Ledre, Gulungan Warisan Perempuan (Seri 3)

Ledre, Riwayat Sunyi dari Padangan ke Purwosari

HARUS TENANG: Kumilah saat membuat ledre di dapurnya. Susah jikalau marah. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)
HARUS TENANG: Kumilah saat membuat ledre di dapurnya. Susah jikalau marah. (Foto: Yusab Alfa Ziqin/Bojonegoro Raya)

Ledre lahir di Kecamatan Padangan. Namun, juga tumbuh dan berkembang di Kecamatan Purwosari. Riwayat sunyi antargenerasi.

TERIK matahari menyengat Dusun Gapluk, Desa Gapluk, Kecamatan Purwosari, Sabtu (27/9/2026) siang. Di salah satu rumah di dusun tersebut, Kumilah sedang beres-beres di dapur. Dia baru saja menyelesaikan gawe. Rampung membuat ledre.

‘’Siang-siang begini harus sudah selesai membuat ledre. Sudah puanas (panas sekali, red),’’ ujar Kumilah kepada Bojonegoro Raya di rumahnya, Sabtu (27/9/2026) siang itu.

Perempuan asli Dusun Gapluk ini meneruskan, membuat ledre lekat dengan kepanasan. Terutama, bagian jemari atau telapak tangan. Karena, jemari atau telapak tangan bersentuhan langsung dengan hangat wajan dan panas adonan matang.

‘’Mengangkat adonan matang lalu menggulungnya menjadi ledre, menjadi tahap paling panas dalam membuat ledre,’’ imbuh produsen ledre kelahiran 1983 ini.

Terlebih, lanjut Kumilah, membuat ledre harus satu-satu. Satu wajan hanya untuk setuang adonan: menjadi satu batang ledre. Maka, panas membuat ledre dialami berulang-berulang. Sampai proses pembuatan benar-benar rampung, sampai adonan habis.

‘’Sekali buat, biasanya adonan saya satu kilogram. Hasilkan 18 atau 19 plastik ledre. Per plastik, 15 batang. Prosesnya mulai subuh sampai jam 10 pagi. Maksimal, jam 11 siang,’’ terangnya.

Secara umum, ibu tiga anak ini mengutarakan, ada bahan adonan wajib dan teknik khusus dalam membuat ledre. Bahan adonan wajib itu pisang raja. Tidak boleh diganti dengan pisang jenis lain seperti pisang ulin, pisang susu, pisang saba, pisang ijo, atau pisang cavendish.

‘’Kalau pakai pisang lain, sudah bukan ledre lagi. Karena, khasnya ledre ya pisang raja itu. Tidak boleh diganti,’’ tutur Kumilah.

Soal teknik khusus membuat ledre, ada pada tahap ngeletok atau mengedre-edre. Tahap ini meratakan adonan di wajan panas lalu menggulung adonan matang itu menjadi batang ledre. Teknik ini wajib dikuasai siapa saja yang membuat ledre.

‘’Tahap ngeletok ini harus pakai perasaan lerem (tenang, red). Kalau hati sedang srengen (marah, red), ledre pasti rusak, tidak jadi,’’ terangnya.

Adapun, perempuan lulusan SMP ini meneruskan, ledre buatannya dijual dengan dua cara. Pertama, ledre dikirim ke agen di Kecamatan Purwosari dan Kecamatan Padangan. Per plastik, Rp 4.000. Pengiriman biasanya dilakukan lima hari sekali.

‘’Cara kedua, ledre dijual sendiri tanpa melalui agen di Padangan atau Purwosari. Pembeli pesan langsung ke saya. Biasanya, dalam jumlah banyak,’’ jelasnya.

Perihal memasarkan ledre secara online melalui aplikasi marketplace, Kumilah belum pernah. Dia kepayahan menggunakan aplikasi semacam itu. Secara digital, selama ini, dia hanya memanfaatkan aplikasi Whatsapp (WA) saja. Melalui fitur story WA.

Baca Juga :  Berhenti di Antiklin Kawengan Sebelum ke Teksas Wonocolo

‘’Dan lagi, ledre buatan saya belum punya kemasan bagus. Kemasannya ya plastik polos seperti ini, ditempeli stiker,’’ imbuhnya.

Sri Sumartini salah satu tetangga Kumilah yang juga membuat ledre. Rumah mereka berdekatan. Jaraknya tidak sampai 500 meter. Bojonegoro Raya hanya butuh waktu tiga menit untuk jalan kaki dari rumah Kumilah ke rumah Sri Sumartini, Rabu (30/9/2026) pagi.

