Ratusan orang meriuhkan Galeri Bengawan. Memeriahkan event Senandung Bengawan.
BOJONEGORORAYA – Gerimis lembut jatuh di perkotaan Bojonegoro, Jumat (19/12/2025) pagi sekali. Di Galeri Bengawan turut Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Bojonegoro, gerimis tipis itu turun pula. Merinai kecil. Menambah sejuk. Sesekali, terasa dingin.
Puluhan perempuan sedang Senam Bahagia Makmur Membanggakan (BMM) di lapang tengah Galeri Bengawan, tidak terganggu rinai gerimis tipis itu. Mereka tetap asyik menggerakan badan, memperagakan senam baru khas Bojonegoro yang dipopulerkan Cantika Wahono tersebut.
Sekitar pukul 07.30 WIB, gerimis tipis masih turun di Galeri Bengawan. Menyambut kedatangan 200 anak PAUD, TK, dan RA yang berwajah ceria, mengenakan seragam warna-warni, menenteng meja lipat, didampingi para guru dan orang tuanya masing-masing.



Di bawah tenda besar depan panggung, 200 anak tersebut lalu asyik mewarnai kertas putih bersketsa bangunan Galeri Bengawan. Orang tua yang mendampingi, sesekali membantu. Memilihkan warna yang tepat hingga meminta si anak mewarnai dengan rapi. Satu peristiwa harmoni.
Selama dua jam, kegiatan mewarnai yang dilombakan itu rampung. Seluruh karya anak-anak dikumpulkan, dinilai juri Eko Peye. Dia mengamati 200 karya dengan teliti, lalu memilih enam terbaik untuk menjadi juara satu, dua, tiga, harapan satu, dua, dan tiga. Betapa tambah senang hatinya, yang menjadi juara.
Sekitar pukul 10.00 WIB, gerimis tipis berhenti turun. Langit di atas Galeri Bengawan sisa bermendung saja. Pada saat yang sama, di sebuah ruangan di lantai dua Kantor Galeri Bengawan, talkshow kebudayaan dimulai. Membahas akulturasi budaya Jonegaran, Pecinan, dan Bengawan.
Salah satu pengurus Klenteng Hok Swie Bio Bojonegoro Koh Tjhiang San dan Founder Komunitas Bojonegoro History Andre Purwanto menjadi pembicara dalam talkshow itu. Moderatornya Lukman Hakim, jurnalis lepas yang sering mengangkat isu dan wacana sejarah serta budaya.
Dalam talkshow diikuti puluhan ibu-ibu, bapak-bapak, serta muda-mudi itu, Koh Tjhiang San menerangkan bagaimana kebudayaan Pecinan atau Tionghoa beririsan dengan kultur masyarakat Jonegaran serta Bengawan. Dari segi tindak-tanduk sosial, ekonomi, spiritualitas, hingga produk kuliner.



Andre Purwanto mengutarakan hal serupa. Namun, dari sudut pandang kebudayaan Jonegaran dan Bengawan. Pemuda asal Desa Glagahan, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro itu juga menceritakan lini masa sejarah Bojonegoro. Sejak masih Jipang, Rajekwesi, hingga Bojonegoro kini.
Jelang azan salat Jumat, talkshow kebudayaan itu rampung. Agung, salah satu peserta talkshow menyampaikan, dia senang mengikuti talkshow membahas akulturasi kebudayaan Jonegaran, Pecinan, dan Bengawan. Pemuda asal Desa/Kecamatan Trucuk, Bojonegoro itu menjadi tahu hal-hal baru.
‘’Bengawan dulu memang bukan sekadar sungai, ya. Tapi jalur niaga hingga lintasan budaya,’’ tuturnya saat diwawancara Bojonegoro Raya, Jumat (19/12/2025) siang.
Dari arah selatan Galeri Bengawan, azan salat Jumat berkumandang. Muadzin Masjid At-Taqwa Desa Padang melantunkan panggilan salat itu dengan merdu. Rangkaian acara di Galeri Bengawan dalam event Senandung Bengawan pada Jumat (19/12/2025) siang itu pun reda. Rehat. (sab/kza)


