Peluru Kosong
bunyi jarum jam
larut malam
kau tak menyerah kawan
lukamu masih hitam
belum selesai aku tambal
jahitan masih basah karena lelahmu
yang menyiksaku
benang dan kain telah dijual di pulau seberang
peluru itu tinggal satu
telah habis kau jual untuk membeli buku
buku para pendendam di dunia waktu
musuh-musuhmu masih menunggu
peluru itu tinggal satu
di pembaringanmu aku tak menemukan mimpi
yang seringkali kau ceritakan
tentang tanah leluhurmu yang dibantai
oleh ribuan peluru
jarum jam masih kudengar
lukamu tetap saja hitam
suara-suara sirene ambulan
ngiung … ngiung … ngiung ….
tiba-tiba mati oleh dendammu untuk negeri ini
ya, untuk mereka yang punya ribuan peluru
peluru itu tinggal satu kawan
simpan saja untukku
atau untuk para hantu di istana
yang berdasi dan sepatu licin
yang tak mendengar tangisan leluhurmu
adzan subuh masih jauh
kau masih tertidur
lepas sejenak dendam didadamu
yang belum sempat aku tambal
peluru itu tinggal satu
musuh-musuhmu masih menunggu
Tuban, 22 Desember 2021
Hadapkan Wajahmu
pada dunia
pada perempuan yang memandang
harga diri dari angka-angka
berjubel keinginan kekuasaan
rakyat di ‘puter giling’ menuju bimbang
memujamu ….
duhai kekasih ….
hadapkan wajahmu pada perempuan itu
perempuan yang melumatmu siang dan malam
menakar mimpi birahi
mencintai ….
Bojonegoro, 24 Oktober 2024
Bang Ochid
Peracik dan pedagang jamu di Pasar Tunggulrejo, Kecamatan Singgahan, Tuban


