Sedikitnya, ada 2.788 ODGJ di Bojonegoro. Bisa memicu petaka. Termasuk, membunuh orang tua. Perlu perhatian bersama.
BOJONEGORORAYA – Pemuda berinisial Mf itu duduk gamang. Napasnya tidak tenang. Dadanya telanjang. Bersarungnya tidak karuan. Dua pergelangan tangannya, dicengkeram dua tetangga.
Momen tersebut terjadi Rabu (26/8/2026) siang. Di salah satu pelataran rumah sederhana turut Desa Bungur, Kecamatan Kanor, Bojonegoro. RT 01/RW 04.
Jelang azan zuhur itu, Mf baru saja mengamuk dan menyerang bapak dan ibu kandungnya menggunakan paving. Si ibu kehilangan nyawa karena serangan tersebut.
Si bapak bernama Mahbop, usia 70 tahun. Sedang, si ibu bernama Supatmi, usia 65 tahun. Si ibu ini sakit stroke. Tidak mampu melawan. Mahbop masih bisa.
‘’Ibunya meninggal dunia akibat luka serius di kepala. Bapaknya juga luka di kepala. Namun, selamat,’’ terang Rifan, salah satu tetangga Mf, Rabu (26/8/2026) siang.
Rifan mengemukakan, para tetangga menduga Mf depresi. Alami gangguan jiwa. Depresi pria berusia sekitar 30 tahun itu tampak satu bulan belakangan ini.
‘’Dia (Mf, red) depresi sepulang merantau di Kalimantan,’’ ungkap salah satu Perangkat Desa Bungur enggan ditulis namanya, Rabu (26/8/2026) sore.
Usai kejadian, Mf diamankan ke Mapolsek Kanor. Rabu (26/8/2026) malam, dibawa ke Mapolres Bojonegoro. Sedang, ibunya dimakamkan. Ayahnya dapat perawatan.
Kepala Unit 1 Pidana Umum Satreskrim Polres Bojonegoro Iptu Michel Manansi mengatakan, Mf diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut.
‘’(Mf, red) Kami periksa. Kami juga panggil sejumlah saksinya,’’ ujarnya kepada awak media di Mapolres Bojonegoro, Rabu (26/8/2026) malam.
Perihal apakah Mf benar-benar mengalami depresi atau gangguan jiwa, Iptu Michel Manansi belum bisa memastikan. Pihaknya masih perlu melakukan pendalaman.
Pendalaman kejiwaan Mf, lanjut Iptu Michel Manansi, akan melibatkan psikolog, psikiater, atau tenaga medis terkait. Sehingga, hasilnya meyakinkan.
Untuk diketahui, depresi atau gangguan jiwa yang mengakibatkan hilangnya nyawa di Bojonegoro, tidak terjadi kali ini saja. Sepekan lalu, terjadi hal yang sama.
Kejadian serupa itu di Desa Pilanggede, Kecamatan Balen. Seorang pria alami gangguan jiwa membunuh ibu kandungnya dengan senjata tajam.
‘’Jenasahnya (si ibu, red) baru diketahui tetangga setelah tiga hari. Di dapur rumah,’’ ujar Nur, salah satu warga Desa Pilanggede kepada Bojonegoro Raya, Kamis (27/8/2026) siang.
Iptu Michel Manansi mengatakan, peristiwa nahas di Desa Pilanggede itu tidak termonitor pihaknya. Tidak ada laporan ke Polres Bojonegoro mengenai peristiwa itu.
Jauh 2024 lalu, hal sama terjadi di Desa Buntalan, Kecamatan Temayang. Pria 26 tahun berinisial F yang alami gangguan jiwa, mengamuk dan menyerang neneknya.
Seperti Supatmi, nenek F itu berakhir meninggal dunia. Kemudian, F dikurung keluarga hingga dua tahun. Februari 2026, F dibebaskan Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Timur (Jatim).
‘’F kini direhabilitasi di PSTW (Pelayanan Sosial Tresna Werdha, red) Sidoarjo,’’ kata Nafiatun Ni’mah kepada Bojonegoro Raya, Rabu (26/8/2026) sore.
Perihal peristiwa di Desa Bungur maupun Desa Pilanggede, Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinsos Bojonegoro ini mengatakan, pihaknya turut mengatensi.
‘’Jika pelakunya memang alami gangguan jiwa, Dinsos Bojonegoro tentu akan ikut menangani,’’ tutur pejabat perempuan akrab disapa Atin tersebut.
2.788 ODGJ di Bojonegoro, 270 sudah Sembuh
Jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Bojonegoro, ternyata cukup banyak. Tidak kurang dari 2.788 jiwa. Tingkat ringan, sedang, hingga berat.
