Denyut Iduladha di Bojonegoro, Bak APBD Tandingan yang Organik

ANAK KANDANG: Salah satu kandang sapi di Kelurahan Ledok Kulon, Bojonegoro. Kampung tepi Bengawan ini banyak beternak sapi. Semua laku untuk Iduladha. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya).

Oleh: Khorij Zaenal Assrori
Jurnalis Bojonegoro Raya

——————

JAMILAH pedagang tempe di Pasar Tradisional Kota Bojonegoro ini rela menyisihkan uangnya untuk berkurban. Ikut patungan sapi di Musala Hidayatus Shibyan Kelurahan Ledok Kulon, Bojonegoro.

Semringah. Sedikit demi sedikit menabung, bisa ikut patungan sapi. Tujuh orang. Per orang Rp 3,5 juta. Panitia membeli sapi seharga Rp 23,5 juta. Sudah besar. Sapinya gendut.

Jamilah tersenyum, dari pedagang kecil bisa ikut berkurban. Dari penjualan tempe, bisa ikut meramaikan amalan Iduladha. Tentu, ada banyak Jamilah-Jamilah lainnya yang bersemangat Iduladha di daerah lain.

Momentum Iduladha ini berlangsung dalam triwulan kedua tahun 2026. Menjadi penyumbang gairah ekonomi di triwulan kedua. Berkontribusi perputaran ekonomi pada semester pertama ini.

Bayangkan, apa jadinya ketika triwulan kedua ini tidak ada momentum Iduladha. Apa jadinya jika tidak ada momentum jual beli kambing, domba, hingga sapi, dalam jumlah masif.

Stagnanisasi berpeluang terjadi. Mengingat triwulan kedua ini, APBD baru onfire beragam project. Baru lelang-lelang. Namun, belum ada pencairan. Terlebih pada triwulan kedua ini rupiah melemah. Kurs dolar menembus Rp 17.700. Waw.

Sama halnya dengan Hari Raya Idulfitri, pada 21-22 Maret 2026 lalu. Idulfitri pada awal tahun atau triwulan pertama tersebut, berkontribusi pada perputaran ekonomi. Pertahanan fiskal.

Biasanya eh biasanya, triwulan pertama itu pasti perputaran uang masih seret. APBD belum bisa cair. Daya beli melambat. Bayangkan, triwulan pertama itu tidak ada momentum Idulfitri. Tentu, ekonomi secara makro bakal kelabakan.

Ketika daya beli melambat, berdampak perputaran di sektor riil seperti usaha mikro kecil menengah (UMKM) ikut melemah.

BERKAH PETERNAK: Suasana penyembelihan sapi kurban di Musala Hidayatus Shibyan Kelurahan Ledok Kulon, Bojonegoro. Warga antusias saling membantu. (Foto: Khorij Zaenal Assrori/ Bojonegoro Raya).

Kurban Momentum Perputaran Ekonomi Lokal

Iduladha di Bojonegoro sudah berlangsung. Denyut Iduladha itu sudah terasa sebulan sebelum Hari Raya Kurban. Peternak, penjual hewan, belantik, pelaku UKM, dan pekerja sudah bergerak sebulan lalu.

Baca Juga :  SPPG Diminta Serap Telur Gayatri, Sebagian Dapur MBG Menginisiasi

Berdasar data Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, momentum Iduladha 2026 ini menembus 21.500 ekor hewan kurban. Meliputi, 3.500 ekor sapi. 8.500 ekor kambing dan 9.500 ekor domba.

Angka yang besar. Tidak ada satu bulan, jual beli sapi, kambing, dan domba, menembus 21.500. Bisa jadi jumlah yang besar, melebihi serapan dapur makan bergizi gratis (MBG). Hehehe.

Kira-kira berapa estimasi perputaran uang (omset) dari 21.500 ekor hewan kurban ini. Tentu, angka yang besar.

Estimasi nilai transaksi 3.500 ekor sapi, tentu angka yang besar. Harga sapi potong untuk kurban rerata sekitar Rp 23 juta sampai Rp 25 juta per ekor. Nilai tersebut untuk sapi ukuran standar.

Jika mengambil angka tengah, misalnya Rp 24 juta dikali 3.500 ekor sapi, perkiraan menembus Rp 84 miliar. Perkiraan 95 persen, sapi dari populasi peternak asal Bojonegoro sendiri. Tidak sampai luar daerah. Menggembirakan.

Sementara, estimasi nilai transaksi 8.500 ekor kambing, juga angka yang menggembirakan. Berdasar harga rata-rata di Bojonegoro, satu ekor kambing sekitar Rp 3 juta.

Nah, apabila 8.500 ekor kambang dikali harga per ekor Rp 3 juta, nilai transaksi menembus Rp 25,5 miliar. Waw, angka yang menggiurkan untuk perputaran uang.

Sedangkan, estimasi nilai transaksi 9.500 domba semakin besar. Apabila satu ekor domba harga Rp 3 juta, tentu nilai perputaran uang menembus Rp 28,5 miliar.

Kalkulasi dari penjualan sapi Rp 84 miliar, kambing 25,5 miliar, dan domba Rp 28,8 miliar, menumpuk menjadi Rp 138 miliar. Angka yang fantastis untuk perputaran uang di Bojonegoro, dalam rentan tidak ada satu bulan.

