Kisah Pendidikan dari Pinggiran Kedungadem (1)

Setengah Bojonegoro, Separuh Lamongan

CAMPUR: Anak Bojonegoro dan Lamongan belajar bersama di SMPN 3 Kedungadem. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

SMPN 3 Kedungadem teguh di perbatasan. Mendidik anak Bojonegoro dan Lamongan.

————-

PASAR Kedungadem masih ramai orang, Selasa (28/4/2026) siang. Lapak dan toko menggulirkan transaksi. Jual-beli. Cuaca terik tidak menghambat kelindan ekonomi.

Sekitar 10 kilometer (km) di timur pasar itu, SMPN 3 Kedungadem masih ramai pula. Siswa-siswi kelas 9 bermain di halaman. Usai ujian. Kelas 7 dan 8 di kelas, mengikuti pembelajaran.

Secara administratif, sekolah di tepi sawah dan ladang jagung tersebut berada di Dusun Majeruan. Bagian dari Desa Kendung, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro.

Dari sisi geografis, sekolah itu berlokasi di tepi timur Bojonegoro. Berdiri teguh di perbatasan Bojonegoro—Lamongan. Dekat Kecamatan Bluluk dan Sukorame, Lamongan.

Keadaan geografis tersebut membuat SMPN 3 Kedungadem memiliki siswa-siswi dari Kecamatan Bluluk dan Sukorame, Lamongan. Tidak dari Bojonegoro saja.

‘’Siswa-siswi kami 50 persen Bojonegoro. 50 persen Lamongan,’’ ujar Kepala SMPN 3 Kedungadem Efendi Supriyadi kepada Bojonegoro Raya di sekolahnya, Selasa (28/4/2026) siang.

Total, lanjut pendidik karib disapa Ef Supriyadi itu, sekolahnya memiliki 114 siswa-siswi. Yang anak Bojonegoro hanya dari satu desa saja. Yakni, Desa Kendung—lokusnya sekolah.

‘’Dari Lamongan ada dua desa. Desa Talunrejo, Kecamatan Bluluk dan Desa Bangle, Kecamatan Sukorame,’’ jelasnya.

Kendati demikian, pendidik tinggal di Desa Mlinjeng, Kecamatan Sumberrejo, Bojonegoro ini memastikan, kasih sayang untuk anak Bojonegoro dan Lamongan, kadarnya sama.

‘’Tidak membeda-bedakan. Mereka semua anak didik kami. Anak-anak kami,’’ tuturnya.

Ef Supriyadi mengungkapkan, sepenglihatannya selama ini, anak Bojonegoro dan Lamongan yang bersekolah di SMPN 3 Kedungadem memiliki karakter baik.

Para remaja belia itu antusias mengikuti pembelajaran di sekolah. Terutama, jika pembelajaran tersebut sifatnya praktik. Siswa-siswi SMPN 3 Kedungadem senang sekali.

‘’Mereka lebih mudah menangkap materi praktik,’’ imbuh Kepala SMPN 3 Kedungadem selama dua tahun terakhir tersebut.

Baca Juga :  Nikmati Tantangan, Menanti Harapan

Ef Supriyadi mafhum perihal dimaksud. Siswa-siswinya mayoritas hidup di desa. Dari keluarga petani dan perantau. Aktif bermain di lingkungan. Sensor kinestetiknya lebih kuat.

Dengan latar belakang keluarga demikian itu pula, Ef Supriyadi mengemukakan, anak-anak didiknya tumbuh mandiri. Misalnya, ke sekolah tidak diantarkan orang tuanya.

‘’Mereka naik motor sendiri dalam pulang-pergi ke sekolah. Hampir semuanya. Orang tua tidak bisa mengantarkan,’’ jelasnya.

Mantan Guru SMPN 2 Sumberrejo ini mengerti. Kebiasaan naik motor oleh anak-anak didiknya merupakan hal tidak baik. Bahkan, keliru. Namun, seakan tidak ada pilihan.

‘’Kalau tidak naik motor, mereka malas berangkat sekolah. Terutama, yang rumahnya jauh,’’ imbuhnya.

Karena itu, pihak SMPN 3 Kedungadem terpaksa berkompromi. Namun, tetap aktif mengawasi. Terus mengingatkan agar siswa-siswi mengedepankan keselamatan saat di jalan.

‘’Angkutan umum tidak ada di sini. Program angkutan pelajar gratis, juga belum menjangkau sini,’’ lanjut Ef Supriyadi.

Magister pendidikan alumnus Universitas Islam Darul Ulum itu meneruskan, program populis anyar sudah menyentuh sekolahnya ialah makan bergizi gratis (MBG).

‘’Sekolah ini menerima MBG sejak September 2025 kemarin,’’ ungkap pendidik kelahiran 1971 itu. (sab/kza)

— Artikel ini bagian dari Majalah Pintar yang diterbitkan Bojonegoro Raya, Sabtu (2/5/2026) lalu. Menepati Hari Pendidikan. Beredar digital, dalam format pdf dan flipbook.

error: Content is protected !!