BOJONEGORORAYA – Geopark merupakan integrasi sejumlah situs geologi, keanekaragaman hayati, hingga keberagaman budaya di suatu daerah. Istilahnya geosite, biosite, dan culturalsite. Di Bojonegoro, geopark sudah terbentuk sejak 2017. Mengusung tema Petroleum dan Gas. Berstatus geopark nasional.
Geopark Bojonegoro terdiri dari 16 geosite, tiga biosite, dan delapan culturalsite. Dalam artikel ini, Bojonegoro Raya—Riset dan Media akan mengulas 16 geosite yang menjadi bagian Geopark Bojonegoro. Ulasan ini mungkin tidak detail. Namun, kiranya sudah cukup laik. Enak dibaca. Mudah dimengerti pembaca.
1. Teksas Wonocolo
Teksas Wonocolo merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berlokasi di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Bojonegoro. Berjarak sekitar 36 kilometer (km) dari perkotaan Bojonegoro. Geosite ini berupa lembah dan perbukitan. Di bawahnya terkandung banyak minyak bumi.
Minyak bumi di geosite tersebut sudah ditambang sejak akhir abad 18 oleh perusahaan minyak bumi asal Belanda. Pasca Indonesia merdeka pada 1945, pertambangan minyak bumi di geosite ini dilanjutkan warga sekitar secara tradisional hingga saat ini. Bekerja sama dengan Pertamina EP Cepu.
Di Teksas Wonocolo, para pengunjung dapat melihat banyak sumur minyak bumi berikut menara tajak atau rig kayu yang digunakan untuk mengebor minyak bumi. Pendeknya, para pengunjung geosite ini dapat menyaksikan pengeboran minyak bumi secara tradisional.
2. Antiklin Kawengan
Antiklin Kawengan merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berlokasi di Kecamatan Kedewan, Bojonegoro. Berjarak sekitar 30 km dari perkotaan Bojonegoro. Geosite ini berupa lipatan lapisan batuan yang cembung ke atas—membentuk gugusan perbukitan—akibat gaya kompresi pada kerak bumi.
Gugusan perbukitan Antiklin Kawengan berada di sejumlah desa. Di antaranya Desa Kawengan, Wonocolo, dan Hargomulyo, Kecamatan Kedewan. Titik puncaknya, masuk wilayah Desa Kawengan. Adapun, di dalam gugusan perbukitan Antiklin Kawengan ini terdapat banyak minyak bumi.
Sebagian warga Desa Wonocolo, Kawengan, dan Hargomulyo bertindak sebagai eksploitator minyak bumi di Antiklin Kawengan ini—secara tradisional. Episentrum eksploitasi minyak bumi oleh warga dimaksud, berada di di Teksas Wonocolo—yang juga geosite Geopark Bojonegoro.
3. Kahyangan Api
Kahyangan Api merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berlokasi di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro. Berjarak sekitar 20 km dari perkotaan Bojonegoro. Geosite ini berada di tengah hutan. Wujudnya altar bebatuan yang terus menyemburkan api dari bawah tanah. Tidak pernah padam.
Selain itu, di geosite ini juga ada sumur yang airnya terus bergolak. Tidak pernah tenang. Seperti mendidih. Namun, tidak panas. Hanya saja, senantiasa menguarkan sedikit aroma belerang. Oleh warga sekitar, sumur ini disebut Sumur Blukutuk. Di bawah geosite ini, terkandung banyak gas alam.
Gas alam itulah yang membuat api di altar batu terus menyembur dan air di sumur terus bergolak. Adapun, para pengunjung geosite ini bisa dimanjakan. Sebab, geosite ini sudah berupa objek wisata yang proper. Dikelola Pemkab Bojonegoro bersama KPH Perhutani Bojonegoro.
4. Kedung Lantung
Kedung Lantung merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Bojonegoro. Berjarak sekitar 31 km dari perkotaan Bojonegoro. Berupa sungai di tengah hutan. Aliran airnya relatif kecil dan tenang. Dua sisi tebingnya eksotik, berwarna putih. Hasil peristiwa geologi.
Kedung Lantung ditetapkan sebagai geosite bukan saja karena wujudnya yang berupa sungai di tengah hutan dan diapit tebing putih eksotik. Namun, karena di bawah Kedung Lantung juga terdapat minyak bumi. Bahkan, minyak bumi tersebut sering merembes ke permukaan tanah.
Berdasarkan cerita warga sekitar, pada masa lalu—sebelum abad 21—minyak bumi yang merembes keluar di Kedung Lantung sering dimanfaatkan warga sekitar sebagai bahan bakar lampu teplok penerang rumah-rumah warga sekitar. Sebelum jaringan listrik masuk wilayah dimaksud.
Terkait eksplorasi Kedung Lantung sebagai tambang minyak bumi berkaliber, sejauh ini belum pernah dilakukan perusahaan hulu migas mana pun. Kedung Lantung hanya sempat dijadikan objek wisata. Namun, operasinya timbul-tenggelam. Kurang eksis. Tampak tidak profitable.
