REVAN dan empat temannya asyik nggandol atau menaiki truk tangki penyalur air bersih yang melintas di Jalan Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Bojonegoro.
Cukup berani. Mereka berdiri sekenanya. Menempel belakang tangki. Ada juga duduk di atap tangki. Sebuah keasyikan, kesederhanaan, dan pertaruhan keselamatan.
‘’Yang penting berhati-hati dan tidak takut,’’ tutur Revan saat ditemui Bojonegoro Raya usai menaiki truk tangki itu, Rabu (22/4/2026) pagi.
Meski tidak sering dilakukan, adegan cukup berbahaya di kawasan pertambangan minyak tradisional tersebut menjadi salah satu potret anak-anak sekolah di pedalaman.
Mereka hidup dan menempuh pendidikan sejauh 37 kilometer (km) dari perkotaan Bojonegoro. Akrab terik perbukitan dan aroma minyak mentah dari perut bumi Wonocolo yang diolah warga.
‘’Kalau diperbolehkan naik (truk tangki, red), kami naik. Seru, bersama teman-teman,’’ lanjut siswa kelas sembilan asal Desa Wonocolo itu.
Sejak dulu, sekolah di kawasan pertambangan minyak tradisional Wonocolo memang terus menyala. Layaknya asap lantung atau minyak mentah yang terus ngebul di kawasan itu.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik Bojonegoro, ada 11 SDN di Kecamatan Kedewan. Tersebar di lima desa, punya 1.126 siswa. Sementara, SMPN hanya satu. Yakni, SMPN 1 Kedewan.
Menurut Revan, sebagian teman sesama dari Desa Wonocolo sama bersekolah di SMPN 1 Kedewan itu. Sebagian lagi di SMP kabupaten tetangga. Dia sendiri sekolah di SMP Migas Senori turut Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Tuban.
‘’SMP Migas Senori lebih dekat dengan rumah saya,’’ tuturnya.
Memang. Kecamatan Kedewan berada di perbatasan. Tepat di segitiga pertemuan Bojonegoro, Tuban, Blora. Bertetangga dengan Kecamatan Senori, Tuban dan Kecamatan Jiken, Blora.
Lain lagi, sebagian orang tua ada memilih menyekolahkan anaknya di SMP atau pesantren merangkap sekolah formal di luar Kecamatan Kedewan. Atau, di luar segitiga perbatasan kabupaten itu.
Yuniarti, salah satu warga Desa Wonocolo mengatakan, minimnya fasilitas pendidikan—khususnya SMP—di Kecamatan Kedewan jadi alasan orang tua. Terlebih, yang berkecukupan.
‘’Ada guru di Kecamatan Kedewan anaknya disekolahkan di Kecamatan Kasiman. Ada juga warga yang anaknya dipondokkan (di pesantren, red),” tuturnya.
Kepala SMPN 1 Kedewan Wahyudiono mengatakan, memang tidak semua anak lulusan SD di Kecamatan Kedewan melanjutkan sekolahnya di SMPN 1 Kedewan.
‘’Seperti anak Desa Kawengan, tidak pernah (sekolah, red) ke sini (SMPN 1 Kedewan, red). Karena jauh,’’ keluhnya.
Selama ini, kata dia, siswa SMPN 1 Kedewan sebagian besar berasal dari tiga desa di Kecamatan Kedewan. Yakni, Desa Hargomulyo, Kedewan, dan Wonocolo. Sebagian kecil dari Desa Beji.
‘’Selebihnya melanjutkan (SMP, red) di Kecamatan Kasiman, hingga Tuban dan Blora,’’ imbuhnya.
Perihal sebagian orang tua di Kecamatan Kedewan ada yang memilih menyelolahkan anaknya di pesantren jauh dari Kecamatan Kedewan, Wahyudiono membenarkan pula.
Sebagian orang tua dimaksud, menginginkan anaknya bisa sekolah sekaligus mengaji. Meski begitu, SMPN Kedewan sesungguhnya sudah berupaya memiliki kelebihan serupa.
‘’Kami pun ada program mengaji, untuk memfasilitasi siswa di bidang keagamaan,’’ ujarnya. (man/sab/kza)

