Ludruk, Sandur, Ketoprak, dan Cerkak, Makin Akrab di Kalangan Pelajar Bojonegoro

04/11/2026
KESENIAN: Atraksi para siswa saat pementasan budaya Jawa di SMPN 5 Bojonegoro. Kalangan pelajar makin akrab dengan sandur, ketoprak, ludruk, hingga cerkak. (Foto: SMPN 5 untuk Bojonegoro Raya).

BOJONEGORORAYA – Siswa-siswi di Bojonegoro semakin akrab dengan kesenian, kebudayaan, dan sastra Jawa. Sejak di pendidikan dasar, siswa mulai belajar ketoprak, ludruk, sandur, geguritan, dan menulis cerkak.

Beberapa sekolah terutama sekolah menengah pertama (SMP) sederajat di Bojonegoro banyak yang mahir melakonkan peran. Bercerita menggunakan sastra Jawa.

Bertutur logat jonegaran, sebutan Bojonegoro. Menjadi kegiatan ekstra para siswa. Banyaknya lomba dan workshop kesenian menjadi katalisatornya tumbuhnya tunas-tunas usia dini dalam kebudayaan Jawa.

Wakil Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa SMP Bojonegoro Nurlila mengugkapkan, kesenian dan kebudayaan lokal terus tumbuh. Bergeliat di kalangan pelajar.

Terlebih, Pemkab Bojonegoro menggalakkan program memperkenalkan budaya lokal kepada para pelajar. Sejak usia dini.

“Saat ini bergeliat, melibatkan siswa pada pagelaran-pagelaran yang bertajuk kesenian lokal,” tuturnya kepada Bojonegoro Raya Selasa (3/10/26).

Lila menegaskan, beragam workshop dan lomba berkaitan dengan kebudayaan lokal menjadi daya dorong. Seperti lomba bertutur, lomba mendongeng logat jonegaran oleh Dinas Perpustaakaan dan Kearsipan (Dispusip) Bojonegoro.

“Ada workshop dan lomba mendongeng. Menulis cerkak, geguritan, kaligrafi pakai aksara Jawa targetnya siswa SD dan SMP,” bebernya.

BUDAYA: Siswa-siswi pertunjukan drama tari, pantomim, dan gamelan pada mata pelajaran bahasa Jawa di SMPN 5 Bojonegoro. (Foto: Istimewa)

MTs Pungpungan dengan Ketoprak Religi

Guru di SMPN 5 Bojonegoro itu membeberkan, beberapa sekolah sudah mementaskan pertunjukan ketoprak. Mengasah keterampilan bermain peran.

Paling getol itu di MTs Pungpungan, Kecamatan Kalitidu, dengan ketoprak religinya. Sementara SMP di Sugihwaras masih ketoprak asli. Original.

“Jadi sudah ada titik-titiknya sendiri. Kalau di SMPN 5 ada teater tapi lebih ke arah pantomim,” jelasnya.

Menurut Lila, kesenian ketoprak lebih melekat di kalangan pelajar SMP daripada ludruk. Meski keduanya sama-sama masuk dalam kurikulum pelajaran bahasa Jawa.

Ditambah satu kesenian lagi, yakni sandur. Saat ini di kalangan pelajar semakin akrab dengan sandur dan pementasan.

Baca Juga :  Meringis dan Menangis setelah Makan Bergizi Gratis

“Kalau ludruk jiwanya di anak-anak SMP belum dapat. Tapi, memang ludruk, ketoprak, dan sandur ada kurikulumnya di pelajaran bahasa Jawa,” tegasnya.

Lila mengatakan, banyak pelajar sudah sering pentas. Bermain peran. Namun lingkupnya terbatas. Hanya di tingkat lingkungan sekolah saja.

“Baru saja kemarin workshop sandur. Jadi masih belum untuk pentas di luar (sekolah). Perkiraan tahun depan katanya dari Disbudpar Bojonegoro,” ujarnya.

Disdik: Budaya Jawa Membuka Potensi Siswa

MGMP Bahasa Jawa, menurut Lila, mempunyai rencana untuk mengembangkan kebudayaan dan kesenian di kalangan pelajar.

Salah satunya, tahun depan berencana gelar sastra on the road. Namun, sastra on the road masih terkendala transportasi, untuk menjangkau sekolah-sekolah.

Rencana itu senapas dengan pengembangan pariwisata daerah. Terlebih saat ini destinasi wisata Geopark Bojonegoro sudah diakui UNESCO.

“Jadi kalau saja pemkab bisa membantu di transportasi misal 3 bulan sekali, sekalian mempromosikan tempat wisata itu menarik,” usulnya.

MGMP Bahasa Jawa, menurut Lila, berharap bisa menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Seperti disbudpar, dinas pendidikan, dispusip, Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB), serta sanggar-sanggar yang ada di Bojonegoro.

Kabid Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Bojonegoro M. Agus Anshori mengungkapkan, mengenalkan budaya lokal di tingkat pelajar menjadi agenda. Berlanjut memetakan potensi siswa.

Upayanya bisa dengan mengadakan lomba geguritan dan cerkak. Nantinya bisa mengetahui bakat-bakat para siswa. Mengerek mutu.

“Dengan begitu akan menjadi instrumen yang membuka peta potensi anak,” tutur Agus sapaan akrabnya.

Agus melanjutkan, jika potensi sudah tampak, pihaknya siap untuk mendukung. Hal itu dirasa penting untuk merawat kebudayaan dan bahasa lokal dengan logat Jonegaran.

“Harus kita uri-uri, lestarikan dengan baik. Ada banyak hal dari warisan leluhur kita yang harus lestari,” tutur alumni UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. (man/kza)

Baca Juga :  Angkutan Pelajar Gratis Bojonegoro Meluncur Lagi, Didanai APBD Rp 7,4 Miliar