5. Kedung Maor
Kedung Maor merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, Bojonegoro. Berjarak sekitar 40 km dari perkotaan Bojonegoro. Berupa ceruk luas dan dalam, menampung limpahan air dari Sungai Soko dan Waduk Pacal.
Air dari dua sumber tersebut masuk ke Kedung Maor melalui sungai kecil di atasnya. Sehingga, masuknya air dari dua sumber tersebut ke Kedung Maor, bak air terjun. Indah. Kedung Maor sempat menjadi objek wisata yang dikelola masyarakat desa setempat. Jadi primadona.
Namun, eksistensi Kedung Maor sebagai objek wisata, terus menyusut dari waktu ke waktu. Terlebih, Kedung Maor pernah longsor beberapa waktu lalu. Perbuatan alam tersebut mengepras sebagian keindahan Kedung Maor. Terutama, bagian tebing dan air terjunnya yang eksotis.
Adapun, Kedung Maor masuk sebagai geosite Geopark Bojonegoro karena merupakan situs geologi yang cukup purba. Struktur geologinya mirip Kedung Lantung. Tim Peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta menyebut, di masa purba ada kepiting laut di Kedung Maor.
Itu karena, tim peneliti UPN Veteran Yogyakarta menemukan fosil mirip kepiting laut di Kedung Maor. Panjangnya tidak kurang dari 2 meter. Selain itu, tim peneliti UPN Veteran Yogyakarta juga menemukan endapan abu vulkanik Gunung Pandan di Kedung Maor.
6. Negeri Atas Angin
Negeri Atas Angin merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Deling, Kecamatan Sekar, Bojonegoro. Geosite ini berjarak sekitar 50 km dari perkotaan Bojonegoro. Berupa gugusan perbukitan yang indah dan permai.
Negeri Atas Angin masuk dalam daftar geosite Geopark Bojonegoro karena beberapa hal. Paling utama, karena struktur geologinya yang unik. Yakni, memiliki struktur antiklin berarah barat laut—tenggara yang membentuk antiklinorium Zona Kendeng, dipotong sesar geser kiri yang berarah timur laut—barat daya.
Para pengunjung geosite yang rata-rata awam geologi, tidak menyadari struktur geologi tersebut. Sebab, mereka akan lebih terpukau oleh pesona kasat mata Negeri Atas Angin yang indah. Terutama saat matahari terbit dan tenggelam.
7. Banyu Kuning
Banyu Kuning merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, Bojonegoro. Geosite ini berjarak sekitar 52 km dari perkotaan Bojonegoro. Berupa mata air hangat. Keluar dari tanah yang permukaannya merupakan bebatuan berwarna kuning keemasan.
Banyu Kuning terdaftar sebagai geosite Geopark Bojonegoro karena memiliki daya tarik geologi yang kuat. Mata air hangatnya dipicu panas bumi atau geothermal di bawah tanah setempat. Sementara bebatuan yang kuning keemasan merupakan imbas banyaknya endapan zat besi, mineral, dan belerang.
Sejauh ini, Banyu Kuning dideklarasikan sebagai objek wisata. Belum ada kegiatan yang lebih teknologis untuk mengeksploitasi Banyu Kuning. Terutama perihal potensi geothermal yang terkandung di bawah tanah Banyu Kuning.
8. Selo Gajah
Selo Gajah merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Jari, Kecamatan Gondang, Bojonegoro. Berjarak sekitar 50 km dari perkotaan Bojonegoro. Geosite ini berupa batu besar, mendongak—seperti mulut buaya yang terbuka. Sama sekali tidak menyerupai bentuk gajah.
Selo Gajah disebut terbentuk atau mendongak karena proses geologi. Geosite ini berada di tepi sungai kecil yang memiliki sumber air panas di salah satu tepinya. Adapun, sumber air panas yang menjadi outflow geothermal atau jalan keluar panas bumi di dekat Selo Gajah, saat ini masih ada.
Hanya saja, outflow geothermal yang tidak jauh dari lokasi Selo Gajah tersebut tidak disentuh pemanfaatan atau ekplorasi maksimal oleh pemerintah maupun perusahaan. Sejauh ini, outflow geothermal tersebut hanya dimanfaatkan ala kadarnya oleh warga.
9. Undak Bengawan Solo
Undak Bengawan Solo merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berupa teras atau daratan di tepi Bengawan Solo—hasil pengendapan tanah dan batuan yang berlangsung akibat proses geologi ribuan tahun lalu. Geosite ini tidak hanya berada di satu titik saja. Namun, sedikitnya ada di tiga titik.
Salah satu titik geosite Undak Bengawan Solo, ada di tepi Bengawan Solo turut Desa Prangi, Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Berjarak sekitar 50 km dari perkotaan Bojonegoro. Geosite ini tidak terlihat jika debit air Bengawan Solo membesar atau meninggi. Hanya terlihat ketika air Bengawan Solo sedang surut saja.
