BOJONEGORORAYA — Pemkab Bojonegoro memasang target cukup tinggi perihal mengentaskan 5.610 anak tidak sekolah (ATS) tahun ini.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro Anwar Mukhtadlo mengatakan, tahun ini Pemkab Bojonegoro ingin 5.610 ATS berkurang separuh atau 50 persen.
‘’Itu target tahun ini,’’ ujarnya dalam forum group discussion (FGD) di East Java Super Corridor, Bakorwil Bojonegoro, Jumat (24/7/2026) pagi.
Dalam FGD bertema Sinergi Lintas Sektor Mengatasi ATS dan Perkawinan Anak diselenggarakan Giri Foundation itu, Tadlo sapaannya menyebut, tentu tidak mudah mencapai target dimaksud.
‘’Seluruh OPD (organisasi perangkat daerah, red) Pemkab Bojonegoro telah bersinergi dan kolaborasi,’’ imbuhnya.
Pihak non-Pemkab Bojonegoro pun dilibatkan. Misalnya, Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro hingga kelompok atau organisasi masyarakat. Pendeknya, persoalan ATS dikeroyok bersama.
‘’Per Juli 2026, ATS sudah berkurang 865 jiwa,’’ ungkap mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro ini.

Dia berharap, dengan sinergi dan kolaborasi multipihak, persoalan ATS berhasil dituntaskan. Paling tidak, bisa berkurang 50 persen pada tahun ini. Sebagaimana target.
‘’Kendala selama ini adalah validitas data. Banyak yang tidak sesuai realita. Ini sedang kami validkan dengan cara terjun ke lapangan,’’ imbuhnya.
Lebih lanjut, Tadlo meneruskan, tidak semua eks ATS kembali mengenyam pendidikan di sekolah formal. Ada juga yang nonformal. Yakni, di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
‘’Rerata, (eks ATS bersekolah di PKBM, red) karena usianya sudah dewasa dan sudah bekerja,’’ terang birokrat kelahiran 1968 tersebut.
Total, kata dia, ada 21 PKBM di Bojonegoro. Dua di antaranya berada di dalam perkotaan, 19 lainnya di luar perkotaan. Alias, tersebar di sejumlah kecamatan.
Direktur Giri Foundation Rian Adi Kurniawan menyampaikan, ATS merupakan persoalan besar. Mafhum jika diperlukan sinergi dan kolaborasi multipihak untuk menuntaskan.
FGD Sinergi Lintas Sektor Mengatasi ATS dan Perkawinan Anak diselenggarakan pihaknya, merupakan salah satu langkah memperkuat sinergi dan kolaborasi tersebut.
‘’Agar, persoalan ATS ini lebih terang. Diketahui dan menjadi atensi bersama,’’ tutur alumnus Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro itu.
Untuk diketahui, memang banyak pihak mengikuti FGD Sinergi Lintas Sektor Mengatasi ATS dan Perkawinan Anak yang berlangsung selama sekitar dua jam tersebut.
Mulai Disdik Bojonegoro, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP3A) Bojonegoro, Kemenag Bojonegoro, kampus, serta komunitas atau organisasi masyarakat. (sab/kza)

