BOJONEGORORAYA – Bunga-bunga putih bermekaran bersanding dengan pengeboran sumur minyak tua Teksas Wonocolo, Bojonegoro. Tidak layu. Justru mekar.
Tungku pemasak minyak mentah menyala, keanekaragaman hayati menyapa. Bunga putih dengan cabang merambat ini dari keluarga morning glory (Convolvulaceae) atau kangkung liar.
Tumbuhan dalam keluarga ini memiliki sifat biologis yang unik. Yakni, nyktinasi. Yaitu, tumbuhan yang respons terhadap cahaya matahari. Mekar di pagi hari. Sehingga disebut morning glory. Guna menarik perhatian lebah sebagai serangga penyerbuk.
Pantauan Bojonegoro Raya, tanaman merambat dengan bunga berwarna putih. Mekar. Indah. Bunga dengan cabang daun berbulu tipis itu kuncup ketika siang. Dedaunan hijau.
Mekar menjelang petang. Tumbuh tidak jauh dari tungku api dan terik sinar matahari. Bunga merambat menghiasai bentang alam Geopark Teksas Wonocolo.
Banyak keanekaragaman hayati tumbuh di antara pengeboran tradisional minyak sumur tua. Bertahan tumbuh di antara aroma lantung atau minyak mentah.
Sejumlah pemuda melakukan penelusuran keanekaragaman di kawasan Teksas Wonocolo, Selasa (19/5/2026). Menakjubkan. Menyimpan pesan alam atas ilmu dan pengetahuan.
“Kami melakukan telusur ini untuk melakukan observasi tentang Geopark Wonocolo,” tutur Muhammad Andre.

Menelusuri Keanekaragaman Hayati
Tanaman merambat tersebut menjadi bagian biodiversitas yang ada di kawasan minyak tua Teksas Wonocolo. Tumbuh bersamaan dengan berkembangnya kawasan pengeboran minyak terdangkal di dunia yang saat ini sedang diusulkan UNESCO Global Geopark (UGGp).
Menurut Andre, dalam penelusuran menemukan banyak keanekaragaman hayati. Penelusuran bersama. Mencatat data. Sebagai bahan diskusi dan menjaga keanegarman hayati melalui narasi.
‘’Kami juga menjumpai berbagai jenis hewan di tambang minyak tradisional ini,” tutur ketua Bojonegoro History tersebut.
Menurut Andre, keanekaragaman flora dan fauna menjadi potensi untuk penelitian para akademisi. Menambah khazanah pengetahuan yang bisa berkembang di kawasan pertambangan.
‘’Banyak yang menarik untuk penelitian dan ditulis secara ilmiah sebagai pengetahuan,” tutur pria suka membaca novel tersebut.
Sementara itu, Dosen Ilmu Lingkungan Universitas Bojonegoro (Unigoro) Laily Agustina mengatakan, dirinya belum bisa memastikan jenis tumbuhan yang berbunga di antara minyak tua. Sebab, penelitiannya masih berfokus keanekaragaman fauna.
‘’Kalau vegetasi saya belum ada data. Penelitian saya baru terkait makrozoobentos dan makrofauna tanah,” jelas ahli ilmu lingkungan tersebut.

Pohon Kersen Bertahan dan Meneduhkan
Purwanto salah satu pekerja di sumur minyak tua mengatakan, banyak tumbuh pohon keres atau kersen di pertambangan minyak sumur tua. Pohon itu bermanfaat untuk tempat berteduh dari sengatan sinar matahari. Teduh bersantai selepas kerja.
‘’Sejak dulu banyak pohon keres, kalau selesai bekerja istirahat di bawah pohon,” jelasnya.
Adapun, Purwanto setiap harinya menjaga tungku perapian untuk memasak lantung atau minyak mentah. Butuh waktu seharian penuh untuk proses penyulingan untuk memisahkan minyak dan air.
‘’Full seharian api harus menyala. Mulai jam 5 pagi hingga jam 5 sore,” jelasnya. (man/kza)

