Ledre, Gulungan Warisan Perempuan (Seri 1)

Pecinan Padangan, Tempat Min Tjie Melahirkan Ledre

TEMPAT LAHIR LEDRE: Rumah mendiang Min Tjie di Pecinan Padangan, Sabtu (3/10/2026) pagi. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)
TEMPAT LAHIR LEDRE: Rumah mendiang Min Tjie di Pecinan Padangan, Sabtu (3/10/2026) pagi. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Ledre lahir di Kecamatan Padangan. Karya perempuan keturunan Tionghoa. Menebar manfaat kepada sesama.

PERMUKIMAN di Dusun Kalangan, Desa Padangan, Kecamatan Padangan itu terbilang padat. Rumah-rumah berhimpitan. Beberapa berasitektur lama, bergaya Eropa-Tionghoa. Akses keluar masuk permukiman itu juga sempit. Berupa gang-gang kecil.

Permukiman itulah yang disebut Pecinan Padangan. Banyak keturunan Tionghoa tinggal di pecinan tepi Sungai Bengawan tersebut. Mereka hidup berbaur dengan warga pribumi secara guyub rukun, penuh toleransi, berakulturasi.

Min Tjie salah satu warga Pecinan Padangan awal abad 20. Perempuan keturunan Tionghoa ini berjasa bagi masyarakat Pecinan Padangan dan sekitarnya, juga bagi Bojonegoro. Sebab, ledre yang kini menjadi jajanan khas sekaligus identitas Bojonegoro, lahir dari jemarinya. Lahir di rumahnya.

Kini, Min Tjie sudah tiada. Namun, rumahnya di Pecinan Padangan masih ada. Sabtu (3/10/2026) pagi, Bojonegoro Raya berkunjung ke rumah tersebut. Bertemu dengan Tjeng Kian Nio alias Sri Eka Darmayanti alias Nyonya Seger. Dia anak perempuan Min Tjie.

‘’Di rumah inilah, ibu (Min Tjie, red) kali pertama membuat ledre,’’ cerita Tjeng Kian Nio alias Sri Eka Darmayanti kepada Bojonegoro Raya, Sabtu (3/10/2026) pagi itu.

Perempuan kelahiran 1948 ini mengemukakan, Min Tjie kali pertama membuat ledre pada awal 1930-an. Ketika itu, ibunya masih remaja, berusia sekitar 14 atau 15 tahun. Dan, ledre dibuat Min Tjie di awal dulu bentuknya tidak seperti ledre saat ini.

‘’Ledre awal dulu ukurannya lebih besar dari yang sekarang. Bentuknya seperti kue leker. Karena, membuatnya tidak digulung. Tapi ditangkup. Begitu cerita ibu,’’ kenang putri Min Tjie ini.

Perempuan memilih dipanggil Nyonya Seger ini memperkirakan, ibunya mengubah ukuran ledre lebih kecil dan mengganti bentuk ledre menjadi gulungan pada awal 1940-an. Penyebabnya, bahan ledre sulit didapat. Ada krisis pangan imbas pendudukan militer Jepang.

Baca Juga :  Jika Sekolah Rakyat Berdiri, Cemas Bangku Tak Terisi

‘’Waktu penjajahan Jepang itu, ledre juga menjadi makanan sehari-hari di sini. Gantinya nasi,’’ imbuh Nyonya Seger.

Syahdan, karena menjadi makanan sehari-hari, warga Pecinan Padangan ramai-ramai belajar membuat ledre pada Min Tjie. Nyonya Seger masih ingat betapa ramai rumahnya dulu, karena banyak orang datang belajar membuat ledre pada sang ibu.

‘’Dari waktu ke waktu, makin banyak orang datang ke sini untuk belajar membuat ledre. Mereka bukan dari Desa Padangan saja, tapi juga dari desa-desa lain. Semuanya perempuan,’’ kenangnya.

Seperti Min Tjie, Nyonya Seger juga jago membuat ledre. Dia membuat jajanan bercita rasa manis dan renyah itu sejak kecil, di bawah bimbingan Min Tjie langsung. Menurut dia, membuat ledre tidak sulit. Meracik adonannya gampang. Memasaknya pun gampang.

‘’Yang penting, pisangnya harus pisang raja. Dan, saat memasak harus tenang. Senang. Tidak boleh ketika marah atau sedang gusar. Kalau marah dan gusar, ledre pasti rusak, tidak jadi,’’ tuturnya.

Kini, Nyonya Seger sudah tidak membuat ledre lagi. Dia menyebut, badannya sudah renta sekarang. Kini, dia memilih menjadi agen ledre saja. Yakni, membeli ledre-ledre buatan tetangga di Pecinan Padangan untuk dijual kembali ke para pelanggan.

‘’Dulu saya titip ledre ke banyak toko di Bojonegoro dan Cepu. Saat ini sudah tidak. Sekarang jual ledre hanya sesuai pesanan. Dibantu oleh anak dan menantu,’’ imbuh ibu dua anak itu.

Nyonya Seger berharap generasi muda Bojonegoro mau belajar membuat ledre. Dia ingin jajanan itu terus lestari. Jangan sampai ledre hilang di masa mendatang. Sebab, ledre merupakan jajanan khas sekaligus identitas Bojonegoro.

‘’Ledre adalah warisan Bojonegoro. Eman-eman (sayang, red) kalau sampai hilang karena anak-anak muda tidak mau membuatnya,’’ tutur perempuan berusia 79 tahun ini.

Baca Juga :  Sekolah Naik Perahu ke Blora, demi Ilmu yang Membara

Untuk diketahui, Min Tjie yang lahir di Pecinan Padangan pada 1914 silam, wafat pada 2002 di usia 88 tahun. Min Tjie dikuburkan di Bong Cino Blimbing, Desa Purworejo, Kecamatan Padangan. Pusaranya di dekat pusara Thomas Seger, mendiang suami Nyonya Seger.

Juru Kunci Bong Cino Blimbing Sunaryo mengatakan, Nyonya Seger dan keluarganya masih sering menilik atau mengunjungi pusara Min Tjie. Hampir setiap bulan. Untuk kunjungan besar atau ramai-ramai, dilakukan saban April, ketika ritual Ceng Beng.

‘’Kalau orang Jawa, Ceng Beng itu mungkin seperti Manganan atau Sedekah Bumi. Saat Ceng Beng, di sini ramai sekali,’’ ujarnya saat ditemui Bojonegoro Raya di Bong Cino Blimbing, Sabtu (3/10/2026) siang. (sab/kza)