BERKAH IDULADHA: Peternak memberi pakan domba-domba di kandang. Tahun ini hewan kurban di Bojonegoro tembus 21.500 ekor. Terdiri domba, kambing, dan sapi. (Foto: Lukman Hakim/ Bojonegoro Raya)

Setara Gaji 53.000 Buruh, Seperti Anggaran Gayatri 2025

Angka Rp 138 miliar berputar hanya 1-2 minggu jelang Iduladha merupakan estimasi perputaran uang yang jumbo untuk ukuran ekonomi daerah Bojonegoro.

Baca Juga :  Proyeksi APBD Bojonegoro 2026: Pendapatan Rp 4,5 Triliun, Belanja Rp 5,8 Triliun

Apabila ditarik dengan estimasi dengan kegiatan lain, tentu setara dengan perbandingan dengan indikator beberapa ekonomi riil.

Misalnya, apabila upah minimum kabupaten (UMK) Bojonegoro sekitar Rp 2,6 juta per bulan, tentu uang Rp 138 miliar ini setara dengan upah bulanan untuk 53.000 buruh atau pekerja dalam sebulan.

Analogi lainnya. Jika rerata peternak kecil di desa-desa di Bojonegoro, memiliki penghasilan beternak sekitar Rp 32 juta per tahun. Tentu nilai Rp 138 miliar ini setara dengan pendapatan setahun penuh sebanyak 4.321 peternak rakyat yang pencairannya dalam satu momen.

Penyetaraan lainnya. Misalnya, nilai Rp 138 miliar ini hampir menyamai anggaran BPJS Kesehatan yang dikaver oleh APBD Bojonegoro sekitar Rp 150 miliar sampai Rp 200 miliar untuk memenuhi universal health coverage (UHC).

Artinya, perputaran uang swadaya masyarakat dalam Iduladha ini hampir mengkaver biaya kesehatan warga kurang mampu di Bojonegoro. Atau analogi persentasenya sekitar 75 persen biaya BPJS kesehatan.

Penyetaraan lain, misalnya Rp 138 miliar ini hampir menyamai penyaluran program Gerakan Beternak Ayam Mandiri (Gayatri) bersumber dari APBD dan APBDes 2025 sekitar Rp 140 miliar.

Berarti, modal dikeluarkan masyarakat secara swadaya untuk pembelian hewan kurban bisa menyamai penyaluran ayam Gayatri pada 2025 lalu. Tentu, banyak penyetaraan lainnya yang menarik.

Ada hal menarik yang dipetik dari momentum Iduladha. Intisari ekonomi ini dengan contoh-contoh perbandingan di atas menunjukkan bahwa Iduladha seakan sebagai “APBD tandingan secara organik”.

Uang ratusan miliar ini bergegas pindah tangan dari sektor rumah tangga perkotaan ke para peternak rakyat di desa-desa. Berkontribusi membangkitan daya ekonomi para pekerja musiman.

Nilai fiskal Iduladha di Bojonegoro ini memiliki daya kejut ekonomi (economic shock) luar biasa. Berdampak positif bagi daya beli masyarakat bawah.

Baca Juga :  Panen Semangka Inul di Ladang Gas

Efek Berganda Ekonomi Warga

Perputaran uang Rp 138 miliar, ini tidak sekadar di lingkup peternak hewan saja. Pandangan ekonomi daerah, ada efek turunan (devirative economy) sebesar 10-15 persen yang mengalir ke masyarakat akar rumput.

Ada jasa angkut atau transportasi ikut ketiban rezeki. Misalnya, kendaraan hewan kurban yang mengakut dari peternak ke pasar hewan. Juga, transportasi pengiriman hewan ke musala atau masjid.

Ada perputaran uang mengalir ke para jagal penyembelihan hewan kurban. Rerata biaya jagal sapi sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Apabila 3.500 ekor sapi, tentu ada sekitar Rp 2,5 miliar mengalir ke para jagal atau tukang blekrek sapi.

Terpenting, laju ekonomi Rp 138 miliar ini tentu menjadi pendapatan bersih para peternak di desa-desa. Uang ini biasanya akan berputar lagi untuk kebutuhan anak sambut tahun ajaran baru sekolah.

Atau, berlanjut untuk membeli bakalan pedet atau bibit anakan sapi untuk kembali beternak. Atau bisa memakai uang tersebut untuk belanja renovasi rumah. Atau, alih-alih belanja motor baru.

Secara makro ekonomi daerah, momentum Iduladha di Bojonegoro ini mampu menyuntikkan likuiditas segar Rp 138 miliar secara riil di masyarakat. Bisa menjadi stimulus konsumsi domestik di luar APBD.

Aroma sate masih terasa. Asap bakar-bakar daging seakan masih menempel di baju-baju. Sayur gule masih tercecap di lidah. Gurih. Pedas. Dan, nyam-nyam. Iduladha tidak sekadar bakar sate. Juga, tidak sekadar sayur gule. Tetapi, membawa ekonomi masyarakat lebih percaya diri atau pede. (*)

error: Content is protected !!