R Srawung Makmur hanya TPS biasa. Tidak ada 3R-nya. EMCL bertindak merevitalisasinya menjadi TPS 3R. Alas Institute diberi amanah mendampingi masyarakat.
Adapun, dukungan EMCL untuk TPS 3R Srawung Makmur ini bagian dari program Gerakan Bersama Pengelolaan Sampah dan Perilaku Hidup Bersih (Gerbang Sapu Bersih) yang digulirkan EMCL.
‘’Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan EMCL untuk TPS 3R Srawung Makmur ini,’’ tutur Bupati Wahono.
Dia berharap, pemdes dan masyarakat Desa Trucuk istikamah merawat TPS 3R Srawung Makmur. Juga berharap, program pengelolaan sampah di TPS 3R Srawung Makmur terus berjalan.
‘’Jangan sampai pendampingan (dari Alas Institute, red) selesai, programnya juga selesai,’’ pesannya.
External Engagement & Socioeconomic Manager EMCL Tezhart Elvandiar hadir dalam peresmian TPS Srawung Makmur, Kamis (24/9/2026) pagi itu. Dia didampingi sejumlah jajaran.
Dalam kesempatan tersebut, Tezhart Elvandiar mengatakan, peresmian TPS 3R Srawung Makmur diselingi aneka hiburan dan penghargaan itu bukan sekadar merayakan bangunan anyar.
‘’Ini momen merayakan gotong royong dalam mengelola sampah,’’ jelas pria akrab disapa Tezhart itu.

Tezhart meneruskan, EMCL bangga bisa andil menghadirkan TPS 3R Srawung Makmur. Dia juga optimistis, TPS 3R itu berpotensi besar untuk terus berkembang. Bermanfaat lebih luas.
Lebih lanjut, dia berharap kolaborasi EMCL, pemerintah, dan masyarakat melalui TPS 3R Srawung Makmur terus terjaga. Kompak mendukung lingkungan lebih bersih dan sehat.
‘’Melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat,’’ imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Trucuk Sunoko menyampaikan terima kasih atas dukungan dan apresiasi Bupati Wahono serta EMCL terhadap TPS 3R Srawung Makmur.
Pemdes bersama masyarakat Desa Trucuk, tegas dia, akan memanfaatkan dan merawat TPS 3R Srawung Makmur dengan cakap. Untuk kelestarian lingkungan dan kebaikan bersama.
‘’Syukur-syukur TPS 3R ini nanti bisa terkenal sampai ke luar negeri. Karena, yang support juga dari luar negeri (EMCL, red),’’ selorohnya.
Sunoko melanjutkan, salah satu produk TPS 3R Srawung Makmur mendatang ialah maggot. Ulat ini dibudidaya di TPS 3R Srawung Makmur. Makan sampah sisa rumah tangga yang dikelola.
‘’Maggot ini nanti untuk support program Gayatri dan Kolega. Menjadi pakan bagi ayam dan lele,’’ jelasnya.
Untuk diketahui, Gayatri akronim dari Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri. Sedang, Kolega akronim dari Kolam Lele Keluarga. Keduanya program strategis Pemkab Bojonegoro.
Terpisah, Manager Program Alas Institute Achmad Danial Abidin menerangkan, sampah diolah di TPS 3R Srawung Makmur hanya sampah yang ditimbulkan masyarakat Desa Trucuk.
Sebelum masuk TPS 3R Srawung Makmur, kata dia, sampah-sampah tersebut disetor lebih dulu ke bank sampah Desa Trucuk. Dikumpulkan. Disortir. Dipilah sesuai jenisnya.
‘’Sampah sudah dipilah oleh bank sampah itulah yang masuk ke TPS 3R ini. Lantas diolah. Agar mempunyai nilai tambah,’’ jelasnya.
Dia optimistis, pengelolaan sampah demikian itu bisa berjalan secara baik. Pengurus bank sampah Desa Trucuk dan TPS 3R Srawung Makmur sudah dapat pendampingan intensif.
‘’Kami juga pernah ajak mereka untuk kunjungan studi tiru di TPS 3R Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Malang,’’ ungkapnya. (sab/kza)