‘’Saya membuat ledre sejak usia 18 tahun. Sampai kini anak saya tiga,’’ cerita Sri Sumartini saat ditemui Bojonegoro Raya, Rabu (30/9/2026) pagi itu.

Perempuan kelahiran 1988 ini mengemukakan, dia spesialis membuat ledre dalam jumlah banyak. Hampir setiap hari. Dalam sehari, produsen ledre akrab disapa Sumartini ini bisa membuat hingga 30 plastik. Per plastik, isinya 15 batang ledre.

‘’Prosesnya mulai pagi. Sekitar jam 7 pagi. Sampai jam 5 sore,’’  imbuh perempuan sudah membuat ledre sejak 2006 tersebut.

Sama seperti Kumilah, Sumartini juga mengirimkan ledrenya ke agen di Kecamatan Purwosari dan Kecamatan Padangan. Harganya Rp 4.000 per plastik. Pengiriman ke agen tersebut jamaknya dilakukan Sumartini empat atau lima hari sekali.

‘’Kalau jual sendiri repot. Harus mikir izin, kemasan, dan pembeli. Lebih enak dikirim ke agen. Ringkes,’’ terangnya.

Mengenai pemasaran produknya secara digital, Sumartini mengaku tidak paham. Dia jarang main gawai atau HP. Juga tidak aktif di media sosial terpopuler saat ini. Pokok, asal ada orang memesan ledre via WA kepadanya, dia melayani pesanan tersebut.

‘’Kalau aktif bermedia sosial, saya malah main HP terus. Tidak optimal membuat ledrenya,’’ imbuh Sumartini seraya tertawa.

Lebih lanjut, dia mengemukakan, terkini ada puluhan produsen ledre di Desa Gapluk. Di Dusun Gapluk atau di sekitar rumahnya saja, ada delapan perempuan yang menjadi produsen ledre. Belum termasuk di empat dusun lain di Desa Gapluk.

‘’Total ada lima dusun di Desa Gapluk. Semuanya ada yang membuat ledre,’’ ungkap produsen ledre mewarisi jejak ibunya itu.

Terpisah, Camat Purwosari Ike Widyaningrum mengatakan, Kecamatan Purwosari memang basis produksi ledre di Bojonegoro. Sedikitnya, ada tiga desa di Kecamatan Purwosari yang menjadi sebaran produsen ledre. Yakni, Desa Gapluk, Purwosari, dan Kuniran.

‘’Berdasarkan rekap kami, sedikitnya ada 122 produsen ledre di tiga desa tersebut,’’ ujarnya kepada Bojonegoro Raya, Rabu (23/9/2026) malam.

Baca Juga :  Denyut Iduladha di Bojonegoro, Bak APBD Tandingan yang Organik

Karena hal tersebut, Camat Purwosari sejak akhir Januari 2026 ini meneruskan, pihaknya ingin khalayak luas mengenali Kecamatan Purwosari sebagai Kampung Ledre. Pemerintah Kecamatan Purwosari bersama Pemkab Bojonegoro akan merilisnya melalui satu festival.

‘’Namanya Festival Ledre. Perdana. 8 Oktober 2026 mendatang. Mari, silakan datang, ikut meramaikan,’’ ajak mantan Sekretaris Bappeda Bojonegoro ini.

Camat Purwosari akrab disapa Ike itu mengemukakan, dalam Festival Ledre akan ada pameran aneka produk ledre. Juga akan ada demonstrasi pembuatan ledre secara langsung. Melibatkan 50 produsen ledre dari Desa Gapluk, Purwosari, dan Kuniran.

Belajar dari Ibu, Meneruskan Warisan Masa Lalu

Kumilah sudah 23 tahun menjadi produsen ledre. Dia mulai membuat ledre pada 2003 silam. Waktu itu, Kumilah muda pulang merantau dari Surabaya, sehabis resign dari pekerjaan sebagai sales promotion girl (SPG) di Pasar Atom Surabaya.

‘’Setelah resign, saya pulang ke desa. Bingung kerja apa. Akhirnya, membuat ledre,’’ kenangnya kepada Bojonegoro Raya, Sabtu (27/9/2026) siang.

Sama seperti Sumartini, Kumilah memilih menjadi produsen ledre karena pengaruh ibunya, meneruskan ibunya. Namanya Wakini. Ibu kandungnya itu, terang Kumilah, mulai membuat ledre pada 2001 atau 25 tahun silam. Dua tahun sebelum dia mulai membuat ledre.

‘’Ibu mengajari saya membuat adonan dan memasak ledre. Waktu itu, kompornya masih tungku. Pakai arang. Tidak kompor elpiji seperti saat ini,’’ imbuhnya.

