Juz Amma Siswa SD, Tantangan Mengurangi Durasi Main HP

27/10/2026
GENERASI RELIGI: Siswa SD/ MI saat mengikuti munaqasah hafalan Alquran di Pendapa Pemkab Bojonegoro. Bupati meminta agar lulus SD sudah hafal juz amma.

Oleh: M. Agus Anshori
Kabid Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Bojonegoro

————————————

SISWA lulus SD (sekolah dasar) hafal juz amma. Sebuah tantangan. Sebuah ikhtiar. Sebuah hal baru. Serta, sebuah terobosan bagi dunia pendidikan di Bojonegoro.

Sebuah tantangan. Ini karena SD lebih identik dengan pendidikan umum. Mata pelajaran (mapel) pendidikan agama tidak sebanyak di madrasah atau pondok pesantren.

Mapel pendidikan agama, terbatas. Jamnya tidak banyak. Tentu, ini menjadi tantangan bagi kebiasaan dunia pendidikan di lingkungan SD.

Tantangan. Iya, sekolah itu penuh tantangan. Tidak sekadar identik dengan PR (pekerjaan rumah), ternyata SD itu juga tantangan. Tantangan berikutnya kebiasaan menghafal juz amma atau surat-surat pendek juz 30.

Kita mengetahui bersama, bahwa Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mendorong, agar lulusan SD harus hafal juz amma.

Inspirasi Bupati ini tatkala memberi pidato dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Pendapa Malawapati Pemkab Bojonegoro, 15 Oktober 2026 lalu.

Bupati masih teringat tatkala masa kecilnya. Kalau menjelang petang dipecuti (diperintah) agar segera ke musala untuk salat Mahrib. Lalu, mengaji di langgar atau musala sampai salat isya.

Mengaji, menghafal juz amma di musala. Tradisi itu mungkin mulai luntur, padahal apabila diterapkan tentu menjadi bagus. Berdampak. Dengan mengaji dan menghafal, bisa mengurangi anak-anak kecanduan HP (handphone).

Anjuran dari bupati tersebut cukup mengesankan, bagi dunia pendidikan. Jadi, sebuah tantangan. Membanggakan.

Jadi ikhtiar bersama, mengingkat tingginya anak SD kecanduan HP. Berdasar laman Aspek.id, data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa rerata anak-anak di Indonesia menghabiskan waktu 5-7 jam per hari di depan layar gawai atau HP.

Berbeda dengan saran, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahwa minimal anak usia 6-12 tahun mengakses HP berdurasi 1-2 jam per hari. Tentu, ada gap lebar temuan Komdigi dengan anjuran IDAI. Nelangsa.

M. AGUS ANSHORI, Kabid Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Bojonegoro. (Foto: Khorij Zaenal A/ Bojonegoro Raya).

Berdampak Kepribadian Anak Didik

Gagasan ini bukan kaleng-kaleng. Siswa SD hafal juz amma itu sebuah investasi Bojonegoro mendatang. Sebuah modal sejak dini, bagi generasi tatkala remaja nanti.

Baca Juga :  Maskun Jabat Pelaksana Tugas Kepala Cabdisdik Bojonegoro-Tuban

Dengan hafal juz amma, siswa SD semakin dekat dengan religi. Semakin rajin ibadah. Siswa memiliki adab dan etika, karena dekat dengan kitab suci.

Kebiasaan menghafal juz amma memberikan dampak pada kepribadian positif. Anak didik memiliki kepribadian berbasis religi. Tentu, akan baik serta mengurangi pongkah kenakalan remaja. Bahkan, bisa mencegah perundungan.

Ini sebuah investasi sumber daya manusia (SDM) Bojonegoro ke depan. Semakin banyak anak usia dini hafal dan dekat kitab suci, semakin berlapis kekuatan anak muda Bojonegoro masa depan.

Berdasar analisa, ragam penelitian bidang psikologi dan pendidikan Islam, memberikan hipotesa bahwa kegiatan menghafal juz amma memberi stimulasi positif. Stimulasi emosional dan perilaku anak.

Emosi anak terkendali, karena memahami psikologi. Perilaku anak terjaga karena memiliki adab dan etika.

Mengacu ragam literatur, menghafal juz amma memberi self regulation atau kedisiplinan dan regulasi diri. Hafalan setiap hari (muraja’ah) memicu anak menjadi fokus, manajemen waktu, dan kontrol diri. Inilah fungsi eksekusi otak.

Hafalan juz amma berkontribusi manajemen waktu. Anak memilih waktunya menghafal. Pelan dan pelan, namun akan mulai mengurangi berselancar main HP.

Mengurangi jatah durasi berselancar HP. Sebaliknya, ada tanggung jawab menghafal. Berat, tapi bermanfaat.

Anak SD menghafal juz amma memberikan securing feeling atau ketenangan jiwa pada usia 6-12 tahun. Menghindari kecemasan. Membentuk karakter santun. Menghormati guru atau orang tua.

Butuh Masukan Program SD Mengaji

Berat. Memang berat menghafal juz amma. Apalagi, jika menjadi syarat kelulusan SD di Bojonegoro, harus hafal juz amma.