10. Gunung Pegat
Gunung Pegat merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Gajah dan Gunungsari, Kecamatan Baureno, Bojonegoro. Berjarak sekitar 45 km dari perkotaan Bojonegoro. Geosite ini berupa gugusan perbukitan kapur—sebuah pegunungan karst yang menyimpan banyak air di dalamnya.
Cukup disayangkan, geosite Geopark Bojonegoro ini sudah tidak utuh. Beberapa tahun ke belakang, masif aktivitas tambang kapur di gugusan perbukitan kapur ini. Meninggalkan lubang-lubang dan jurang-jurang dalam serta luas. Kini, beberapa titik di Gunung Pegat dipoles, dijadikan tempat wisata dan latihan panjat tebing.
11. Sendang Gong
Sendang Gong merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Gunungsari, Kecamatan Baureno, Bojonegoro. Tidak jauh dari Gunung Pegat. Geosite ini berupa kubangan air yang airnya berasal dari reservoir karst Gunung Karan dan Gunung Pegat. Tidak jauh dari Sendang Gong, ada goa kecil. Berisi air.
12. Goa Soko
Goa Soko merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Soko, Kecamatan Temayang, Bojonegoro. Berjarak sekitar 50 km dari perkotaan Bojonegoro. Geosite ini tidak hanya satu titik atau satu goa saja. Tapi, enam titik atau enam goa.
Enam goa di geosite ini seluruhnya terbentuk alami. Hasil proses geologi di Pegunungan Kendeng Selatan atau Gunung Pandan pada masa lampau. Selain enam goa, juga ada mata air cukup besar di geosite ini. Bernama Sumber Ubalan. Masih aktif. Dimanfaatkan warga. Juga menjadi objek wisata.
13. Watu Gandul
Watu Gandul merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang, Bojonegoro. Berjarak sekitar 50 km dari perkotaan Bojonegoro. Geosite ini berupa tumpukan batu andesit di atas bukit. Tiga dari tumpukan batu itu menggantung atau gandul-gandul. Unik. Artistik.
Selain dinyatakan tertata sendiri akibat proses geologi, geosite Watu Gandul juga diduga ditata oleh para manusia di masa lampau. Era zaman batu maupun klasik. Sebab, tumpukan baru di geosite ini juga menyerupai gua. Sekilas juga menyerupai altar untuk ritus persembahan.
14. Goa Fosfat
Goa Fosfat merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Sumberarum, Kecamatan Dander, Bojonegoro. Berjarak sekitar 15 km dari perkotaan Bojonegoro. Geosite ini memiliki tiga titik atau berupa tiga goa yang berdekatan. Masing-masing bernama Goa Sumur, Goa Lowo, dan Goa Lawang.
Namun, yang paling mengandung banyak mengandung fosfat dan mengilhami nama goesite ini adalah Goa Lowo. Di Goa Lowo ini, sarat fosfat tipe Guano. Hasil akumulasi sekresi burung pemakan ikan dan kelelawar yang terlarut, beraksi dengan batu gamping karena pengaruh air hujan dan air tanah.
15. Bebatuan Bentonite
Bebatuan Bentonite merupakan geosite Geopark Bojonegoro yang berada di Desa Ketileng, Kecamatan Malo, Bojonegoro. Berjarak sekitar 20 km dari perkotaan Bojonegoro. Geosite ini “surga” batuan bentonite. Terbentuk dari pelapukan batuan kaya mineral plagioklas, kalium-fledspar, biotit, dan muskovit. Serta, reaksi antara ion-ion hidrogen air tanah dengan senyawa silikat.
Sebagian warga Kecamatan Malo melakukan penambangan atas batu bentonite di geosite ini untuk diubah menjadi kerajinan gerabah yang berkualitas dan bernilai budaya tinggi. Gerabah-gerabah tersebut juga menjadi produk kerajinan tangan khas Kecamatan Malo, hingga hari ini.
16. Paleontologi Geopark Bojonegoro
Paleontologi Geopark Bojonegoro merupakan geosite yang paling kompleks di Geopark Bojonegoro. Sebab, geosite ini merupakan jaringan lokasi-lokasi yang menjadi tempat penemuan fosil dan benda arkeologi lainnya di Bojonegoro. Adapun, geosite ini terbagi dalam dua area. Yakni, timur dan barat.
Area barat berada di sekitar Bengawan Solo sejak Kecamatan Ngraho hingga Kalitidu. Di sepanjang area ini, fosilnya hewan darat purba. Misalnya, gajah, lembu, kerbau, rusa, banteng. Sementara, di area timur (Kecamatan Temayang dan sekitarnya) fosilnya hewan laut purba. Misalnya, paus dan kepiting laut.
———————-
Untuk diketahui, sebagian isi artikel ini merupakan hasil saduran dari beberapa dokumen dan penelitian yang digarap Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro, UPN Veteran Yogyakarta, dan Universitas Diponegoro Semarang. (sab/kza)