Produsen ledre yang sempat menjadi asisten rumah tangga di Singapura ini melanjutkan, ibunya bukan orang pertama yang membuat ledre di Desa Gapluk. Kata dia, orang pertama yang membuat ledre di desanya bernama Sulastri.

‘’Ibu saya dan warga sini belajar membuat ledre dari beliau. Sering melihat di rumahnya. Saya pernah ikut melihat juga, waktu kecil,’’ cerita Kumilah.

Saat ini, kata Kumilah, Sulastri masih sugeng. Namun, sudah tidak membuat ledre lagi. Sulastri beralih menjadi tukang pijat sangkal putung. Buka praktik di rumah, tidak jauh dari Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum, Desa Gapluk.

Wakini membenarkan cerita anaknya. Orang pertama yang membuat ledre di Desa Gapluk ialah Sulastri. Dia masih ingat betul. Saat Sulastri membuat ledre di rumah, dia dan para tetangga sering datang untuk melihat. Penasaran.

‘’Kami jadi tahu cara membuat ledre. Kami akhirnya ikut membuat ledre,’’ ujar Wakini saat diwawancara Bojonegoro Raya di teras rumah Kumilah, Sabtu (27/9/2026) siang.

Perempuan berusia 66 tahun ini memperkirakan, dia adalah generasi kedua pembuat ledre di Desa Gapluk. Beberapa pembuat ledre di Desa Gapluk yang termasuk letting-nya antara lain Mbah Warti, Mbah Mi, Mbah Karomah, dan Mbah Mi.

Baca Juga :  Paket Wisata Wonderful Padangan, Mimpi Bupati yang Mulai Terwujudkan

‘’Dulu, ledre kami juga dikirim ke agen-agen di Kecamatan Padangan. Masih sama seperti sekarang,’’ imbuh ibu tiga anak itu.

Cerita Kumilah dan ibunya bahwa pembuat ledre pertama di Desa Gapluk ialah Sulastri, benar adanya. Ditemui Bojonegoro Raya di rumahnya, Sulastri membenarkan bahwa dialah orang pertama yang membuat ledre di Desa Gapluk.

‘’Saya kali pertama membuat ledre di Desa Gapluk ini pada 1993,’’ ujar Sulastri kepada Bojonegoro Raya, Sabtu (27/9/2026) siang.

Perempuan kelahiran 1965 itu mengemukakan, dia belajar membuat ledre di Kecamatan Padangan. Tahu seluk beluk pembuatan ledre dari salah satu misanan atau saudara sepupunya di Dusun Pengkok, Desa Padangan, Kecamatan Padangan.

‘’Saya lalu membawa pengetahuan membuat ledre ke Desa Gapluk ini. Saya buat ledre di sini,’’ imbuh Sulastri.

Ibu dua anak ini mengenang, dulu saat membuat ledre di rumah, memang banyak tetangga datang. Para tetangga itu berkerumun melihatnya membuat ledre. Dia pun berkenan membagi pengetahuan tentang pembuatan ledre kepada para tetangga yang penasaran.

‘’Karena menanggapi para tetangga, saya sampai tidak fokus membuat ledre. Tidak jadi-jadi ledrenya,’’ kenang Sulastri sembari tertawa.

Adapun, Sulastri sudah tidak ingat berapa kuantitas produksi ledrenya pada masa itu. Yang jelas, banyak. Seingat dia, tiap dua hari sekali, dia mengirim ledre buatannya ke salah satu agen di Kecamatan Padangan. Naik sepeda ontel.

‘’Agen yang selalu membeli ledre buatan saya namanya Bu In. Rumahnya dekat perempatan Padangan. Entah bagaimana kabarnya sekarang,’’ tutur Sulastri.

Waktu itu, perempuan tinggal di Dusun Balurung, Desa Gapluk ini menyebut, hasil membuat ledre cukup menjanjikan. Untungnya lumayan untuk mencukupi kebutuhan. Dia dan suami bisa menyekolahkan dua anak mereka, juga dari hasil membuat ledre.

‘’Saya berhenti membuat ledre sekitar 2010. Wes kesel. Ganti menjadi tukang pijat. Perantara menyembuhkan orang keseleo dan sebagainya,’’ imbuhnya.

Sulastri mendukung siapa saja di desanya yang masih membuat ledre. Menurut dia, ledre di Desa Gapluk harus lestari. Ledre memang lahir di Kecamatan Padangan. Namun, Kecamatan Purwosari harus ikut menumbuhkengembangkan, meneruskan warisan.

‘’Ledre yang dijual di Padangan itu banyak buatan orang-orang Purwosari. Tidak apa-apa. Sejak dulu sudah begitu,’’ pungkas nenek empat cucu ini. (sab/kza)