Inilah tantangannya. Tentu, banyak yang kaget. Benar atau tidaknya program itu dijalankan SD di Bojonegoro. Kaget, karena belum terbiasa. Belum pernah berlaku aturan bahwa lulus SD, harus hafal juz amma atau juz 30 Alquran.

Baca Juga :  Ratusan Anak TK Karnaval Payung Hias Nusantara, Beri Pesan Hijau Bojonegoro

Mendatang, setelah hafalan juz amma jenjang SD, perlu ada penelitian atau riset sederhana. Perlu menguji apakah beban menghafal juz amma mendukung prestasi akademik siswa atau justru mengganggu.

Sehingga, ada kajian literatur berbasis data. Program ini masih tahap penjajakan. Belum terlaksana. Bupati baru memberi instruksi pertengahan Oktober 2026 ini.

Sambil berjalan, masih mematangkan konsep program SD hafal juz amma. Masih mencari format. Mencari strategi tepat untuk menerapkan program berbasis religi ini.

Kegiatan belajar mengajar (KBM) masih memasuki semester gasal. Dor-nya berpotensi bisa berlangsung pada semester genap mendatang. Masih ada waktu mematangkan SD kalih mengaji.

Butuh masukan dan saran untuk memetakan formatnya. Sila japri WA atau surat elektronik (email) memberi masukan konsepnya. Atau mengajak ngopi sambil mematangkan konsep.

Memberi Peran Guru Pendidikan Agama

Suatu hari, pernah pagi-pagi di salah satu SD. Betapa hati ini merasa tenang dan ayem ketika melihat anak-anak SD mengaji juz amma. Bareng-bareng.

Ternyata, tradisi SD kalih mengaji ini sudah banyak yang menerapkan. Bahkan, sampai saat ini masih terdapat SD-SD menjalankan mengaji sebelum jam mata pelajaran bermula.

Estafet SD mengaji ini masih terjaga. Terlebih pada 2019-2020, dinas pendidikan pernah memiliki program SD Mengaji. Sama konsepnya, yakni mengaji dan menghafal juz amma. Saban pagi.

Nantinya, mengajinya tidak harus di kelas. Boleh di teras. Bisa di musala. Atau di halaman sekolah yang teduh. Menggelar tikar, duduk lesehan, bareng.

SD kalih mengaji adalah hal baru. Sehingga, dalam kegiatan belajar mengajar, praktik hafalan juz amma ini bisa menjadi pembiasaan. Bukan lagi ektrakurikuler. Arahnya sekolah menerapkan konsep pembiasaan.

Tantangan keinginan bupati bahwa lulusan SD hafal juz amma perlu dimulai. Sambil berjalan, dan evaluasi.

Baca Juga :  Menteri Sosial Gus Ipul Tilik Sekolah Rakyat Bojonegoro, Dialog dengan Siswa dan Wali Siswa

Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro memiliki sekitar 600 guru pendidikan agama. Hampir setiap sekolah memiliki guru mapel pendidikan agama.

Nah, konsep awal, guru-guru pendidikan agama, bisa menjadi person in charge (PIC). Guru agama bisa menjadi pendidik yang mendapat amanah menyukseskan siswa SD hafal juz amma.

Berbekal guru pendidikan agama, tentu hafalan juz amma, semoga bisa terlaksana.

Namun, ada guyonan datang. Kalau siswa SD harus hafal juz amma, jangan-jangan gurunya tidak hafal. Hehehe. Nah, inilah tantangannya. Hal baru, perlu budaya dan kebiasaan.

Prestasi Bisa Jadi Nilai Akademik SPMB

Untuk apa SD harus hafal juz amma. Ternyata, Bupati dan Wabup mengajak siswa SD hafal juz amma, nantinya mendapat apresiasi. Ada sertifikasi atau mendapat sertifikat.

Nantinya, bisa bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) dalam ujian atau munaqasah. LPTQ memiliki seperangkat konsep dalam tilawatilquran tersebut.

Sertifikat ini bisa bermanfaat untuk mengikuti seleksi penerimaan murid baru (SPMB). Terutama bisa untuk jalur akademik. Menghafal Alquran bagian dari prestasi saat penerimaan murid baru. Baik jenjang SMP, SMA dan perguruan tinggi. Ada beragam beasiswa dari mahasiswa hafiz Alquran.

Secara penilaian, sertifikat hafal juz amma ini setara dengan juara dua lomba tingkat kabupaten. Berdasar penilaian sertifikat, angkanya yakni nilai 15. Tentu, angka besar untuk mengikuti jalur akademik dalam SPMB.

Nah, mulai sekarang, mari mengurangi menggunakan HP. Yuk, sambut hafalan juz amma.

Seperti makan bergizi gratis (MBG) memberi tambahan gizi dan nutrisi. Nah, hafalan juz amma ini memberi asupan generasi religi berbudi pekerti. (*/kza)

*Tulisan persepsi ini hasil wawancara dengan jurnalis Bojonegoro Raya.