Hal itu diungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Ninik Susmiati ketika diwawancara awak media usai Medhayoh di Desa Cengkir, Kecamatan Kepohbaru, Rabu (12/8/2026) lalu.
‘’ODGJ di Bojonegoro terdata 2.788 jiwa. 18 di antaranya, dipasung,’’ terang Ninik Susmiati, Rabu (12/8/2026) itu.
Ninik sapaannya mengemukakan, Pemkab Bojonegoro telah melakukan beragam upaya dalam menyembuhkan dan merehabilitasi 2.788 ODGJ tersebut.
Salah satu langkah strategisnya, Pemkab Bojonegoro akan mengoperasikan calon Rumah Sakit Khusus Onkologi di Kecamatan Kalitidu sebagai RSUD baru: RSUD Kalitidu.
‘’(RSUD Kalitidu, red) Layanan unggulannya kejiwaan. Insyaallah mulai awal 2027,’’ imbuh eks Direktur RSUD Padangan itu.
Terpisah, Nafiatun Ni’mah mengatakan, Dinsos Bojonegoro bertungkus lumus mengurus ODGJ di Bojonegoro. Bekerja sama dengan tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK).
‘’Juga bekerja sama dengan pemerintah desa dan puskesmas,’’ ujar Nafiatun Ni’mah kepada Bojonegoro Raya, Rabu (26/8/2026) sore.
Sehingga, lanjut Atin sapaannya, penanganan ODGJ dilakukan secara keroyokan. Banyak pihak terlibat. Di lapangan, satpol PP dan polisi juga acap terlibat.
‘’Kami mengatensi setiap laporan. Menangani hingga mengupayakan rehabilitasi,’’ jelasnya.
Penanganan awal terhadap ODGJ, terang Atin, dilakukan di Shelter Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Bojonegoro turut Jalan Basuki Rahmat, perkotaan Bojonegoro.
Ada enam pegawai Dinsos Bojonegoro bertugas di shelter PMKS tersebut. Bersiaga 24 jam. Tidak kenal hari libur. Mereka merawat para penghuni sepenuh hati.
‘’Kami memastikan kebutuhan makan, minum, maupun medis para penghuni, sama terpenuhi. Gratis,’’ imbuhnya.
Ada 12 kamar di Shelter PMKS Bojonegoro. Delapan kamar untuk orang terlantar (OT). Dua kamar khusus untuk ODGJ. Terkini, dihuni tiga jiwa. Dua ODGJ. Satu OT.
‘’ODGJ ditangani di shelter PMKS minimal tiga hari. Setelah itu, harus menjalani rehabilitasi,’’ ungkapnya.
Rehabilitasi ODGJ tersebut, lanjut Atin, tidak dilakukan di Shelter PMKS Bojonegoro. Namun, di Sidoarjo dan Kediri. Tepatnya, di PSTW Sidoarjo dan PSTW Pare.
‘’Kami bekerja sama dengan Dinsos Jatim untuk rehabilitasi di PSTW Sidoarjo dan PSTW Pare itu,’’ jelasnya.
Yang menjadi kendala, ungkap Atin, tidak semua ODGJ bisa ditangani di shelter PMKS dan direhabilitasi di PSTW. Karena, keluarga ODGJ enggan.
‘’Ada orang tua yang anaknya ODGJ, tidak mengizinkan anaknya direhabilitasi di PSTW. Pilih merawat sendiri di rumah,’’ ujarnya.
Menghadapi kendala tersebut, Dinsos Bojonegoro tidak lepas tangan. ODGJ demikian dirawat jalan. Dinsos Bojonegoro kerja sama dengan puskesmas dan pemerintah desa.
‘’ODGJ dirawat di rumah dapat perawatan dari puskesmas setempat. Diberi obat secara rutin. Gratis,’’ ungkapnya.
Hasil dari penanganan ODGJ secara bersama-sama tersebut, tahun ini sebanyak 270 ODGJ di Bojonegoro telah sembuh. Mereka sudah kembali ke keluarga.
‘’Banyak pula eks ODGJ yang kini kembali bekerja. Kami tentu senang dengan itu,’’ imbuhnya.
Untuk mendukung kesembuhan tersebut, Dinsos Bojonegoro dan para terkait rutin melakukan pengamatan berkala. Dinsos Bojonegoro juga memberikan bantuan sosial tunai.
‘’Besarannya Rp 1.500.000. Setahun sekali. Bersumber dari APBD Bojonegoro,’’ tuturnya.
Lain itu, Dinsos Bojonegoro juga rutin memfasilitasi eks ODGJ mendapat bantuan dari luar Pemkab Bojonegoro. Misalnya, dari Kementerian Sosial.
‘’Seperti bantuan usaha dan bantuan lainnya untuk eks ODGJ, itu kami yang mengajukan,’’ pungkasnya. (sab/kza)



