Medhayoh Haji dan Asa Penggerak Mengentas Kemiskinan

Oleh: Nurul Azizah
Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro

——————–

SELAMAT datang Pak Haji dan Bu Haji. Selamat datang di Bumi Rajekwesi lagi. Sugeng rawuh para penggerak agama. Marhaban para tamu Allah yang kembali menyapa keluarga dan tetangga.

Rentetan jemaah haji Bojonegoro sudah tiba di kampung halaman. Bermula Minggu (29/6/2025), ada 71 jemaah rawuh. Berlanjut, Senin (1/7/2025) kepulangan 861 jemaah dari kloter 63, kloter 64, dan kloter 65.

Bersambung 346 jemaah haji kloter 66 akan tiba Rabu (2/7/2025) ini. Serta, menyusul 376 jemaah haji dari kloter 67. Isak tangis, berangkulan, berjabat tangan, tak bisa lepas. Bangga. Haru.

Sekitar 40 hari totalitas beribadah di rumah Allah SWT. Luar biasa. Nyantri totalitas. Tidak mikir dunia. Menjadi pribadi hebat. Pribadi terdidik. Pribadi yang menjaga dari dosa. Mengejar pahala. So, para jemaah haji ini: sang penggerak.

Penantian panjang telah tiba. Kerinduan mendalam para keluarga untuk kembali bersapa para jemaah haji. Kangen banget dari anak, saudara, kerabat, untuk para jemaah haji.

Saban hari yang menelpon hingga video call. Jarak Bojonegoro dan Makkah atau Madinah, hanya tertaut selisih waktu 4 jam. Kini, tidak lagi menelpon. Jemaah haji sudah tiba. Sudah di rumah.

Sudah berpeci putih. Berjilbab putih. Wajah cerah. Hati bungah. Jari-jemari tidak bisa lepas dari tasbih. Cetik-cetik, bunyi tasbih digital. Tawaduk. Adem.

Yang di rumah rindu, namun terkadang para jemaah haji justru merasa masih kangen nuansa Makkah dan Madinah. Merasa tidak ingin pulang. Betah berada di Masjidilharam dan Masjid Nabawi Madinah.

Kangen berdesakan saat thawaf. Rindu berjalan selama sa’i. Teringat celeguk minum air Zamzam. Hingga kerinduan panjangnya berjalan kaki berpanasan menuju Masjidilharam dan Masjid Nabawi untuk salat berjamaah. Lelah, tapi berkah. Barakah.

Baca Juga :  Dinkominfo Bojonegoro Raih Juara 3 JPRA 2025, Website Terbaik setelah Malang dan Surabaya 

Tradisi Medhayoh Haji

Medhayoh haji mulai bergerak. Kerabat, tetangga, dan masyarakat saling unjung atau silaturahmi ke rumah jemaah haji. Tradisi warga Bojonegoro, biasanya masyarakat silaturahmi ke rumah jemaah haji, sambil membawa bekal.

Nah, bentuk ucapan syukur, jemaah haji memberikan oleh-oleh kepada para tamu. Ada kurma, peci, jilbab, mukena, hingga busana muslim. Terutama doa dari pak kaji dan bu haji. Larut dalam doa. Hanyut dalam harapan dan pujian Tuhan.

Inilah tradisi yang menggerakkan ekonomi. Tradisi yang membudaya. Jemaah haji menjadi senang. Para tamu menjadi riang. Koneksi ibadah dan tradisi membudaya.

Cerita-cerita jemaah haji selama 40 hari di Makkah dan Madinah seperti nada irama. Ngangeni. Jenaka dalam kebaikan. Guyonan yang mendoakan. Inilah medhayoh haji yang selalu dinanti.

Jemaah haji harus pulang ke tanah air. Usai digembleng menjadi pribadi luhur dan agung, saatnya bersapa masyarakat. Menjadi penggerak warga. Menjadi pendorong warga berbondong-bondong menjadi pribadi luhur.

Penggerak Ibadah dan Berdakwah Mengentas Kemiskinan

Jemaah haji Bojonegoro ini menyebar. Hampir 90 persen jumlah desa, terdapat jemaah haji yang berangkat. Nah, kehadiran para pak haji dan bu haji ini menjadi penggerak warga.

Mengajak kebaikan. Mencegah kemungkaran. Mengajak berjamaah di musala dan masjid. Menjadi pribadi hebat. Pribadi penggerak keagamaan.

Tentu kehadiran pak haji dan bu haji inilah membantu pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang madani. Masyarakat yang ahlus sunnah wal jamaah.

Pak haji dan bu haji menjadi penggerak warga. Meneguhkan silaturahmi. Saling mengingatkan. Saling membantu. Tentu kampungnya menjadi adem. Nyes.

Eksistensi pak haji dan bu haji inilah kami tunggu untuk membantu ulama, kiai, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk membangun masyarakat SDM berkualitas, unggul, berbudaya, berakhlak, dan bahagia.

Baca Juga :  Menelisik Distorsi Makna Perayaan Tahun Baru

Pak haji dan bu haji ini bisa sesarengan dengan Pemkab Bojonegoro dengan tugas mulia. Yakni, bersama saling membantu mengurangi kemiskinan. Bersama berdakwah mengentas kemiskinan. Sebagaimana agama juga mengajak memerangi kemiskinan.

Keberadaan pak haji dan bu haji juga menjadi motor mendorong peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM). Serta, bersinergi dalam pertumbuhan ekonomi Bojonegoro.

Ketika pak haji dan bu haji ini menjadi penggerak, sudah saatnya masyarakat Bojonegoro menunjukkan bahwa kita bisa hidup guyub. Bojonegoro yang membanggakan.

Ketika nuansa Bojonegoro adem ini terjaga, tentu ekonomi bisa tertata.  Pasar berdaya. Investasi menjadi mudah. Perputaran uang merata. Daya beli terjaga. Bertani menjadi ibadah. Dan, Roda pemerintahan menjadi barakah.

Saudaraku pak haji dan bu haji, berbahagialah menjadi penggerak Bojonegoro. Bahu-membahu. Sesarengan. Bebarengan menjaga Bojonegoro ini mewujudkan masyarakat yang bahagia, makmur, dan membanggakan. Barakah. (*/kza)

*Tulisan ini dinarasikan dari wawancara dengan jurnalis Bojonegoro Raya.

error: Content is protected !!